JAYAPURA – Fenomena alam yang memperlihatkan hamparan jutaan batu apung (pumice) menutupi perairan utara Papua mendadak viral dan menggegerkan jagat maya belakangan ini.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, material vulkanik tersebut mengapung sangat rapat hingga menyerupai daratan baru, bahkan sebagian besar di antaranya telah terdampar dan menggunung di sepanjang bibir pantai Kabupaten Sarmi dan Kabupaten Biak Numfor. Fenomena asing ini sempat memicu kepanikan warga lokal yang menduga adanya aktivitas gunung berapi baru yang terbangun di dasar laut bumi cenderawasih.
Menanggapi fenomena yang viral tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Maritim Jayapura segera melakukan penelusuran. BMKG memberikan penjelasan resmi terkait asal-usul, kronologi pergerakan, hingga potensi dampak dari material vulkanik yang meluas di perairan Bumi Cenderawasih tersebut.
Kepala Stasiun BMKG Maritim Jayapura, Heri Purnomo, menjelaskan batu apung tersebut bukan dari aktivitas vulkanik di daratan maupun perairan dalam wilayah Indonesia. Melainkan, hasil dari muntahan gunung berapi bawah laut yang berada di wilayah negara tetangga, Papua Nugini (PNG).
“Berdasarkan penelusuran kami melalui pantauan citra satelit dan koordinasi maritim, terdapat aktivitas letusan gunung berapi bawah laut di kawasan Laut Bismarck, sebelah utara Papua Nugini. Penumpukan lava dari erupsi tersebut telah menghasilkan massa batu apung berskala besar yang kemudian mengapung ke permukaan laut pada sekitar, tanggal 8 Juni 2026 di sekitaran Selat Loniu,” kata Heri kepada Cenderawasih Pos, Jumat (10/2).
Heri menambahkan, material batu apung memiliki karakteristik massa jenis yang lebih ringan daripada air karena dipenuhi rongga gas hasil pembekuan cepat magma. Hal ini menyebabkannya dapat bertahan di permukaan laut dalam waktu yang cukup lama dan bergerak bebas mengikuti dinamika alam.
Setelah memadati permukaan Selat Loniu di Papua Nugini pada awal Juni, tumpukan batu apung tersebut perlahan bergerak melintasi batas negara. Pola pergerakan material ini sepenuhnya dikendalikan oleh arah angin dan arus laut permukaan yang tengah dominan di perairan utara Pasifik.
“Berdasarkan analisis pergerakan arus permukaan laut yang kami lakukan, kondisi arus pada periode tersebut bergerak konsisten ke arah barat. Pola inilah yang membawa material batu apung hanyut hingga masuk ke wilayah Indonesia, terpantau melewati Selat Swanggara, dan akhirnya terdampar secara masif di pesisir Sarmi hingga Biak,” ujar Heri.
BMKG juga menegaskan bahwa fenomena ini murni merupakan material kiriman. Pihaknya meluruskan spekulasi warga yang menduga adanya kemunculan gunung api aktif baru di perut bumi Papua. “Sampai saat ini, berdasarkan data geologis yang ada, wilayah perairan Papua Indonesia tidak memiliki catatan adanya gunung berapi bawah laut yang aktif. Namun kalau berkaitan secara detail apakah ada struktur gunung api muda yang berpotensi aktif di bawah laut sekitar sini, tentu itu ranah dari pihak Badan Geologi dan Vulkanologi yang memiliki wewenang untuk meneliti lebih lanjut,” jelas Heri.
Dampak Lingkungan kata Heri akan menyebabkan pendangkalan pesisir dan menyerupai daratan baru. BMKG menilai fenomena ini perlu mendapat perhatian khusus dari instansi terkait, terutama mengenai dampaknya terhadap ekosistem laut dangkal.
“Kalau ditanya apakah fenomena ini membahayakan masyarakat secara signifikan, tentu perlu ada penelitian berkala dan lebih lanjut di lapangan. Namun, dampak yang sudah pasti terjadi akibat tumpukan material tersebut adalah sedimentasi dan pendangkalan di kawasan pesisir,” ungkap Heri.
Lebih lanjut, jika batu-batu tersebut pecah dan mengendap di dasar pantai, dikhawatirkan dapat mengganggu ekosistem terumbu karang serta mengotori area pemijahan ikan di sekitar teluk dan hutan bakau (mangrove). Selain dampak lingkungan, keberadaan batu apung dalam jumlah masif di permukaan laut juga berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas laut. Serpihan batu yang menyumbat saluran pendingin mesin kapal atau menghantam baling-baling (propeller) dapat memicu kerusakan teknis pada kapal nelayan maupun kapal cepat (speedboat).
BMKG menjelaskan bahwa secara alami material ini akan terus terurai, sebagian hanyut terbawa arus keluar teluk, dan sebagian lagi menetap menjadi sedimen pantai. Kendati demikian, pihak otoritas keselamatan pelayaran dipastikan sudah melakukan langkah antisipasi.
“Kami mengimbau para nelayan dan motoris kapal di sepanjang perairan Sarmi dan Biak untuk meningkatkan kewaspadaan saat melaut. Jika tumpukan batu apung tersebut sekiranya dirasa sudah sangat mengganggu dan membahayakan jalur transportasi laut utama, kami meyakini pihak pelayaran bersama syahbandar setempat pasti akan segera melakukan pembersihan dan antisipasi demi keselamatan berlayar,” pungkas Heri. (jim/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOSÂ https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q