Sunday, February 1, 2026
30.6 C
Jayapura

Banyak Pengguna Jadi Korban, Fokus Berantas Pengedar Sampai ke Para Bandar

Kombes Alfian menjelaskan, Ditresnarkoba Polda Papua telah melakukan pemetaan terhadap jenis narkotika, jalur masuk, serta wilayah rawan peredaran.

Untuk ganja, sebagian besar masuk dari Papua Nugini, baik melalui jalur darat di wilayah Skouw maupun jalur laut. Selain itu, ganja juga ditemukan masuk dari wilayah Merauke dan Boven Digoel. Meski demikian, terdapat pula penanaman ganja dalam skala terbatas di beberapa daerah seperti Senggi, Pegunungan Bintang, Wamena, dan Boven Digoel dengan cara disamarkan di antara tanaman lain.

Sementara itu, sabu-sabu umumnya berasal dari luar Papua, yakni dari Jakarta, Makassar, dan Surabaya, yang kemudian dikirim menggunakan jasa pengiriman dan disebarkan ke berbagai wilayah di Papua.

Baca Juga :  Perkada Tidak Hanya di Papua, Tapi Sudah Dilakukan di Sejumlah Daerah

Adapun ekstasi juga ditemukan masuk dari kota-kota besar tersebut, meski jumlahnya tidak sebanyak sabu-sabu dan ganja. “Kami juga menemukan penyalahgunaan obat-obatan daftar G berbahaya yang seharusnya hanya bisa digunakan dengan resep dokter,” beber Kombes Alfian.

Berdasarkan hasil pemetaan, pengguna ganja di Papua didominasi oleh kalangan usia remaja hingga dewasa, bahkan ditemukan kasus penggunaan di kalangan pelajar SMP dan SMA.

“Untuk anak-anak yang masih pelajar dan hanya sebagai pengguna, kami lakukan pembinaan dan mengedepankan peran keluarga. Mereka adalah generasi penerus yang harus kita selamatkan,” jelasnya.

Kombes Alfian menjelaskan, Ditresnarkoba Polda Papua telah melakukan pemetaan terhadap jenis narkotika, jalur masuk, serta wilayah rawan peredaran.

Untuk ganja, sebagian besar masuk dari Papua Nugini, baik melalui jalur darat di wilayah Skouw maupun jalur laut. Selain itu, ganja juga ditemukan masuk dari wilayah Merauke dan Boven Digoel. Meski demikian, terdapat pula penanaman ganja dalam skala terbatas di beberapa daerah seperti Senggi, Pegunungan Bintang, Wamena, dan Boven Digoel dengan cara disamarkan di antara tanaman lain.

Sementara itu, sabu-sabu umumnya berasal dari luar Papua, yakni dari Jakarta, Makassar, dan Surabaya, yang kemudian dikirim menggunakan jasa pengiriman dan disebarkan ke berbagai wilayah di Papua.

Baca Juga :  Sepakati Pemekaran 7 Provinsi di Papua

Adapun ekstasi juga ditemukan masuk dari kota-kota besar tersebut, meski jumlahnya tidak sebanyak sabu-sabu dan ganja. “Kami juga menemukan penyalahgunaan obat-obatan daftar G berbahaya yang seharusnya hanya bisa digunakan dengan resep dokter,” beber Kombes Alfian.

Berdasarkan hasil pemetaan, pengguna ganja di Papua didominasi oleh kalangan usia remaja hingga dewasa, bahkan ditemukan kasus penggunaan di kalangan pelajar SMP dan SMA.

“Untuk anak-anak yang masih pelajar dan hanya sebagai pengguna, kami lakukan pembinaan dan mengedepankan peran keluarga. Mereka adalah generasi penerus yang harus kita selamatkan,” jelasnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya