alexametrics
25.7 C
Jayapura
Tuesday, June 7, 2022

Dari Dua Sapi Sortiran, Yang Satu Juara Jateng, Hasilkan Keuntungan Rp 100 Juta

Setyo Hermawan, Peternak Sukses dari Generasi Z

Di usia baru 24 tahun, Setyo Hermawan memetik buah kerja kerasnya sebagai peternak yang diawali keinginan membantu warga sedesa. Penyakit mulut dan kuku tak pernah jadi masalah baginya. 

ILHAM WANCOKO, Purworejo

KEPELIKAN warga Desa Depokrejo dalam memasarkan ternak sapi mencambuk Setyo Hermawan untuk mencari jalan. Masih duduk di bangku SMA ketika itu, dia pun akhirnya mendapat ide untuk menjadi peternak, penyuplai, atau apa pun namanya.

”Yang penting membantu warga memasarkan sapi,’’ ujarnya kepada Jawa Pos.

Desanya yang berada di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, itu memang memiliki dua potensi: peternakan dan pertanian. Hampir semua warga memiliki sapi sebagai investasi. Sedangkan pertanian menjadi sandaran pendapatan utama.

”Tapi, saat menjual sapi, harganya bisa sangat murah,’’ tuturnya.

Setyo lalu berupaya memasarkan sapi warga dengan berbagai cara. Dari mencoba menemukan relasi hingga menawarkan ke ratusan institusi pemerintahan dan pendidikan. ”Untuk pengiriman pertama itu, saya kirim ke Cirebon,’’ ujarnya.

Dia menggunakan relasi dari ayahnya yang juga merupakan pengusaha. Harga sapi di Cirebon, Jawa Barat, saat itu lebih tinggi dari harga sapi di Purworejo.

”Contohnya, harga sapi di Cirebon sekitar Rp 30 juta dengan berat tertentu. Di Purworejo hanya Rp 25 juta,’’ jelasnya.

Selanjutnya, Setyo bersama dengan dua pekerja kandangnya berkeliling ke berbagai kantor instansi pemerintah dan perbankan. Juga untuk menawarkan sapi-sapi milik warga. Ratusan instansi ditawarinya. ”Masak iya, ratusan instansi itu tidak ada yang nyantol,’’ ujarnya.

Setelah beberapa minggu, hasilnya mulai terlihat. Setyo mampu menjual 50 ekor sapi ke Cirebon dan berbagai instansi. ”Alhamdulillah, penjualan perdana itu 50 ekor,’’ ungkapnya.

Menurut dia, harga sapi warga itu bisa dijual lebih tinggi dari pasaran di Purworejo. Warga mendapat keuntungan yang banyak karenanya. ”Saya juga untung,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Banjir Terparah Kali ini, Proses Pembelajaran Ditargetkan Normal Minggu

Namun, saat penjualan perdana itu, Setyo mendapatkan kesulitan. Terutama soal transportasi sapi-sapinya. ”Pengiriman ke Cirebon itu dua rit, sekitar 18 ekor sapi. Tapi, pengirimannya pakai truk barang atau sayur yang sirkulasi udaranya kurang. Beruntung, tidak ada yang mati atau sakit,’’ jelasnya.

Itu cerita zaman perjuangan dulu. Kini, di usia yang baru menjelang 24 tahun, dia sudah tumbuh menjadi peternak modern yang sukses. Omzetnya miliaran rupiah. Banyak sekali petani dan peternak kelas menengah yang menjadi mitra pemilik Setia Farm tersebut.

Hanya dengan satu chat WhatsApp, anak muda dari generasi Z (kelahiran 1997–2012) itu bisa langsung mengumpulkan sapi yang dibutuhkan. ”Menjadi peternak di usia di bawah 25 tahun itu langka. Silakan riset, di Jateng dan Jogjakarta, tidak lebih dari lima orang,’’ tuturnya.

Namun, ada bahayanya juga menjadi peternak sapi di usia semuda itu. Bukan problem eksternal, justru dari internal Setyo sendiri. ”Mengalahkan diri sendiri ini yang sulitnya minta ampun,’’ urai anak muda kelahiran 22 Mei 1998 tersebut.

Salah satu kejadian merugikan itu disebabkan ambisi pribadinya. Beberapa tahun lalu, ada pesanan sapi sebanyak 10 ekor dengan harga per ekor Rp 20 juta. ”Saya saat itu punya uang Rp 300 juta,’’ paparnya.

Tapi, dia masih terhasut gengsi. Kalau sapi tidak bagus, tidak mantap rasanya. Akhirnya, Setyo justru membeli sapi kelas super dengan harga di atas Rp 30 juta sebanyak 10 ekor. ”Ya, gengsi ini bikin tekor, akhirnya permintaan klien tidak bisa dipenuhi. Kesempatan tidak datang dua kali,’’ ujar alumnus Universitas Jenderal Achmad Yani, Jogjakarta, tersebut.

Soal penyakit mulut dan kuku (PMK), Setyo justru sama sekali tidak takut. Bukan masalah. Menurut dia, PMK sudah lama ada di Indonesia, bukan penyakit baru yang tanpa obat. ”Tapi, kalau saya lebih baik mencegah daripada mengobati,’’ urainya.

Baca Juga :  Meski Fasilitas Terbatas, Tetap Berikan Pelayanan Prima

Mengatasi PMK sebenarnya mudah. Kuncinya ada di kebersihan kandang dan perawatan sapi. Kandang sapi harus disemprot disinfektan setiap hari yang harganya tidak lebih dari Rp 50 ribu.

Selain itu, sapi perlu dimandikan setiap hari. Dicek apakah ada kutunya atau tidak. Bisa disemprot obat kutu yang harganya tidak lebih dari Rp 30 ribu. ”Tapi, bisanya musuhnya itu M, males,’’ tuturnya.

Selama enam tahun menggeluti bidang peternakan sapi, Setyo memiliki beberapa pengalaman yang tak terlupakan. Salah satunya saat membeli dua sapi paling fenomenalnya, Gareng dan Grandong. ”Kedua sapi ini saya beli dengan kondisi yang kurus walau sapi jumbo ya,’’ tuturnya.

Dua sapi itu terbilang sortiran alias reject. Tidak laku dijual ke mana pun.

Di tangan Setyo, keduanya dirawat dengan diberi makanan terbaik. ”Tekad saya ketika itu, kalau hidup ya bagus, kalau mati ya sudah. Saya ikhlaskan ndandani (memperbaiki) Gareng dan Grandong,’’ ujarnya.

Namun, siapa sangka dua sapi itu memberikan kado terbaik untuk Setyo. Gareng setelah dirawat beberapa bulan justru menang dalam kontes sapi di Jateng. Lalu, Grandong menjadi sapi dengan berat lebih dari 1 ton. ”Kalau kita rawat dengan ikhlas, sapi itu akan membalasnya,’’ jelasnya.

Gareng terjual dengan keuntungan hampir sepuluh kali lipat dari pembelian awal. Lalu, Grandong sudah ditawar banyak orang dengan nilai keuntungan lebih dari Rp 100 juta. ”Siapa sangka, keikhlasan justru melahirkan keistimewaan,’’ paparnya.

Setyo masih memiliki mimpi-mimpi lain yang ingin diwujudkan. Salah satunya, membuat desanya menjadi desa wisata satwa atau ternak. Dengan sapi sebagai pembajaknya, sapi sebagai alat transportasinya.

”Saya juga memiliki mimpi untuk bisa membagikan satu ekor sapi betina ke setiap keluarga di desa. Untuk meningkatkan populasi karena yang kita lakukan saat ini hanya mengurangi populasi,’’ ujarnya. (*/c6/ttg/JPG)

Setyo Hermawan, Peternak Sukses dari Generasi Z

Di usia baru 24 tahun, Setyo Hermawan memetik buah kerja kerasnya sebagai peternak yang diawali keinginan membantu warga sedesa. Penyakit mulut dan kuku tak pernah jadi masalah baginya. 

ILHAM WANCOKO, Purworejo

KEPELIKAN warga Desa Depokrejo dalam memasarkan ternak sapi mencambuk Setyo Hermawan untuk mencari jalan. Masih duduk di bangku SMA ketika itu, dia pun akhirnya mendapat ide untuk menjadi peternak, penyuplai, atau apa pun namanya.

”Yang penting membantu warga memasarkan sapi,’’ ujarnya kepada Jawa Pos.

Desanya yang berada di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, itu memang memiliki dua potensi: peternakan dan pertanian. Hampir semua warga memiliki sapi sebagai investasi. Sedangkan pertanian menjadi sandaran pendapatan utama.

”Tapi, saat menjual sapi, harganya bisa sangat murah,’’ tuturnya.

Setyo lalu berupaya memasarkan sapi warga dengan berbagai cara. Dari mencoba menemukan relasi hingga menawarkan ke ratusan institusi pemerintahan dan pendidikan. ”Untuk pengiriman pertama itu, saya kirim ke Cirebon,’’ ujarnya.

Dia menggunakan relasi dari ayahnya yang juga merupakan pengusaha. Harga sapi di Cirebon, Jawa Barat, saat itu lebih tinggi dari harga sapi di Purworejo.

”Contohnya, harga sapi di Cirebon sekitar Rp 30 juta dengan berat tertentu. Di Purworejo hanya Rp 25 juta,’’ jelasnya.

Selanjutnya, Setyo bersama dengan dua pekerja kandangnya berkeliling ke berbagai kantor instansi pemerintah dan perbankan. Juga untuk menawarkan sapi-sapi milik warga. Ratusan instansi ditawarinya. ”Masak iya, ratusan instansi itu tidak ada yang nyantol,’’ ujarnya.

Setelah beberapa minggu, hasilnya mulai terlihat. Setyo mampu menjual 50 ekor sapi ke Cirebon dan berbagai instansi. ”Alhamdulillah, penjualan perdana itu 50 ekor,’’ ungkapnya.

Menurut dia, harga sapi warga itu bisa dijual lebih tinggi dari pasaran di Purworejo. Warga mendapat keuntungan yang banyak karenanya. ”Saya juga untung,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Fasilitas Akan Dilengkapi, Penempatan Personel di Pos Untuk Beri Rasa Aman

Namun, saat penjualan perdana itu, Setyo mendapatkan kesulitan. Terutama soal transportasi sapi-sapinya. ”Pengiriman ke Cirebon itu dua rit, sekitar 18 ekor sapi. Tapi, pengirimannya pakai truk barang atau sayur yang sirkulasi udaranya kurang. Beruntung, tidak ada yang mati atau sakit,’’ jelasnya.

Itu cerita zaman perjuangan dulu. Kini, di usia yang baru menjelang 24 tahun, dia sudah tumbuh menjadi peternak modern yang sukses. Omzetnya miliaran rupiah. Banyak sekali petani dan peternak kelas menengah yang menjadi mitra pemilik Setia Farm tersebut.

Hanya dengan satu chat WhatsApp, anak muda dari generasi Z (kelahiran 1997–2012) itu bisa langsung mengumpulkan sapi yang dibutuhkan. ”Menjadi peternak di usia di bawah 25 tahun itu langka. Silakan riset, di Jateng dan Jogjakarta, tidak lebih dari lima orang,’’ tuturnya.

Namun, ada bahayanya juga menjadi peternak sapi di usia semuda itu. Bukan problem eksternal, justru dari internal Setyo sendiri. ”Mengalahkan diri sendiri ini yang sulitnya minta ampun,’’ urai anak muda kelahiran 22 Mei 1998 tersebut.

Salah satu kejadian merugikan itu disebabkan ambisi pribadinya. Beberapa tahun lalu, ada pesanan sapi sebanyak 10 ekor dengan harga per ekor Rp 20 juta. ”Saya saat itu punya uang Rp 300 juta,’’ paparnya.

Tapi, dia masih terhasut gengsi. Kalau sapi tidak bagus, tidak mantap rasanya. Akhirnya, Setyo justru membeli sapi kelas super dengan harga di atas Rp 30 juta sebanyak 10 ekor. ”Ya, gengsi ini bikin tekor, akhirnya permintaan klien tidak bisa dipenuhi. Kesempatan tidak datang dua kali,’’ ujar alumnus Universitas Jenderal Achmad Yani, Jogjakarta, tersebut.

Soal penyakit mulut dan kuku (PMK), Setyo justru sama sekali tidak takut. Bukan masalah. Menurut dia, PMK sudah lama ada di Indonesia, bukan penyakit baru yang tanpa obat. ”Tapi, kalau saya lebih baik mencegah daripada mengobati,’’ urainya.

Baca Juga :  Jadikan Koya Timur Lumbung Budidaya Ikan Nila

Mengatasi PMK sebenarnya mudah. Kuncinya ada di kebersihan kandang dan perawatan sapi. Kandang sapi harus disemprot disinfektan setiap hari yang harganya tidak lebih dari Rp 50 ribu.

Selain itu, sapi perlu dimandikan setiap hari. Dicek apakah ada kutunya atau tidak. Bisa disemprot obat kutu yang harganya tidak lebih dari Rp 30 ribu. ”Tapi, bisanya musuhnya itu M, males,’’ tuturnya.

Selama enam tahun menggeluti bidang peternakan sapi, Setyo memiliki beberapa pengalaman yang tak terlupakan. Salah satunya saat membeli dua sapi paling fenomenalnya, Gareng dan Grandong. ”Kedua sapi ini saya beli dengan kondisi yang kurus walau sapi jumbo ya,’’ tuturnya.

Dua sapi itu terbilang sortiran alias reject. Tidak laku dijual ke mana pun.

Di tangan Setyo, keduanya dirawat dengan diberi makanan terbaik. ”Tekad saya ketika itu, kalau hidup ya bagus, kalau mati ya sudah. Saya ikhlaskan ndandani (memperbaiki) Gareng dan Grandong,’’ ujarnya.

Namun, siapa sangka dua sapi itu memberikan kado terbaik untuk Setyo. Gareng setelah dirawat beberapa bulan justru menang dalam kontes sapi di Jateng. Lalu, Grandong menjadi sapi dengan berat lebih dari 1 ton. ”Kalau kita rawat dengan ikhlas, sapi itu akan membalasnya,’’ jelasnya.

Gareng terjual dengan keuntungan hampir sepuluh kali lipat dari pembelian awal. Lalu, Grandong sudah ditawar banyak orang dengan nilai keuntungan lebih dari Rp 100 juta. ”Siapa sangka, keikhlasan justru melahirkan keistimewaan,’’ paparnya.

Setyo masih memiliki mimpi-mimpi lain yang ingin diwujudkan. Salah satunya, membuat desanya menjadi desa wisata satwa atau ternak. Dengan sapi sebagai pembajaknya, sapi sebagai alat transportasinya.

”Saya juga memiliki mimpi untuk bisa membagikan satu ekor sapi betina ke setiap keluarga di desa. Untuk meningkatkan populasi karena yang kita lakukan saat ini hanya mengurangi populasi,’’ ujarnya. (*/c6/ttg/JPG)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/