Ia mengaku, obat kanker yang dikonsumsinya sering mengalami kekosongan. Namun, pihak rumah sakit sebatas menyarankan untuk menunggu obatnya datang. Bahkan, pernah pada tahun 2024. Akibat kekosongan obat, dirinya pernah dirujuk ke RS Manado.
Namun karena tidak ada biaya, niat rujuk ke rumah sakit di luar Papua ini pun diurungkan.
Dampak dari keterlambatan dalam mengonsumsi obat membuat fisik R semakin lemah, dan berpotensi membuat perkembangan kankernya semakin membesar.
“Ketika saya terlambat mengonsumsi obat, kanker saya jadi berkembang dan bisa menyebar ke organ lainnya. Daya tahan tubuh saya terus menurun, sering pusing dan demam. Bahkan yang saya rasakan saat ini, tumor saya yang dulunya kecil kini sudah membesar akibat terlambatnya tindakan kemoterapi,” ungkapnya.
Meski sudah mengetahui obat di RSUD Jayapura kerap mengalami kekosongan, namun tetap memilih berobat di rumah sakit milik pemerintah. Rupanya, R punya alasan tersendiri. Sebab, di RSUD Jayapura dia menggunakan BPJS dan biayanya terjangkau dan bahkan gratis.
Beda ketika dia berobat di rumah sakit tanpa BPJS, dia harus mengeluarkan uang yang lumayan banyak. Terlebih, harga obat kanker kata dia bisa mencapai puluhan juta.
“Kalaupun dirujuk ke luar, saya masih memikirkan materi. Sebab, jika pengobatan secara swasta obat kemoterapinya cukup mahal. Dan saya tidak sanggup untuk itu, tidak apa-apa bertahan seperti ini,” ungkapnya pasrah.