Biasanya Hanya Dua Kali, Selama Ramadan  Bisa Salat Lima Waktu di Mesjid

   Selain ibadah sholat wajib lima waktu, pihak Lapas Abepura juga bekerja sama dengan  Kementerian Agama Kota Jayapura untuk mengajarkan para napi tentang ilmu agama termasuk mengerjakan salat sunah seperti dituntunkan Nabi Muhammad SAW. Seusai salat, para WBP itu bertadarus Alquran dan membaca kitab-kitab islami lainnya.

   “Kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk kajian-kajian, salat berjamaah, tadarus Alquran dan membaca kitab-kitab selepas salat,” kata salah satu WBP, Zaiful (37) saat diwawancarai Cenderawasih Pos, Selasa (19/3).

    Meski status narapidana kasus korupsi, namun Zaiful ini dipercaya sebagai  seorang imam Masjid dan penceramah di dalam Lapas. Ia juga  peserta lomba dakwah di tingkat nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) wilayah Papua.

Baca Juga :  Tak Takut Terpapar Covid-19, Warga di Pasar 90 Persen Warga Tak Gunakan Masker

    Tak hanya Zaiful,  Lapas kelas IIA Abepura juga telah berhasil mendidik  seorang terpidana kasus pembunuhan, mendalami ilmu agama  yakni Muh. Wildansyah (25). Ia mendapatkan gelar juara satu dalam lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) se-Distrik Abepura.

   “Ada hikmah, untuk keluar nati kita punya bekal tersendiri untuk kita bisa bagikan kepada masyarakat secara umumnya,” lanjut Muh. Wildansyah.

   Meski saat ini belum bisa bertemu keluarganya secara langsung, tapi kerinduan itu bisa diobati dengan buka puasa bersama teman-teman napi lainnya di Lapas.  Dia mengaku tidak bisa membayangkan, puncak keharuan yang dirasakannya pada saat malam takbiran menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Baca Juga :  Atasi Masalah Kesehatan, Pemkab Sarmi Siap Jalin Kerjasama dengan RSUD Abepura

  Ia berharap, Ramadhan di balik jeruji besi bisa melatih kesabaran dan mengubah diri menjadi lebih baik.  Pasalnya, tak hanya menahan hawa nafsu, lapar, dan haus, namun menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadhan tentunya menjadi tujuannya.

   Selain ibadah sholat wajib lima waktu, pihak Lapas Abepura juga bekerja sama dengan  Kementerian Agama Kota Jayapura untuk mengajarkan para napi tentang ilmu agama termasuk mengerjakan salat sunah seperti dituntunkan Nabi Muhammad SAW. Seusai salat, para WBP itu bertadarus Alquran dan membaca kitab-kitab islami lainnya.

   “Kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk kajian-kajian, salat berjamaah, tadarus Alquran dan membaca kitab-kitab selepas salat,” kata salah satu WBP, Zaiful (37) saat diwawancarai Cenderawasih Pos, Selasa (19/3).

    Meski status narapidana kasus korupsi, namun Zaiful ini dipercaya sebagai  seorang imam Masjid dan penceramah di dalam Lapas. Ia juga  peserta lomba dakwah di tingkat nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) wilayah Papua.

Baca Juga :  Tabrakan di Skyland, Pengendara Vario Tewas Terlindas Avanza

    Tak hanya Zaiful,  Lapas kelas IIA Abepura juga telah berhasil mendidik  seorang terpidana kasus pembunuhan, mendalami ilmu agama  yakni Muh. Wildansyah (25). Ia mendapatkan gelar juara satu dalam lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) se-Distrik Abepura.

   “Ada hikmah, untuk keluar nati kita punya bekal tersendiri untuk kita bisa bagikan kepada masyarakat secara umumnya,” lanjut Muh. Wildansyah.

   Meski saat ini belum bisa bertemu keluarganya secara langsung, tapi kerinduan itu bisa diobati dengan buka puasa bersama teman-teman napi lainnya di Lapas.  Dia mengaku tidak bisa membayangkan, puncak keharuan yang dirasakannya pada saat malam takbiran menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Baca Juga :  Tak Hanya Para PKL, Pemilik Galian Tipe C Harus Berikan Kontribusi PAD 

  Ia berharap, Ramadhan di balik jeruji besi bisa melatih kesabaran dan mengubah diri menjadi lebih baik.  Pasalnya, tak hanya menahan hawa nafsu, lapar, dan haus, namun menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadhan tentunya menjadi tujuannya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya