Disnakertrans berharap dari 15 peserta magang tersebut ada beberapa yang nantinya direkrut langsung oleh perusahaan, seperti yang pernah terjadi pada program magang otomotif sebelumnya. “Pengalaman kemarin di otomotif ada peserta yang langsung direkrut perusahaan karena memenuhi standar,” kata Edward.
Namun menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya soal lapangan kerja, melainkan juga kesiapan tenaga kerja itu sendiri. Ia menilai sebenarnya banyak lowongan kerja tersedia, terutama untuk lulusan SMA dan SMK, tetapi tidak semua pencari kerja tertarik mengambil peluang tersebut.
Edward mencontohkan sektor perkebunan sawit, jasa otomotif, pekerjaan lapangan, hingga jasa keuangan yang masih membutuhkan banyak tenaga kerja. Namun sebagian pencari kerja masih memilih pekerjaan tertentu dan enggan bekerja di sektor lapangan. “sebenarnya pekerja jangan sampai kerja pilih-pilih,” katanya.
Selain pelatihan dan magang, Disnakertrans juga mencoba membantu para pencari kerja melalui pasar kerja online dan offline.
Para peserta pelatihan telah dibuatkan akun pencarian kerja secara online agar lebih mudah mengakses informasi lowongan pekerjaan di berbagai daerah.
Bahkan, informasi penerimaan tenaga kerja di Merauke Sugar Group, perusahaan tambang di Teluk Bintuni, hingga perusahaan lain juga terus dibagikan kepada peserta.
Namun Edward mengakui, masih banyak pencari kerja yang belum aktif memanfaatkan peluang tersebut. “Kadang sudah ada lowongan, tapi tidak datang bawa lamaran. HRD juga bingung,” katanya.