Suarakan Luka yang Terpendam, Ajak Perempuan dan Laki-laki untuk Sama-sama Bercermin

Ia juga mengaku mendapatkan pelajaran penting dari film tersebut, terutama dalam memaknai relasi. Kehati-hatian dalam memilih pasangan, menurutnya, menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, laki-laki pun diajak untuk lebih sadar dan peka terhadap realitas yang dialami perempuan.

“Laki-laki juga harus melihat bahwa ini adalah kisah nyata yang terjadi di sekitar kita,” tambahnya.

Di sudut ruangan lainnya, seorang mahasiswa, Tomi Aleknoe mengaku film ini memberinya perspektif baru, terutama sebagai laki-laki. “Film ini mengajarkan kita bagaimana cara mendengar perempuan,” ujarnya.

“Bukan hanya sekadar mengatakan ‘berdoa saja’ atau ‘istirahat’, tapi benar-benar hadir dan memahami.”

Menurut Tom, salah satu akar persoalan yang dihadapi perempuan hari ini adalah ketiadaan ruang untuk didengar. Banyak laki-laki belum benar-benar hadir dalam relasi baik secara emosional maupun secara nyata.

Baca Juga :  Papua Miliki 999 Kampung, Baru Ada 10 Gerai KMP di 3 Kabupaten/Kota

“Dilema perempuan hari ini terjadi karena kita, laki-laki, sering tidak mendengar dan tidak hadir melihat keresahan mereka. Kita sibuk dengan gadget, dengan media sosial, bahkan lebih tertarik pada hal-hal di luar, tanpa sadar itu juga melukai,” ucap pria yang juga aktif bidang sosial ini.

Baginya, film ini tidak hanya bercerita, tetapi juga mengedukasi. Ia melihat pentingnya membangun komunikasi yang sehat diskusi yang tidak sepihak, tetapi menghadirkan timbal balik dalam sebuah hubungan.

“Relasi yang baik itu lahir dari komunikasi yang saling memahami. Kalau tidak, ini bisa berujung pada konflik, bahkan gangguan mental,” ujarnya.

Ia juga mengaku mendapatkan pelajaran penting dari film tersebut, terutama dalam memaknai relasi. Kehati-hatian dalam memilih pasangan, menurutnya, menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Di sisi lain, laki-laki pun diajak untuk lebih sadar dan peka terhadap realitas yang dialami perempuan.

“Laki-laki juga harus melihat bahwa ini adalah kisah nyata yang terjadi di sekitar kita,” tambahnya.

Di sudut ruangan lainnya, seorang mahasiswa, Tomi Aleknoe mengaku film ini memberinya perspektif baru, terutama sebagai laki-laki. “Film ini mengajarkan kita bagaimana cara mendengar perempuan,” ujarnya.

“Bukan hanya sekadar mengatakan ‘berdoa saja’ atau ‘istirahat’, tapi benar-benar hadir dan memahami.”

Menurut Tom, salah satu akar persoalan yang dihadapi perempuan hari ini adalah ketiadaan ruang untuk didengar. Banyak laki-laki belum benar-benar hadir dalam relasi baik secara emosional maupun secara nyata.

Baca Juga :  Siapkan Grand Design dan Bentuk Tim Terpadu

“Dilema perempuan hari ini terjadi karena kita, laki-laki, sering tidak mendengar dan tidak hadir melihat keresahan mereka. Kita sibuk dengan gadget, dengan media sosial, bahkan lebih tertarik pada hal-hal di luar, tanpa sadar itu juga melukai,” ucap pria yang juga aktif bidang sosial ini.

Baginya, film ini tidak hanya bercerita, tetapi juga mengedukasi. Ia melihat pentingnya membangun komunikasi yang sehat diskusi yang tidak sepihak, tetapi menghadirkan timbal balik dalam sebuah hubungan.

“Relasi yang baik itu lahir dari komunikasi yang saling memahami. Kalau tidak, ini bisa berujung pada konflik, bahkan gangguan mental,” ujarnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya