Stunting dan Malaria Jadi Ancaman Ganda Anak di Mimika

MIMIKA – Ancaman terhadap masa depan generasi muda di Kabupaten Mimika kini hadir dalam dua rupa yang saling mengunci, yaitu stunting dan malaria.  Direktur Amungsa Foundation, dr. Enny Kenangalem, mengungkapkan bahwa masalah tengkes atau stunting masih menjadi persoalan krusial, terutama pada anak di bawah usia dua tahun.

Kondisi ini kian mengkhawatirkan karena diperparah oleh tingginya paparan infeksi malaria yang secara langsung merongrong status gizi anak-anak serta ibu hamil di wilayah tersebut.

Meski program intervensi seperti pembagian Tablet Tambah Darah (TTD) sudah berjalan, faktanya lebih dari 60 persen ibu hamil belum mengonsumsinya sesuai standar.

“Ketidakpatuhan ini memicu risiko anemia yang tidak hanya membahayakan ibu, tetapi juga memicu komplikasi pada janin yang dikandungnya,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4).

Baca Juga :  Kasus 9 Ton BBM Ilegal Masih Dalam Tahap Pemeriksaan Saksi

Meskipun infrastruktur kesehatan dasar seperti Posyandu, Pustu, dan Puskesmas telah tersebar, efektivitas layanan masih terganjal tembok besar bernama aksesibilitas dan kualitas.

Di wilayah terpencil Mimika, tantangan geografis yang ekstrem dan keterbatasan sarana prasarana membuat layanan kesehatan sulit dijangkau secara merata.

Selain itu, kapasitas kader di tingkat kampung yang belum optimal serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang rendah kian menyulitkan keluarga dalam menyediakan asupan gizi yang layak.

MIMIKA – Ancaman terhadap masa depan generasi muda di Kabupaten Mimika kini hadir dalam dua rupa yang saling mengunci, yaitu stunting dan malaria.  Direktur Amungsa Foundation, dr. Enny Kenangalem, mengungkapkan bahwa masalah tengkes atau stunting masih menjadi persoalan krusial, terutama pada anak di bawah usia dua tahun.

Kondisi ini kian mengkhawatirkan karena diperparah oleh tingginya paparan infeksi malaria yang secara langsung merongrong status gizi anak-anak serta ibu hamil di wilayah tersebut.

Meski program intervensi seperti pembagian Tablet Tambah Darah (TTD) sudah berjalan, faktanya lebih dari 60 persen ibu hamil belum mengonsumsinya sesuai standar.

“Ketidakpatuhan ini memicu risiko anemia yang tidak hanya membahayakan ibu, tetapi juga memicu komplikasi pada janin yang dikandungnya,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4).

Baca Juga :  Kasus Perlindungan Anak Paling Dominan

Meskipun infrastruktur kesehatan dasar seperti Posyandu, Pustu, dan Puskesmas telah tersebar, efektivitas layanan masih terganjal tembok besar bernama aksesibilitas dan kualitas.

Di wilayah terpencil Mimika, tantangan geografis yang ekstrem dan keterbatasan sarana prasarana membuat layanan kesehatan sulit dijangkau secara merata.

Selain itu, kapasitas kader di tingkat kampung yang belum optimal serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang rendah kian menyulitkan keluarga dalam menyediakan asupan gizi yang layak.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya