Menurutnya, kekayaan alam Papua yang melimpah harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga dan melestarikannya. “Di sekolah, kami menerapkan tema khusus melalui Program OCEAN. Kami ingin anak-anak belajar dengan cara yang menyenangkan. Salah satunya dengan mengajak mereka menyanyikan yel-yel tematik tentang laut dan alam. Melalui metode ini, pesan-pesan konservasi lebih mudah diterima, dicintai, dan diingat oleh anak-anak,” ungkap Felda di sela-sela kegiatan.
Ia menambahkan, pembentukan karakter peduli lingkungan tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus dibiasakan sejak dini melalui rutinitas dan kurikulum sekolah yang aplikatif. Diskusi Kolaborasi ini bukan sekadar perkenalan program, melainkan ajang untuk membangun sinergi antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat luas.
Melalui pilar Ocean, Conservation, Education, and Nature, Sekolah AHP memfokuskan pendidikannya pada ranah krusial lingkungan hidup Papua yang meliputi: Mengedukasi murid tentang pentingnya menjaga kebersihan pantai, terumbu karang, serta biota laut Papua.
Mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan aliran sungai dari sampah plastik agar tidak mencemari muara. Mengenalkan fungsi vital hutan hujan Papua sebagai paru-paru dunia dan benteng keanekaragaman hayati. Serta membiasakan gaya hidup ramah lingkungan, mulai dari memilah sampah hingga gerakan penanaman pohon.
“Kami sangat mengapresiasi dukungan dari pemerintah dan rekan-rekan media yang berkenan hadir untuk meliput kegiatan ini. Publikasi yang masif sangat penting agar semangat menjaga kelautan, sungai, kehutanan, dan lingkungan Papua ini tidak berhenti di sekolah kami saja, tetapi menjadi gerakan kolektif seluruh masyarakat Papua,” tutup Felda.
Menurutnya, kekayaan alam Papua yang melimpah harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga dan melestarikannya. “Di sekolah, kami menerapkan tema khusus melalui Program OCEAN. Kami ingin anak-anak belajar dengan cara yang menyenangkan. Salah satunya dengan mengajak mereka menyanyikan yel-yel tematik tentang laut dan alam. Melalui metode ini, pesan-pesan konservasi lebih mudah diterima, dicintai, dan diingat oleh anak-anak,” ungkap Felda di sela-sela kegiatan.
Ia menambahkan, pembentukan karakter peduli lingkungan tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus dibiasakan sejak dini melalui rutinitas dan kurikulum sekolah yang aplikatif. Diskusi Kolaborasi ini bukan sekadar perkenalan program, melainkan ajang untuk membangun sinergi antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat luas.
Melalui pilar Ocean, Conservation, Education, and Nature, Sekolah AHP memfokuskan pendidikannya pada ranah krusial lingkungan hidup Papua yang meliputi: Mengedukasi murid tentang pentingnya menjaga kebersihan pantai, terumbu karang, serta biota laut Papua.
Mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan aliran sungai dari sampah plastik agar tidak mencemari muara. Mengenalkan fungsi vital hutan hujan Papua sebagai paru-paru dunia dan benteng keanekaragaman hayati. Serta membiasakan gaya hidup ramah lingkungan, mulai dari memilah sampah hingga gerakan penanaman pohon.
“Kami sangat mengapresiasi dukungan dari pemerintah dan rekan-rekan media yang berkenan hadir untuk meliput kegiatan ini. Publikasi yang masif sangat penting agar semangat menjaga kelautan, sungai, kehutanan, dan lingkungan Papua ini tidak berhenti di sekolah kami saja, tetapi menjadi gerakan kolektif seluruh masyarakat Papua,” tutup Felda.