Suarakan Luka yang Terpendam, Ajak Perempuan dan Laki-laki untuk Sama-sama Bercermin

Pengakuan itu membuka percakapan di ruangan yang jauh dari kebisingan kota. Satu per satu peserta mulai berbicara. Ada yang mengangguk, ada yang menitikkan air mata, ada pula yang baru menyadari bahwa pengalaman pribadinya selama ini punya nama. Bagi JK, Everybody Lies bukan sekadar karya visual, melainkan ruang edukasi, ruang yang mengajak perempuan dan laki-laki untuk sama-sama bercermin. Tidak hanya berbicara tentang perempuan yang belajar mencintai diri dan berani melawan, tetapi juga menjadi pengingat bagi laki-laki untuk memahami arti penghargaan dalam sebuah relasi.

“Film ini juga mengedukasi laki-laki, bagaimana mereka menghargai integritas, martabat perempuan, dan juga menghargai pasangan mereka,” ujarnya.
Katanya, pesan utama film ini sederhana, tetapi sering diabaikan. Yaitu menjaga martabat baik dalam keluarga maupun dalam hubungan. Sebab, menurutnya, perempuan bukan sekadar sosok yang dibatasi pada peran domestik.

“Perempuan itu unik. Kita tidak diciptakan hanya untuk masak di dapur atau tinggal di rumah menjaga anak,” katanya.

Baca Juga :  Bukan Mistis Tapi Fenomena Alam, Sendimen dan Sampah Memperparah

Ia kemudian mengutip pandangan Najwa Shihab tentang kesetaraan. Bahwa kodrat perempuan adalah melahirkan, menyusui, dan menstruasi. Selebihnya, perempuan dan laki-laki setara. Namun dalam praktiknya, perempuan kerap dituntut untuk lebih banyak memaklumi, bahkan terhadap hal-hal yang menyakitkan. Yang lebih menyakitkan adalah ketiadaan dukungan dari lingkungan terdekat. Alih-alih mendapat ruang untuk didengar, tokoh dalam film justru dihadapkan pada respons yang menutup percakapan. “Support system yang seharusnya ada, justru tidak hadir. Dia malah disuruh berdoa,” katanya.

Melalui film ini, ia ingin membuka kesadaran bahwa kekerasan berbasis gender online tidak selalu hadir dalam bentuk ancaman atau teror yang kasat mata. Ada bentuk-bentuk lain yang lebih halus, tetapi berdampak langsung pada kondisi mental korban. “Ini bukan hal sepele. Dampaknya nyata, langsung ke mental,” tegasnya.

Sementara bagi Rose Weyei, Komunitas Earth Hour Jayapura, Everybody Lies bukan sekadar tontonan, melainkan cermin yang memantulkan realitas yang selama ini jarang diungkap. “Filmnya sangat luar biasa, karena jarang sekali kita di Papua melihat kisah yang benar-benar menceritakan pengalaman pribadi penulis atau sutradaranya,” ujarnya perlahan. Ia menilai, kekuatan film ini justru terletak pada kejujurannya. Tanpa disadari, banyak adegan yang terasa begitu dekat seolah bukan hanya milik tokoh dalam film, tetapi juga bagian dari pengalaman hidup banyak perempuan.

Baca Juga :  Jika Orang Luar Bisa Bikin Martabak Kenapa Papua Tidak

“Film ini sangat mengedukasi, khususnya untuk kita perempuan. Karena, sadar atau tidak, situasi dalam film itu menggambarkan kisah kita secara pribadi,” katanya.

Bagi Rose, pemutaran dan diskusi film malam itu membuka cara pandangnya. Ia melihat ada pesan yang lebih dalam dari sekadar cerita tentang keberanian untuk bertahan dan percaya pada diri sendiri.

“Perempuan harus percaya diri dan bertahan hidup. Kita punya mimpi-mimpi yang harus diwujudkan ke depan,” ucapnya.

Pengakuan itu membuka percakapan di ruangan yang jauh dari kebisingan kota. Satu per satu peserta mulai berbicara. Ada yang mengangguk, ada yang menitikkan air mata, ada pula yang baru menyadari bahwa pengalaman pribadinya selama ini punya nama. Bagi JK, Everybody Lies bukan sekadar karya visual, melainkan ruang edukasi, ruang yang mengajak perempuan dan laki-laki untuk sama-sama bercermin. Tidak hanya berbicara tentang perempuan yang belajar mencintai diri dan berani melawan, tetapi juga menjadi pengingat bagi laki-laki untuk memahami arti penghargaan dalam sebuah relasi.

“Film ini juga mengedukasi laki-laki, bagaimana mereka menghargai integritas, martabat perempuan, dan juga menghargai pasangan mereka,” ujarnya.
Katanya, pesan utama film ini sederhana, tetapi sering diabaikan. Yaitu menjaga martabat baik dalam keluarga maupun dalam hubungan. Sebab, menurutnya, perempuan bukan sekadar sosok yang dibatasi pada peran domestik.

“Perempuan itu unik. Kita tidak diciptakan hanya untuk masak di dapur atau tinggal di rumah menjaga anak,” katanya.

Baca Juga :  Tiap Kampung Adat Punya Ciri Khas, Tidak Bisa Dijual Sembarangan

Ia kemudian mengutip pandangan Najwa Shihab tentang kesetaraan. Bahwa kodrat perempuan adalah melahirkan, menyusui, dan menstruasi. Selebihnya, perempuan dan laki-laki setara. Namun dalam praktiknya, perempuan kerap dituntut untuk lebih banyak memaklumi, bahkan terhadap hal-hal yang menyakitkan. Yang lebih menyakitkan adalah ketiadaan dukungan dari lingkungan terdekat. Alih-alih mendapat ruang untuk didengar, tokoh dalam film justru dihadapkan pada respons yang menutup percakapan. “Support system yang seharusnya ada, justru tidak hadir. Dia malah disuruh berdoa,” katanya.

Melalui film ini, ia ingin membuka kesadaran bahwa kekerasan berbasis gender online tidak selalu hadir dalam bentuk ancaman atau teror yang kasat mata. Ada bentuk-bentuk lain yang lebih halus, tetapi berdampak langsung pada kondisi mental korban. “Ini bukan hal sepele. Dampaknya nyata, langsung ke mental,” tegasnya.

Sementara bagi Rose Weyei, Komunitas Earth Hour Jayapura, Everybody Lies bukan sekadar tontonan, melainkan cermin yang memantulkan realitas yang selama ini jarang diungkap. “Filmnya sangat luar biasa, karena jarang sekali kita di Papua melihat kisah yang benar-benar menceritakan pengalaman pribadi penulis atau sutradaranya,” ujarnya perlahan. Ia menilai, kekuatan film ini justru terletak pada kejujurannya. Tanpa disadari, banyak adegan yang terasa begitu dekat seolah bukan hanya milik tokoh dalam film, tetapi juga bagian dari pengalaman hidup banyak perempuan.

Baca Juga :  Soal Demo Mahasiswa, Walikota Minta Jangan Anarkis

“Film ini sangat mengedukasi, khususnya untuk kita perempuan. Karena, sadar atau tidak, situasi dalam film itu menggambarkan kisah kita secara pribadi,” katanya.

Bagi Rose, pemutaran dan diskusi film malam itu membuka cara pandangnya. Ia melihat ada pesan yang lebih dalam dari sekadar cerita tentang keberanian untuk bertahan dan percaya pada diri sendiri.

“Perempuan harus percaya diri dan bertahan hidup. Kita punya mimpi-mimpi yang harus diwujudkan ke depan,” ucapnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya