MIMIKA – PT Freeport Indonesia (PTFI) melepaskan (restocking) 10.000 bibit ikan baramundi dan 1.000 kepiting bakau di pesisir Mimika untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir sekaligus menjaga keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat di pesisir Selatan Mimika. Vice President Environmental PTFI Gesang Setyadi mengatakan program restocking merupakan upaya menjaga keberlanjutan populasi ikan baramundi dan kepiting bakau yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta menjadi sumber mata pencaharian penting bagi nelayan dan masyarakat Kamoro di Mimika.
“Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari penelitian dan kerja sama PTFI dengan Universitas Papua (UNIPA) dalam survei perikanan yang menunjukkan meningkatnya kebutuhuan ikan dan kepiting,” ujar Gesang dalam keterangan resmi kepada media ini, Minggu (31/5).
“Program ini juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasional,” lanjutnya.
Gesang menambahkan selain menjaga keseimbangan populasi ikan dan kepiting, program ini adalah bagian dari pemenuhan kewajiban PTFI terhadap persetujuan teknis yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada tahun 2023. PTFI wajib melakukan upaya peningkatan jasa ekosistem mangrove di wilayah pesisir.
“Sebelumnya pada 2025 lalu, PTFI juga telah melakukan pelepasan 10 ribu anakan ikan baramundi dan 500 indukan kepiting bakau di Muara Ajkwa. Program tersebut direncanakan berlangsung secara berkelanjutan sebagai bagian dari komitmen perusahaan menjaga keberlangsungan ekosistem pesisir Papua Tengah,” kata Gesang.
MIMIKA – PT Freeport Indonesia (PTFI) melepaskan (restocking) 10.000 bibit ikan baramundi dan 1.000 kepiting bakau di pesisir Mimika untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir sekaligus menjaga keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat di pesisir Selatan Mimika. Vice President Environmental PTFI Gesang Setyadi mengatakan program restocking merupakan upaya menjaga keberlanjutan populasi ikan baramundi dan kepiting bakau yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta menjadi sumber mata pencaharian penting bagi nelayan dan masyarakat Kamoro di Mimika.
“Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari penelitian dan kerja sama PTFI dengan Universitas Papua (UNIPA) dalam survei perikanan yang menunjukkan meningkatnya kebutuhuan ikan dan kepiting,” ujar Gesang dalam keterangan resmi kepada media ini, Minggu (31/5).
“Program ini juga menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasional,” lanjutnya.
Gesang menambahkan selain menjaga keseimbangan populasi ikan dan kepiting, program ini adalah bagian dari pemenuhan kewajiban PTFI terhadap persetujuan teknis yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada tahun 2023. PTFI wajib melakukan upaya peningkatan jasa ekosistem mangrove di wilayah pesisir.
“Sebelumnya pada 2025 lalu, PTFI juga telah melakukan pelepasan 10 ribu anakan ikan baramundi dan 500 indukan kepiting bakau di Muara Ajkwa. Program tersebut direncanakan berlangsung secara berkelanjutan sebagai bagian dari komitmen perusahaan menjaga keberlangsungan ekosistem pesisir Papua Tengah,” kata Gesang.