Mendengar Cerita Para Personel yang Turun Langsung Dalam Pemadaman Karhutla
Belakangan ini pemerintah dan publik nasional dipusingkan dengan bencana kebakaran hutan dan lahan alias Karhutla. Lihat saja bagaimana api yang membakar hutan lahan di Sumatera ditambah hutan dan gambut yang membara di Kalimantan termasuk di Papua Selatan dan Papua Barat Daya.
Laporan: Yulius Sulo dan Abdel Gamel Naser
Tentunya tidak tepat menganggap bahwa karhutla adalah musibah akibat iklim yang sifatnya situasional dan bisa segera membaik. Pasalnya Karhutla bisa memberi bekas kerugian yang tidak hanya materil tetapi juga kesehatan bahkan nyawa. Tercatat hingga Oktober ini ada 9 orang relawan dan petugas yang gugur dalam upaya pemadaman api. Belum lagi dengan kerugian materil jika dikaitkan dengan anggaran.
Hitung-hitungan Center of Economic and Law Studies (CELIOS), organisasi ekonomi, memperkirakan kerugian yang dihasilkan karhutla menyentuh Rp29,45 triliun. Angka ini diambil dari hilangnya aset fisik serta aktivitas perekonomian. Ini belum termasuk ratusan anak dan orang tua yang mengalami gangguan ISPA. Sumatera dan Kalimantan bahkan memberi sinyal merah bahwa kualitas udara disana sangat berbahaya untuk dihirup.
Termasuk Papua Selatan, Papua Barat Daya bahkan Papua yang sempat mendapat limpasan asap dari Karhutla di PNG dan juga Fak-fak. Banyak yang tak menyangka jika asap ini akan sampai ke Jayapura. Meski begitu, Kota Jayapura sendiri bukan tanpa situasi serupa. Sejumlah hot spot ditemukan meski tak seramai provinsi lain.
Dan di balik itu ada ratusan pejuang dari berbagai organisasi yang turun langsung berjibaku menjinakkan bahkan ikut memadamkan api dengan peralatan seadanya. Aksi yang penuh resiko dan bisa jadi jika menjadi korban semua beban juga tak akan ditanggung negara. Data menyebut pelaku karhutla di Indonesia meliputi individu dan korporasi yang terlibat dalam pembakaran hutan dan lahan.
Mendengar Cerita Para Personel yang Turun Langsung Dalam Pemadaman Karhutla
Belakangan ini pemerintah dan publik nasional dipusingkan dengan bencana kebakaran hutan dan lahan alias Karhutla. Lihat saja bagaimana api yang membakar hutan lahan di Sumatera ditambah hutan dan gambut yang membara di Kalimantan termasuk di Papua Selatan dan Papua Barat Daya.
Laporan: Yulius Sulo dan Abdel Gamel Naser
Tentunya tidak tepat menganggap bahwa karhutla adalah musibah akibat iklim yang sifatnya situasional dan bisa segera membaik. Pasalnya Karhutla bisa memberi bekas kerugian yang tidak hanya materil tetapi juga kesehatan bahkan nyawa. Tercatat hingga Oktober ini ada 9 orang relawan dan petugas yang gugur dalam upaya pemadaman api. Belum lagi dengan kerugian materil jika dikaitkan dengan anggaran.
Hitung-hitungan Center of Economic and Law Studies (CELIOS), organisasi ekonomi, memperkirakan kerugian yang dihasilkan karhutla menyentuh Rp29,45 triliun. Angka ini diambil dari hilangnya aset fisik serta aktivitas perekonomian. Ini belum termasuk ratusan anak dan orang tua yang mengalami gangguan ISPA. Sumatera dan Kalimantan bahkan memberi sinyal merah bahwa kualitas udara disana sangat berbahaya untuk dihirup.
Termasuk Papua Selatan, Papua Barat Daya bahkan Papua yang sempat mendapat limpasan asap dari Karhutla di PNG dan juga Fak-fak. Banyak yang tak menyangka jika asap ini akan sampai ke Jayapura. Meski begitu, Kota Jayapura sendiri bukan tanpa situasi serupa. Sejumlah hot spot ditemukan meski tak seramai provinsi lain.
Dan di balik itu ada ratusan pejuang dari berbagai organisasi yang turun langsung berjibaku menjinakkan bahkan ikut memadamkan api dengan peralatan seadanya. Aksi yang penuh resiko dan bisa jadi jika menjadi korban semua beban juga tak akan ditanggung negara. Data menyebut pelaku karhutla di Indonesia meliputi individu dan korporasi yang terlibat dalam pembakaran hutan dan lahan.