alexametrics
25.7 C
Jayapura
Tuesday, June 21, 2022

Bayi Nangis Kenapa? Nggak Nyaman atau Lapar, Hewan Juga Begitu 

Peternakan Berkandang Asri tanpa Bau di Perkampungan Padat Jakarta Selatan

Asupan vitamin, ampas tahu-tempe, serta pohon bambu, itu beberapa kiat Abdul Latif menjalankan peternakan di tengah ibu kota. Ada karpet untuk masing-masing sapi demi menghindari dingin karena harus tidur di semen.

ZALZILATUL HIKMIA, Jakarta

SETELAN necis, kerja di segitiga elite Jakarta. Seperti juga banyak anak ibu kota lain, dulu, itulah bayangan Abdul Latif tentang masa depannya ketika masih duduk di bangku kuliah.

’’Sama sekali tak ada bayangan untuk menjadi peternak,” ungkap Latif saat ditemui di peternakan miliknya, Kandang Sapi Betawi Muda, di kawasan Petukangan Utara, Jakarta Selatan (Jaksel), pada Selasa (17/5).

Tapi, hidup berkata lain. Alumnus Universitas Indonesia (UI) tersebut justru banting setir. Latif memutuskan untuk menjadi pedagang mengikuti panggilan jiwanya. Kebetulan, dia juga lahir dan besar di keluarga wirausaha. Anggota familinya rata-rata menjadi pedagang yang menjual hewan maupun tanaman.

Tapi, Latif ingin jalan niaga yang dia tempuh berbeda. Dia tak mau asal menjajakan hewan ternak musiman menjelang Idul Adha. Menurut dia, berjualan di pinggir jalan banyak risikonya.

Termasuk membuat hewan stres sehingga kualitasnya menurun. ”Sejak awal saya menganggap berjualan hewan ini ibadah. Jadi, saya ingin memberikan yang terbaik untuk mereka yang juga mau ibadah,” paparnya.

Pada sekitar 2016, dia nekat membuat kandang ternak di kawasan Petukangan Utara. Bermodal sebidang tanah yang dia miliki di kawasan Jakarta Selatan tersebut, Latif memulai dengan beternak 20 ekor kambing dan 8 ekor sapi.

Hidup di tengah keluarga pedagang tak lantas membuat bisnis yang dirintis langsung mulus. Banyak gejolak yang muncul, bahkan sejak awal ide pembuatan kandang. ”Banyak yang meragukan, emang bisa beternak di tengah kota?” kenangnya.

Di Jaksel pula, tempat ’’kaum literally” yang, setidaknya dalam asumsi sejumlah orang, hidup serbahedon. Tapi, Latif cuek dan tetap jalan dengan rencananya.

Sempat pula ada penolakan dari warga terkait ide pembuatan kandang ternak miliknya. Maklum, kandang itu berada di tengah permukiman padat penduduk. Ada kekhawatiran kandang miliknya menimbulkan bau tak sedap sehingga mengganggu warga.

Baca Juga :  Alasan Kemanusiaan, Jalur Non Formal Jadi Alternatif Untuk Aktivitas Ekonomi

Tapi, Latif berhasil menepis semua kekhawatiran tersebut. Jawa Pos menyaksikan image kandang ternak bau dan kumuh langsung terkubur dalam-dalam saat berada di kandang milik Latif.

Kandang yang kini berisi puluhan sapi dan kambing itu justru menyajikan suasana asri. Jauh dari kata bau tak sedap. Bahkan, tak ada lalat yang kerap mengerubuti hewan ternak di sana. Bikin betah untuk berlama-lama. ”Kuncinya ada tiga. Manajemen kandang, pakan, dan penghijauan,” ungkapnya.

Manajemen kandang wajib diperhatikan. Mulai kebersihan kandang hingga kebersihan hewan. Semua ternaknya wajib mandi dua kali sehari. Kemudian, pakan harus berkualitas, termasuk suplemen hingga vitamin yang diberikan.

Masalah pakan itu pun menjadi tantangan tersendiri. Banyak orang yang ragu beternak di tengah kota lantaran takut tak ada pakan. Padahal, menurut dia, pakan bisa disiasati sesuai potensi yang ada di masing-masing daerah. ”Jakarta misalnya, kebetulan ampas tahu dan tempe yang banyak, kita kasih itu,” papar pria yang akrab disapa Bang Latif tersebut.

Pemberian pakan ampas tahu dan tempe itu tak lantas menggugurkan pakan rumput. Menurut dia, sebagai kodrat hewan ruminansia, sapi dan kambing tetap butuh makanan hijau.

Hak itu pun dia penuhi melalui rumput segar yang diperoleh dari lahan sekitar lokasi kandang. ”Sebenarnya di Jakarta melimpah. Lahan kosong di sini jarang ditanami pertanian, makanya tumbuh rumput liar. Masih bisa ngarit (mencari rumput) di sana,” paparnya.

Bukan hanya kebersihan dan pakan, penghijauan juga menjadi kunci bebas bau di Kandang Betawi Muda. Area kandang terlihat dikelilingi pohon bambu.

Selain memberikan efek asri, pohon bambu ternyata diketahui merupakan antioksidan yang baik serta dapat memecah angin. Kemampuan memecah angin itulah yang akhirnya bisa menyaring udara yang keluar dari kandang sehingga tidak menimbulkan bau. Begitu pula sebaliknya.

Baca Juga :  Kewenangan Pengelolaan Berubah-ubah, Guru dan Murid yang Dirugikan

”Ini bukan bambu betung yang banyak kuntilanaknya ya, ini bambu jepang,” candanya.

Selain tak bau, suasana kandang sangat tenang. Tak ada lenguhan dari puluhan hewan ternak yang mayoritas sapi di sana. Mereka seolah sangat menikmati hidup.

Bagi Latif, hak para ternak itu wajib dipenuhi. Ada ataupun tidak wabah penyakit yang mengancam, pakan dan vitamin terbaik wajib dipenuhi.

Begitu pula dengan tempat tidur. Masing-masing sapi diberi karpet untuk tidur guna menghindari hawa dingin karena harus tidur di semen. ”Bayi kalau nangis kenapa? Gak nyaman atau lapar. Sama, hewan pun demikian,” ungkapnya.

Bisnis peternakan milik Latif sudah berhasil meraup omzet hingga miliaran rupiah. Saat ini kandang miliknya pun kerap menjadi jujukan warga untuk membeli ternak. Terutama menjelang Hari Raya Kurban. Ratusan sapi dari ras limosin, sapi bali, sapi madura, sapi metal, hingga sapi PO selalu tersedia menjelang Idul Adha.

Sepanjang enam tahun menekuni bisnis tersebut, tantangan demi tantangan berhasil dilewatinya. Termasuk saat hewan ternak miliknya sakit. Menurut Latif, sama seperti manusia, hewan sehat pun bisa tiba-tiba sakit, bahkan meninggal dunia.

Beruntung, sebagai lulusan fakultas kesehatan masyarakat, banyak ilmu tentang kesehatan, gizi, hingga obat-obatan yang pernah dia pelajari. Dengan begitu, ketika ternaknya sakit, ilmu tersebut bisa diaplikasikan pada mamalia itu. Tentu dengan catatan-catatan, seperti dosis yang lebih tinggi dibandingkan manusia. ”Terkait obat, apa yang diberikan ke manusia bisa diberikan ke hewan. Tapi, jangan sebaliknya ya. Hehe,” paparnya.

Hitung-hitungan rugi pun tak usah ditanya. Saat sakit, kadang ada saja yang tidak bisa disembuhkan. Solusinya tentu berakhir di pejagalan. Kalau sudah demikian, harga pun bisa turun drastis dari harga beli awal. Dari Rp 30 juta menjadi Rp 5 juta per ekor sapi.

”Harus kuat mental di situ. Tapi, karena dari awal niatnya ibadah, jadi ya saya libatkan Allah dalam bisnis,” jelasnya. (*/c7/ttg/JPG)

Peternakan Berkandang Asri tanpa Bau di Perkampungan Padat Jakarta Selatan

Asupan vitamin, ampas tahu-tempe, serta pohon bambu, itu beberapa kiat Abdul Latif menjalankan peternakan di tengah ibu kota. Ada karpet untuk masing-masing sapi demi menghindari dingin karena harus tidur di semen.

ZALZILATUL HIKMIA, Jakarta

SETELAN necis, kerja di segitiga elite Jakarta. Seperti juga banyak anak ibu kota lain, dulu, itulah bayangan Abdul Latif tentang masa depannya ketika masih duduk di bangku kuliah.

’’Sama sekali tak ada bayangan untuk menjadi peternak,” ungkap Latif saat ditemui di peternakan miliknya, Kandang Sapi Betawi Muda, di kawasan Petukangan Utara, Jakarta Selatan (Jaksel), pada Selasa (17/5).

Tapi, hidup berkata lain. Alumnus Universitas Indonesia (UI) tersebut justru banting setir. Latif memutuskan untuk menjadi pedagang mengikuti panggilan jiwanya. Kebetulan, dia juga lahir dan besar di keluarga wirausaha. Anggota familinya rata-rata menjadi pedagang yang menjual hewan maupun tanaman.

Tapi, Latif ingin jalan niaga yang dia tempuh berbeda. Dia tak mau asal menjajakan hewan ternak musiman menjelang Idul Adha. Menurut dia, berjualan di pinggir jalan banyak risikonya.

Termasuk membuat hewan stres sehingga kualitasnya menurun. ”Sejak awal saya menganggap berjualan hewan ini ibadah. Jadi, saya ingin memberikan yang terbaik untuk mereka yang juga mau ibadah,” paparnya.

Pada sekitar 2016, dia nekat membuat kandang ternak di kawasan Petukangan Utara. Bermodal sebidang tanah yang dia miliki di kawasan Jakarta Selatan tersebut, Latif memulai dengan beternak 20 ekor kambing dan 8 ekor sapi.

Hidup di tengah keluarga pedagang tak lantas membuat bisnis yang dirintis langsung mulus. Banyak gejolak yang muncul, bahkan sejak awal ide pembuatan kandang. ”Banyak yang meragukan, emang bisa beternak di tengah kota?” kenangnya.

Di Jaksel pula, tempat ’’kaum literally” yang, setidaknya dalam asumsi sejumlah orang, hidup serbahedon. Tapi, Latif cuek dan tetap jalan dengan rencananya.

Sempat pula ada penolakan dari warga terkait ide pembuatan kandang ternak miliknya. Maklum, kandang itu berada di tengah permukiman padat penduduk. Ada kekhawatiran kandang miliknya menimbulkan bau tak sedap sehingga mengganggu warga.

Baca Juga :  Kewenangan Pengelolaan Berubah-ubah, Guru dan Murid yang Dirugikan

Tapi, Latif berhasil menepis semua kekhawatiran tersebut. Jawa Pos menyaksikan image kandang ternak bau dan kumuh langsung terkubur dalam-dalam saat berada di kandang milik Latif.

Kandang yang kini berisi puluhan sapi dan kambing itu justru menyajikan suasana asri. Jauh dari kata bau tak sedap. Bahkan, tak ada lalat yang kerap mengerubuti hewan ternak di sana. Bikin betah untuk berlama-lama. ”Kuncinya ada tiga. Manajemen kandang, pakan, dan penghijauan,” ungkapnya.

Manajemen kandang wajib diperhatikan. Mulai kebersihan kandang hingga kebersihan hewan. Semua ternaknya wajib mandi dua kali sehari. Kemudian, pakan harus berkualitas, termasuk suplemen hingga vitamin yang diberikan.

Masalah pakan itu pun menjadi tantangan tersendiri. Banyak orang yang ragu beternak di tengah kota lantaran takut tak ada pakan. Padahal, menurut dia, pakan bisa disiasati sesuai potensi yang ada di masing-masing daerah. ”Jakarta misalnya, kebetulan ampas tahu dan tempe yang banyak, kita kasih itu,” papar pria yang akrab disapa Bang Latif tersebut.

Pemberian pakan ampas tahu dan tempe itu tak lantas menggugurkan pakan rumput. Menurut dia, sebagai kodrat hewan ruminansia, sapi dan kambing tetap butuh makanan hijau.

Hak itu pun dia penuhi melalui rumput segar yang diperoleh dari lahan sekitar lokasi kandang. ”Sebenarnya di Jakarta melimpah. Lahan kosong di sini jarang ditanami pertanian, makanya tumbuh rumput liar. Masih bisa ngarit (mencari rumput) di sana,” paparnya.

Bukan hanya kebersihan dan pakan, penghijauan juga menjadi kunci bebas bau di Kandang Betawi Muda. Area kandang terlihat dikelilingi pohon bambu.

Selain memberikan efek asri, pohon bambu ternyata diketahui merupakan antioksidan yang baik serta dapat memecah angin. Kemampuan memecah angin itulah yang akhirnya bisa menyaring udara yang keluar dari kandang sehingga tidak menimbulkan bau. Begitu pula sebaliknya.

Baca Juga :  Uang Belanja Hanya Rp 500 Ribu/Bulan, Saat Hamil pun Masih Sempat Dianiaya

”Ini bukan bambu betung yang banyak kuntilanaknya ya, ini bambu jepang,” candanya.

Selain tak bau, suasana kandang sangat tenang. Tak ada lenguhan dari puluhan hewan ternak yang mayoritas sapi di sana. Mereka seolah sangat menikmati hidup.

Bagi Latif, hak para ternak itu wajib dipenuhi. Ada ataupun tidak wabah penyakit yang mengancam, pakan dan vitamin terbaik wajib dipenuhi.

Begitu pula dengan tempat tidur. Masing-masing sapi diberi karpet untuk tidur guna menghindari hawa dingin karena harus tidur di semen. ”Bayi kalau nangis kenapa? Gak nyaman atau lapar. Sama, hewan pun demikian,” ungkapnya.

Bisnis peternakan milik Latif sudah berhasil meraup omzet hingga miliaran rupiah. Saat ini kandang miliknya pun kerap menjadi jujukan warga untuk membeli ternak. Terutama menjelang Hari Raya Kurban. Ratusan sapi dari ras limosin, sapi bali, sapi madura, sapi metal, hingga sapi PO selalu tersedia menjelang Idul Adha.

Sepanjang enam tahun menekuni bisnis tersebut, tantangan demi tantangan berhasil dilewatinya. Termasuk saat hewan ternak miliknya sakit. Menurut Latif, sama seperti manusia, hewan sehat pun bisa tiba-tiba sakit, bahkan meninggal dunia.

Beruntung, sebagai lulusan fakultas kesehatan masyarakat, banyak ilmu tentang kesehatan, gizi, hingga obat-obatan yang pernah dia pelajari. Dengan begitu, ketika ternaknya sakit, ilmu tersebut bisa diaplikasikan pada mamalia itu. Tentu dengan catatan-catatan, seperti dosis yang lebih tinggi dibandingkan manusia. ”Terkait obat, apa yang diberikan ke manusia bisa diberikan ke hewan. Tapi, jangan sebaliknya ya. Hehe,” paparnya.

Hitung-hitungan rugi pun tak usah ditanya. Saat sakit, kadang ada saja yang tidak bisa disembuhkan. Solusinya tentu berakhir di pejagalan. Kalau sudah demikian, harga pun bisa turun drastis dari harga beli awal. Dari Rp 30 juta menjadi Rp 5 juta per ekor sapi.

”Harus kuat mental di situ. Tapi, karena dari awal niatnya ibadah, jadi ya saya libatkan Allah dalam bisnis,” jelasnya. (*/c7/ttg/JPG)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/