alexametrics
26.7 C
Jayapura
Thursday, May 19, 2022

Tiga Jalur Perintis Penerbangan Diminta Dievaluasi

MERAUKE-  Kepala Bandara Mopah Merauke, Thomas Alfa Edison meminta dilakukan evaluasi terhadap 3 jalur perintis penerbangan.  Ketiga jalur perintis penerbangan yang  minta  dievaluasi tersebut  adalah jalur perintis Merauke-Ewer-Merauke, kemudian Merauke-Bomakia-Merauke dan  Merauke-Wanam-Merauke.

Untuk Merauke-Ewer-Merauke, Thomas Alfa Edison  meminta divaluasi  kembali karena saat ini sudah ada pesawat ATR  yang masuk ke Ewer  yakni Wings. Saat ini, harga  tiket  Merauke-Ewer-Merauke untuk Wings kata  dia adalah  Rp 1,6 juta. Sementara pesawat perintis dengan harga Rp 400 ribu, sehingga terjadi berbedaan yang menjolok. ‘’Nanti bisa menjadi temuan, sehingga  harus dievakuasi,’’ katanya.

Sementara untuk Merauke-Bomakia-Merauke kata dia, soal penumpang yang sepi setiap penerbangan. Karena rata-rata penumpang hanya sekitar 3 orang.   ‘’Yang ramai adalah jalur Bomakia-Tanah Merah-Bomakia. Kalau Merauke-Bomakia-Merauke selalu sepi,’’ terangnya.

Baca Juga :  RSUD Kembali Layani Rawat Inap Pasien Umum

Sedangkan Merauke-Wanam-Merauke memiliki kasus yang berbeda.  Thomas  mengaku, tidak menyebut bandara Wanam, tapi lapangan terbang (Lapter) Wanam. Karena  sebuah bandara sudah dilengkapi dengan fasilitas lain-lain sesuai  UU Penerbangan Pasal 1 point 33.  ‘’Semua yang tidak dikelola oleh perhubungan disebut Lapter atau air street,’’ terangnya.

Menurutnya, lapangan terbang yang ada di Wanam tersebut masih dikelola pihak ketiga  dalam hal ini masih  PT Djarmaru, perusahaan penangkap ikan  asal Tiongkok. Karena masih berstatus milik swasta sehingga tiket pesawat dari Merauke-Wanam-Merauke yang terbang kurang dari 1 jam dengan harga diatas Rp 1 juta. ‘’Kasihan masyarakat kalau tiket terlalku mahal sampai Rp 1,2 juta. Kasihan masyarakat,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Mayat Pria yang Ditemukan Membusuk Belum Terindentifikasi

Seharusnya, lanjut dia, Lapter tersebut diambil alih pemerintah daerah. Setelah diambil alih oleh pemerintah, kemudian dilakukan MoU antara pemerintah daerah untuk pihaknya kelola. ‘’Jadi Satker dibawah Merauke, sehingga tidak terjadi  penjualan tiket yang tidak terlalu besar seperti sekarang,’’ katanya.

Ditambahkan, tiket  diatur oleh pihak pengelola Lapter tersebut. ‘’Jadi susi juga atur harga tiket di sana. Makanya saya bilang, kalau tiket terlalu mahal lebih baik tutup,’’ tandasnya. (ulo/tho)   

MERAUKE-  Kepala Bandara Mopah Merauke, Thomas Alfa Edison meminta dilakukan evaluasi terhadap 3 jalur perintis penerbangan.  Ketiga jalur perintis penerbangan yang  minta  dievaluasi tersebut  adalah jalur perintis Merauke-Ewer-Merauke, kemudian Merauke-Bomakia-Merauke dan  Merauke-Wanam-Merauke.

Untuk Merauke-Ewer-Merauke, Thomas Alfa Edison  meminta divaluasi  kembali karena saat ini sudah ada pesawat ATR  yang masuk ke Ewer  yakni Wings. Saat ini, harga  tiket  Merauke-Ewer-Merauke untuk Wings kata  dia adalah  Rp 1,6 juta. Sementara pesawat perintis dengan harga Rp 400 ribu, sehingga terjadi berbedaan yang menjolok. ‘’Nanti bisa menjadi temuan, sehingga  harus dievakuasi,’’ katanya.

Sementara untuk Merauke-Bomakia-Merauke kata dia, soal penumpang yang sepi setiap penerbangan. Karena rata-rata penumpang hanya sekitar 3 orang.   ‘’Yang ramai adalah jalur Bomakia-Tanah Merah-Bomakia. Kalau Merauke-Bomakia-Merauke selalu sepi,’’ terangnya.

Baca Juga :  20 OPD Lowong, Diperebutkan 60 Pendaftar

Sedangkan Merauke-Wanam-Merauke memiliki kasus yang berbeda.  Thomas  mengaku, tidak menyebut bandara Wanam, tapi lapangan terbang (Lapter) Wanam. Karena  sebuah bandara sudah dilengkapi dengan fasilitas lain-lain sesuai  UU Penerbangan Pasal 1 point 33.  ‘’Semua yang tidak dikelola oleh perhubungan disebut Lapter atau air street,’’ terangnya.

Menurutnya, lapangan terbang yang ada di Wanam tersebut masih dikelola pihak ketiga  dalam hal ini masih  PT Djarmaru, perusahaan penangkap ikan  asal Tiongkok. Karena masih berstatus milik swasta sehingga tiket pesawat dari Merauke-Wanam-Merauke yang terbang kurang dari 1 jam dengan harga diatas Rp 1 juta. ‘’Kasihan masyarakat kalau tiket terlalku mahal sampai Rp 1,2 juta. Kasihan masyarakat,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Peserta Mama-mama Papua Tunjukkan Kebolehannya

Seharusnya, lanjut dia, Lapter tersebut diambil alih pemerintah daerah. Setelah diambil alih oleh pemerintah, kemudian dilakukan MoU antara pemerintah daerah untuk pihaknya kelola. ‘’Jadi Satker dibawah Merauke, sehingga tidak terjadi  penjualan tiket yang tidak terlalu besar seperti sekarang,’’ katanya.

Ditambahkan, tiket  diatur oleh pihak pengelola Lapter tersebut. ‘’Jadi susi juga atur harga tiket di sana. Makanya saya bilang, kalau tiket terlalu mahal lebih baik tutup,’’ tandasnya. (ulo/tho)   

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/