MIMIKA – Situasi dan kondisi di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama kini terpantau kondusif setelah konflik berkepanjangan yang memakan waktu kurang lebih tiga bulan, sejak Oktober 2025. Kapolsek Kwamki Narama, Iptu Yusak Sawaki saat ditemui, Minggu (25/1/2026) membenarkan hal tersebut.
“Terkait situasi di Kwamki Narama sampai saat ini aman dan kondusif. Tidak ada lagi masyarakat yang memegang alat tajam seperti panah, parang dan tombak dan lain-lain. Untuk (aktivitas,red) sekolah-sekolah sudah berjalan, puskesmas, dan distrik juga sudah berjalan dengan baik sampai sekarang,” kata Ipt Yusak.
Seperti diketahui, pada Senin 12 Januari 2026 lalu, dua kubu terlibat konflik, yakni kubu Dang dan kubu Newegalen telah menjalani salah satu dari serangkaian prosesi perdamaian atas perang yang telah menelan 11 korban jiwa tersebut.
Perang yang diakibatkan oleh kasus perselingkuhan ini pertama kali pecah pada Selasa 14 Oktober 2025. Selama perang berlangsung, selain 11 orang korban jiwa, puluhan orang lainnya mengalami luka akibat terkena panah.
Meski saat ini sudah dilakukan ritual adat panah babi dan patah panah, namun kata Iptu Yusak masih ada tiga tahapan perdamaian lagi yang harus diselesaikan oleh kedua belah pihak. Tiga tahapan itu adalah bakar batu, cuci darah dan cuci tangan.
MIMIKA – Situasi dan kondisi di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama kini terpantau kondusif setelah konflik berkepanjangan yang memakan waktu kurang lebih tiga bulan, sejak Oktober 2025. Kapolsek Kwamki Narama, Iptu Yusak Sawaki saat ditemui, Minggu (25/1/2026) membenarkan hal tersebut.
“Terkait situasi di Kwamki Narama sampai saat ini aman dan kondusif. Tidak ada lagi masyarakat yang memegang alat tajam seperti panah, parang dan tombak dan lain-lain. Untuk (aktivitas,red) sekolah-sekolah sudah berjalan, puskesmas, dan distrik juga sudah berjalan dengan baik sampai sekarang,” kata Ipt Yusak.
Seperti diketahui, pada Senin 12 Januari 2026 lalu, dua kubu terlibat konflik, yakni kubu Dang dan kubu Newegalen telah menjalani salah satu dari serangkaian prosesi perdamaian atas perang yang telah menelan 11 korban jiwa tersebut.
Perang yang diakibatkan oleh kasus perselingkuhan ini pertama kali pecah pada Selasa 14 Oktober 2025. Selama perang berlangsung, selain 11 orang korban jiwa, puluhan orang lainnya mengalami luka akibat terkena panah.
Meski saat ini sudah dilakukan ritual adat panah babi dan patah panah, namun kata Iptu Yusak masih ada tiga tahapan perdamaian lagi yang harus diselesaikan oleh kedua belah pihak. Tiga tahapan itu adalah bakar batu, cuci darah dan cuci tangan.