​Penataan Pasar Harus Diikuti Pengawasan yang Konsisten

​JAYAPURA – Penertiban dan penataan ruang di kawasan Pasar Abepura, Youtefa, hingga Pasar Otonom yang dipimpin Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura pada Rabu (7/10) memicu babak baru penataan pusat ekonomi rakyat.

  Di satu sisi, langkah tegas tim terpadu berhasil memindahkan pedagang liar dari bahu jalan dan area parkir ke dalam los pasar. Namun di sisi lain, kepindahan tersebut menyisakan tumpukan keluhan fasilitas dasar yang mendesak untuk segera dibenahi oleh pemerintah daerah.

   Suara nyaring datang dari kalangan pedagang asli Papua yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidup di kawasan tersebut. Mama Seli Gobay, salah seorang pedagang hasil kebun, menceritakan bahwa alasan utama mama-mama Papua sempat memilih berjualan di pinggiran jalan raya adalah karena sepinya pembeli di area dalam pasar.

  “Memang selama berapa tahun itu kita jual di pinggiran jalan raya di sana. Di dalam ini ada yang mengisi, ada yang di luar, makanya orang jarang beli. Jadi makanya mama-mama keluar untuk jual di pinggiran jalan. Setelah ada penertiban dari pemerintah dan semua disuruh masuk, baru kita rasa nyaman,” ungkap Mama Seli, kepada Cenderawasih Pos di Pasar Otonom, Rabu (7/10).

Baca Juga :  Safari ke Kelurahan, Pemkot Pastikan Kegiatan Pemerintah Berjalan

  Meski mengapresiasi upaya pemerintah yang mengarahkan seluruh pedagang masuk ke dalam gedung, Mama Seli menyoroti banyaknya fasilitas pendukung yang tidak berfungsi atau rusak.

   Ia membeberkan bahwa para pedagang kerap merasa kewalahan menghadapi kondisi lapak yang minim penerangan karena lampu los mati, talang air bagian atas yang berlubang sehingga kerap bocor saat hujan deras, pasokan air bersih yang minim, hingga tidak tersedianya alat kebersihan dasar seperti sapu pel.

  “Kalau hujan, di samping-samping ini kita bisa kena panas dan kena hujan. Kami yang tinggal di dalam kota ini kebanyakan bergantung dari jual beli. Jadi apabila ada dana Otonomi Khusus (Otsus), tolong perhatian keluhan kami ini. Kita di sini juga tidak mau lihat pasar kotor lagi,” cetusnya.

Baca Juga :  Sekolah Apresiasi Langkah Pemkot Jayapura

  Apresiasi senada juga disampaikan oleh Mama Iche (51), pedagang sayur lainnya. Ia menilai penertiban oleh Pemkot Jayapura memberikan rasa aman dan mampu membersihkan lingkungan pasar dari aktivitas yang tidak diinginkan.

  Namun, nada peringatan disampaikan oleh La Ode (47), pedagang campuran di Pasar Otonom. Ia meminta Pemkot Jayapura tidak hanya melakukan tindakan sporadis, melainkan harus menempatkan petugas pengawas secara berkala.

  Ia mengkhawatirkan munculnya kembali oknum pedagang yang nekat mendirikan ulang bangunan atau lapak liar di lokasi yang telah ditertibkan. Selain itu, ia mengingatkan agar Pemkot Jayapura memastikan penyiapan tempat yang memadai bagi seluruh korban penertiban guna mencegah timbulnya kekecewaan pedagang.

​JAYAPURA – Penertiban dan penataan ruang di kawasan Pasar Abepura, Youtefa, hingga Pasar Otonom yang dipimpin Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura pada Rabu (7/10) memicu babak baru penataan pusat ekonomi rakyat.

  Di satu sisi, langkah tegas tim terpadu berhasil memindahkan pedagang liar dari bahu jalan dan area parkir ke dalam los pasar. Namun di sisi lain, kepindahan tersebut menyisakan tumpukan keluhan fasilitas dasar yang mendesak untuk segera dibenahi oleh pemerintah daerah.

   Suara nyaring datang dari kalangan pedagang asli Papua yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidup di kawasan tersebut. Mama Seli Gobay, salah seorang pedagang hasil kebun, menceritakan bahwa alasan utama mama-mama Papua sempat memilih berjualan di pinggiran jalan raya adalah karena sepinya pembeli di area dalam pasar.

  “Memang selama berapa tahun itu kita jual di pinggiran jalan raya di sana. Di dalam ini ada yang mengisi, ada yang di luar, makanya orang jarang beli. Jadi makanya mama-mama keluar untuk jual di pinggiran jalan. Setelah ada penertiban dari pemerintah dan semua disuruh masuk, baru kita rasa nyaman,” ungkap Mama Seli, kepada Cenderawasih Pos di Pasar Otonom, Rabu (7/10).

Baca Juga :  Ini Agenda Mensos di Jayapura

  Meski mengapresiasi upaya pemerintah yang mengarahkan seluruh pedagang masuk ke dalam gedung, Mama Seli menyoroti banyaknya fasilitas pendukung yang tidak berfungsi atau rusak.

   Ia membeberkan bahwa para pedagang kerap merasa kewalahan menghadapi kondisi lapak yang minim penerangan karena lampu los mati, talang air bagian atas yang berlubang sehingga kerap bocor saat hujan deras, pasokan air bersih yang minim, hingga tidak tersedianya alat kebersihan dasar seperti sapu pel.

  “Kalau hujan, di samping-samping ini kita bisa kena panas dan kena hujan. Kami yang tinggal di dalam kota ini kebanyakan bergantung dari jual beli. Jadi apabila ada dana Otonomi Khusus (Otsus), tolong perhatian keluhan kami ini. Kita di sini juga tidak mau lihat pasar kotor lagi,” cetusnya.

Baca Juga :  Kementerian Kominfo Bangun Empat BTS di Daerah Terluar 

  Apresiasi senada juga disampaikan oleh Mama Iche (51), pedagang sayur lainnya. Ia menilai penertiban oleh Pemkot Jayapura memberikan rasa aman dan mampu membersihkan lingkungan pasar dari aktivitas yang tidak diinginkan.

  Namun, nada peringatan disampaikan oleh La Ode (47), pedagang campuran di Pasar Otonom. Ia meminta Pemkot Jayapura tidak hanya melakukan tindakan sporadis, melainkan harus menempatkan petugas pengawas secara berkala.

  Ia mengkhawatirkan munculnya kembali oknum pedagang yang nekat mendirikan ulang bangunan atau lapak liar di lokasi yang telah ditertibkan. Selain itu, ia mengingatkan agar Pemkot Jayapura memastikan penyiapan tempat yang memadai bagi seluruh korban penertiban guna mencegah timbulnya kekecewaan pedagang.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya