Monday, January 26, 2026
25.8 C
Jayapura

“Suamiku dengan Temannya Terdampar di Sebuah Pulau, Katanya Masih Hidup”

Rekan sesama nelayan Agus, Jamal, menjelaskan bahwa periode Januari hingga Februari memang dikenal sebagai musim gelombang tinggi di perairan Jayapura. Tidak semua nelayan berani melaut di bulan-bulan ini. “Biasanya hanya nelayan dengan adrenalin tinggi yang berani melaut sampai 100–200 mil,” katanya.

Meski demikian, Jamal meyakini Agus cukup berpengalaman. Apalagi saat ini nelayan sudah dibantu aplikasi pemantau cuaca seperti Windy. “Saya yakin Agus juga pakai aplikasi itu,” ujarnya.

Menurut Jamal, pada 5 Januari lalu gelombang di perairan Jayapura memang cukup tinggi. Namun banyak nelayan tetap melaut karena faktor ekonomi. “Kita tidak pernah tahu musibah. Waktu itu banyak nelayan juga berangkat bersama Agus dan Sa’di,” jelasnya.

Baca Juga :  Belum Ada Solusi Konkret Terkait Politik Lokal dan Lemahnya Penegakan Hukum 

Hingga kini, para nelayan belum menemukan tanda-tanda keberadaan perahu Agus. “Kalau kami temukan, pasti kami bantu bawa mereka pulang,” tegas Jamal.

Ia menjelaskan, perahu fiber bermesin ganda sebenarnya cukup tangguh. Namun kerusakan mesin di tengah gelombang tinggi memang berisiko besar. “Kalau satu mesin rusak saja, sulit kembali ke darat. Apalagi cuaca sedang tidak bersahabat,” katanya.

Jika perahu tidak sampai terbalik, peluang selamat masih ada. Namun arah hanyut perahu sepenuhnya bergantung pada arus laut. “Biasanya bisa terbawa sampai perairan Papua Nugini (PNG). Dulu sudah pernah ada nelayan terdampar sampai ke sana,” ungkap Jamal.

Tim SAR Gabungan pun terus melakukan pemantauan hingga ke perairan perbatasan PNG. Namun hingga Rabu (14/1), hasilnya masih nihil. Humas SAR Jayapura, Silvia Yoku, mengatakan bahwa pada hari tersebut tidak dilakukan pencarian aktif, melainkan pemantauan. “Pencarian sebelumnya sudah sampai area perbatasan PNG dan tidak ditemukan tanda-tanda,” jelasnya. (*)

Baca Juga :  Biasanya Hanya Dua Kali, Selama Ramadan  Bisa Salat Lima Waktu di Mesjid

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Rekan sesama nelayan Agus, Jamal, menjelaskan bahwa periode Januari hingga Februari memang dikenal sebagai musim gelombang tinggi di perairan Jayapura. Tidak semua nelayan berani melaut di bulan-bulan ini. “Biasanya hanya nelayan dengan adrenalin tinggi yang berani melaut sampai 100–200 mil,” katanya.

Meski demikian, Jamal meyakini Agus cukup berpengalaman. Apalagi saat ini nelayan sudah dibantu aplikasi pemantau cuaca seperti Windy. “Saya yakin Agus juga pakai aplikasi itu,” ujarnya.

Menurut Jamal, pada 5 Januari lalu gelombang di perairan Jayapura memang cukup tinggi. Namun banyak nelayan tetap melaut karena faktor ekonomi. “Kita tidak pernah tahu musibah. Waktu itu banyak nelayan juga berangkat bersama Agus dan Sa’di,” jelasnya.

Baca Juga :  Penyelundupan Ganja dari PNG Digagalkan

Hingga kini, para nelayan belum menemukan tanda-tanda keberadaan perahu Agus. “Kalau kami temukan, pasti kami bantu bawa mereka pulang,” tegas Jamal.

Ia menjelaskan, perahu fiber bermesin ganda sebenarnya cukup tangguh. Namun kerusakan mesin di tengah gelombang tinggi memang berisiko besar. “Kalau satu mesin rusak saja, sulit kembali ke darat. Apalagi cuaca sedang tidak bersahabat,” katanya.

Jika perahu tidak sampai terbalik, peluang selamat masih ada. Namun arah hanyut perahu sepenuhnya bergantung pada arus laut. “Biasanya bisa terbawa sampai perairan Papua Nugini (PNG). Dulu sudah pernah ada nelayan terdampar sampai ke sana,” ungkap Jamal.

Tim SAR Gabungan pun terus melakukan pemantauan hingga ke perairan perbatasan PNG. Namun hingga Rabu (14/1), hasilnya masih nihil. Humas SAR Jayapura, Silvia Yoku, mengatakan bahwa pada hari tersebut tidak dilakukan pencarian aktif, melainkan pemantauan. “Pencarian sebelumnya sudah sampai area perbatasan PNG dan tidak ditemukan tanda-tanda,” jelasnya. (*)

Baca Juga :  Patut  Tetap Waspada Jika Terjadi Gempa

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Berita Terbaru

Artikel Lainnya