SENTANI – Kepala Bagian Sosial Budaya Bappeda Kabupaten Jayapura, Hijrayani, mengatakan mulai 26 hingga 30 Januari mendatang, Pemerintah Kabupaten Jayapura akan melaksanakan aksi konvergensi stunting sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan stunting.
Menurutnya, rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan Aksi 1, yaitu analisis situasi, yang melibatkan seluruh perangkat daerah, distrik, serta Puskesmas. Pada tahap ini, seluruh pihak diminta memetakan berbagai permasalahan yang dihadapi di kampung-kampung yang menjadi penyebab terjadinya stunting pada anak.
“Melalui analisis situasi ini, kami ingin mengetahui secara detail akar permasalahan di lapangan. Ada tujuh faktor determinan yang memengaruhi terjadinya stunting pada anak,” jelas Hijrayani.
Ia menyebutkan, faktor-faktor tersebut antara lain kondisi gizi ibu dan anak, sanitasi lingkungan yang buruk, rumah yang kurang layak huni, serta ketahanan pangan keluarga yang masih rendah. Selain itu, pemanfaatan pekarangan rumah yang belum optimal dan minimnya pemahaman calon pengantin terkait kesehatan dan gizi keluarga juga menjadi faktor penyebab stunting.
Hijrayani juga mengungkapkan bahwa angka stunting di Kabupaten Jayapura mengalami peningkatan. Berdasarkan data tahun sebelumnya, jumlah anak stunting tercatat sebanyak 744 anak. Namun, hasil rekapitulasi terbaru dari seluruh Puskesmas menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus.
“Dari sekitar 4.785 bayi yang diukur, kami menemukan sebanyak 931 anak mengalami stunting, atau meningkat menjadi 19,76 persen,” ungkapnya.
SENTANI – Kepala Bagian Sosial Budaya Bappeda Kabupaten Jayapura, Hijrayani, mengatakan mulai 26 hingga 30 Januari mendatang, Pemerintah Kabupaten Jayapura akan melaksanakan aksi konvergensi stunting sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan stunting.
Menurutnya, rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan Aksi 1, yaitu analisis situasi, yang melibatkan seluruh perangkat daerah, distrik, serta Puskesmas. Pada tahap ini, seluruh pihak diminta memetakan berbagai permasalahan yang dihadapi di kampung-kampung yang menjadi penyebab terjadinya stunting pada anak.
“Melalui analisis situasi ini, kami ingin mengetahui secara detail akar permasalahan di lapangan. Ada tujuh faktor determinan yang memengaruhi terjadinya stunting pada anak,” jelas Hijrayani.
Ia menyebutkan, faktor-faktor tersebut antara lain kondisi gizi ibu dan anak, sanitasi lingkungan yang buruk, rumah yang kurang layak huni, serta ketahanan pangan keluarga yang masih rendah. Selain itu, pemanfaatan pekarangan rumah yang belum optimal dan minimnya pemahaman calon pengantin terkait kesehatan dan gizi keluarga juga menjadi faktor penyebab stunting.
Hijrayani juga mengungkapkan bahwa angka stunting di Kabupaten Jayapura mengalami peningkatan. Berdasarkan data tahun sebelumnya, jumlah anak stunting tercatat sebanyak 744 anak. Namun, hasil rekapitulasi terbaru dari seluruh Puskesmas menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus.
“Dari sekitar 4.785 bayi yang diukur, kami menemukan sebanyak 931 anak mengalami stunting, atau meningkat menjadi 19,76 persen,” ungkapnya.