Orang Tua Jangan Sampai Abaikan Kebutuhan Emosional Anak

“Anak-anak usia dini umumnya belum memiliki kemampuan untuk meregulasi emosi dengan baik. Mereka cenderung berpikir pendek. Ketika emosi menumpuk dan tidak ada tempat bercerita, mereka bisa memilih jalan pintas yang fatal,” ujar Dwi Gilda saat ditemui, Sabtu (21/2) malam.

Ia mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun. Anak yang biasanya ceria namun tiba-tiba menjadi murung, pendiam, atau malas saat diminta melakukan sesuatu, bisa jadi sedang mengalami tekanan mental. *Kehadiran Sosok Orang Tua vs Pemenuhan Materi*

​Dwi menekankan bahwa banyak orang tua terjebak pada pemenuhan kebutuhan finansial namun mengabaikan kebutuhan emosional terhadap anak. Fenomena fatherless dan motherless—di mana orang tua ada secara fisik tapi absen secara peran—menjadi ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak.

Baca Juga :  Pelakunya Anak di bawah Umur, Kasus Pencurian Diselesaikan Secara Kekeluargaan 

​”Banyak orang tua merasa sudah memberikan segalanya karena kebutuhan materi terpenuhi atau anak diberi gadget agar tenang. Padahal, anak tidak butuh barang mewah, mereka butuh sosok yang hadir dan mengerti mereka,” tambahnya.

Penggunaan gadget tanpa pengawasan juga dinilai berisiko karena anak bisa terpapar konten negatif atau perilaku kasar di dunia maya yang memperburuk kondisi mental mereka.

​Salah satu kendala besar di Mimika adalah minimnya fasilitas kesehatan mental khusus anak. Dwi Gilda mencatat bahwa kesadaran masyarakat untuk berkonsultasi ke psikolog masih rendah karena dianggap mahal atau tidak penting.

“Di Timika belum ada psikolog khusus anak yang menetap. Akibatnya, jika ada masalah serius, anak harus dibawa ke luar kota. Itu pun jika orang tuanya memiliki waktu dan biaya,” ungkapnya. ​

Baca Juga :  Bikin Taoco Sendiri, Daun Patat Jadi Kemasan Takeaway

“Anak-anak usia dini umumnya belum memiliki kemampuan untuk meregulasi emosi dengan baik. Mereka cenderung berpikir pendek. Ketika emosi menumpuk dan tidak ada tempat bercerita, mereka bisa memilih jalan pintas yang fatal,” ujar Dwi Gilda saat ditemui, Sabtu (21/2) malam.

Ia mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun. Anak yang biasanya ceria namun tiba-tiba menjadi murung, pendiam, atau malas saat diminta melakukan sesuatu, bisa jadi sedang mengalami tekanan mental. *Kehadiran Sosok Orang Tua vs Pemenuhan Materi*

​Dwi menekankan bahwa banyak orang tua terjebak pada pemenuhan kebutuhan finansial namun mengabaikan kebutuhan emosional terhadap anak. Fenomena fatherless dan motherless—di mana orang tua ada secara fisik tapi absen secara peran—menjadi ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak.

Baca Juga :  Berbicara Seperti Dikontrol Hal Gaib, Kecewa Hingga Ikut Potong Telinga

​”Banyak orang tua merasa sudah memberikan segalanya karena kebutuhan materi terpenuhi atau anak diberi gadget agar tenang. Padahal, anak tidak butuh barang mewah, mereka butuh sosok yang hadir dan mengerti mereka,” tambahnya.

Penggunaan gadget tanpa pengawasan juga dinilai berisiko karena anak bisa terpapar konten negatif atau perilaku kasar di dunia maya yang memperburuk kondisi mental mereka.

​Salah satu kendala besar di Mimika adalah minimnya fasilitas kesehatan mental khusus anak. Dwi Gilda mencatat bahwa kesadaran masyarakat untuk berkonsultasi ke psikolog masih rendah karena dianggap mahal atau tidak penting.

“Di Timika belum ada psikolog khusus anak yang menetap. Akibatnya, jika ada masalah serius, anak harus dibawa ke luar kota. Itu pun jika orang tuanya memiliki waktu dan biaya,” ungkapnya. ​

Baca Juga :  Papua Butuh Keadilan, Dialog Atau Penegakan Hukum

Berita Terbaru

Artikel Lainnya