Stunting di Merauke Capai 17,4 Persen

MERAUKE – Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke menegaskan pentingnya penerapan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan Tata Laksana Gizi Buruk Terintegrasi di seluruh puskesmas sebagai upaya menekan angka stunting, gizi buruk, hingga kematian balita.

Berdasarkan data tahun 2025, prevalensi stunting di Kabupaten Merauke tercatat 17,4 persen atau sebanyak 1.462 balita. Angka tersebut memang sudah mendekati target nasional sebesar 14 persen, namun jumlah kasusnya masih menjadi perhatian serius.

“Kalau dipersentase memang sudah mendekati target nasional, tetapi kalau dilihat dari jumlahnya masih cukup banyak, yakni 1.462 balita,” ujar Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat pada Dinkes Kabupaten Merauke Winarti, ditemui Sabtu (10/7).

Selain stunting, kasus gizi buruk di Merauke tercatat sebanyak 152 balita atau 1,8 persen dari total balita usia 0–59 bulan. Sementara gizi kurang mencapai 506 balita atau 6 persen, dan wasting (kurus) sebanyak 658 balita atau 7,8 persen.

Baca Juga :  Nevil Muskita: Kami Juga Jadi Korban Pemalangan Karena Tidak Bisa Kerja    

Menurutnya, kondisi tersebut sangat berkaitan dengan kasus balita sakit. Anak yang mengalami gizi buruk lebih mudah terserang penyakit, sedangkan balita yang sering sakit berisiko mengalami penurunan status gizi hingga berujung pada gizi buruk maupun stunting.

Karena itu, Kementerian Kesehatan mengintegrasikan program MTBS dengan tata laksana gizi buruk agar penanganan balita di fasilitas kesehatan dapat dilakukan secara menyeluruh.

“Kalau tidak tertangani dengan baik, kondisi ini bisa mengakibatkan kematian bayi dan balita maupun meningkatkan angka stunting. Karena itu MTBS dan gizi buruk terintegrasi menjadi program prioritas nasional,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa kasus gizi buruk di Merauke tersebar di seluruh distrik dan tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan pangan. Meski Merauke dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, masih banyak keluarga yang belum menerapkan pola makan bergizi seimbang.

Baca Juga :  Plang Dicabut, KPK Menyurat ke Pemkeb Merauke   

“Menu gizi seimbang tidak harus mahal. Yang penting ada sumber karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Namun masih banyak keluarga yang belum memahami penyusunan menu seperti itu,” katanya.(ulo/wen)   

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

MERAUKE – Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke menegaskan pentingnya penerapan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan Tata Laksana Gizi Buruk Terintegrasi di seluruh puskesmas sebagai upaya menekan angka stunting, gizi buruk, hingga kematian balita.

Berdasarkan data tahun 2025, prevalensi stunting di Kabupaten Merauke tercatat 17,4 persen atau sebanyak 1.462 balita. Angka tersebut memang sudah mendekati target nasional sebesar 14 persen, namun jumlah kasusnya masih menjadi perhatian serius.

“Kalau dipersentase memang sudah mendekati target nasional, tetapi kalau dilihat dari jumlahnya masih cukup banyak, yakni 1.462 balita,” ujar Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat pada Dinkes Kabupaten Merauke Winarti, ditemui Sabtu (10/7).

Selain stunting, kasus gizi buruk di Merauke tercatat sebanyak 152 balita atau 1,8 persen dari total balita usia 0–59 bulan. Sementara gizi kurang mencapai 506 balita atau 6 persen, dan wasting (kurus) sebanyak 658 balita atau 7,8 persen.

Baca Juga :  Sergius  Womsiwor  Terpilih Jadi Ketua Adat Biak Merauke 

Menurutnya, kondisi tersebut sangat berkaitan dengan kasus balita sakit. Anak yang mengalami gizi buruk lebih mudah terserang penyakit, sedangkan balita yang sering sakit berisiko mengalami penurunan status gizi hingga berujung pada gizi buruk maupun stunting.

Karena itu, Kementerian Kesehatan mengintegrasikan program MTBS dengan tata laksana gizi buruk agar penanganan balita di fasilitas kesehatan dapat dilakukan secara menyeluruh.

“Kalau tidak tertangani dengan baik, kondisi ini bisa mengakibatkan kematian bayi dan balita maupun meningkatkan angka stunting. Karena itu MTBS dan gizi buruk terintegrasi menjadi program prioritas nasional,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa kasus gizi buruk di Merauke tersebar di seluruh distrik dan tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan pangan. Meski Merauke dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, masih banyak keluarga yang belum menerapkan pola makan bergizi seimbang.

Baca Juga :  Pansel DPR Papua Selatan Sosialisasi Prosedur Pengangkatan

“Menu gizi seimbang tidak harus mahal. Yang penting ada sumber karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Namun masih banyak keluarga yang belum memahami penyusunan menu seperti itu,” katanya.(ulo/wen)   

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya