Friday, January 2, 2026
26.4 C
Jayapura

Letaknya Hanya Satu Jam dari Kota Sentani, Tapi Seperti di Pedalaman

Dari Kunjungan Bupati Jayapura Yunus Wonda ke SD Benggwin Progo

Sekolah Kayu di Tengah Kota, Bupati Jayapura Tersentuh Melihat SD Negeri Benggwin Progo Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk meningkatkan kemajuan suatu bangsa, jangan sampai bangunan infrastruktur yang tidak layak, menjadi penghambat pendidikan di kabupaten ini, seperti bangunan SD Negeri Benggwin Progo.

Laporan : Yohana_SENTANI

Di Kampung Benggwin Progo, Distrik Kemtuk, suara tawa anak-anak Sekolah Dasar Negeri Benggwin Progo tetap terdengar meski ruang belajar mereka hanya berdinding papan dan beralaskan tanah. Di tengah semangat kecil itu, gedung sekolah yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu justru tampak seperti bangunan yang terlupakan oleh waktu.

Jumat (7/11) lalu, Bupati Jayapura Yunus Wonda datang berkunjung bersama rombongan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Di hadapan para murid dan guru, ia menyaksikan langsung kondisi sekolah yang jauh dari kata layak. Hanya ada tiga ruang kelas dengan dinding-dinding kayu yang mulai lapuk. satu ruangan digunakan untuk dua rombongan belajar, sementara ruang guru dan rumah dinas tak pernah ada.

Baca Juga :  Libatkan 40 UMKM RI-PNG, Diharap Bisa Dongkrak Perekonomian di Perbatasan

“Sekolah ini seperti berada di pedalaman karena tidak tersentuh pembangunan, padahal letaknya masih di wilayah perkotaan,” ujar Bupati dengan nada prihatin.

Kunjungan itu menjadi momen penuh keheningan. Di bawah terik matahari siang, Bupati berdiri menatap dinding kayu yang mulai lapuk. Di tempat itu, para guru terus berjuang dengan segala keterbatasan. Demi memenuhi kebutuhan belajar-mengajar, mereka bahkan harus menjual hasil kebun seperti cabai rawit untuk membeli spidol, buku, dan perlengkapan lainnya.

“Sekolah ini hanya berjarak satu jam dari Sentani, tapi kondisinya seolah di ujung daerah. Ini sangat menyedihkan,” kata Yunus Wonda usai meninjau ruangan.

Ia pun langsung menghubungi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura agar segera mengambil langkah cepat. Bupati menegaskan, pendidikan di Kabupaten Jayapura tidak boleh tertinggal hanya karena bangunan sekolah tidak layak.

Baca Juga :  Pemkab Jayapura, Dukung Pengembangan Budidaya Ikan Air Tawar di Kampung Sereh

“Kondisi seperti ini membuat kita malu. Masa sekolah bertahun-tahun dibiarkan seperti ini, padahal ini hasil swadaya orang tua murid,” tegasnya.

Bupati juga meminta agar sekolah itu segera dimasukkan dalam program pembangunan tahun mendatang, termasuk penambahan ruang kelas dan fasilitas guru.

Dari Kunjungan Bupati Jayapura Yunus Wonda ke SD Benggwin Progo

Sekolah Kayu di Tengah Kota, Bupati Jayapura Tersentuh Melihat SD Negeri Benggwin Progo Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk meningkatkan kemajuan suatu bangsa, jangan sampai bangunan infrastruktur yang tidak layak, menjadi penghambat pendidikan di kabupaten ini, seperti bangunan SD Negeri Benggwin Progo.

Laporan : Yohana_SENTANI

Di Kampung Benggwin Progo, Distrik Kemtuk, suara tawa anak-anak Sekolah Dasar Negeri Benggwin Progo tetap terdengar meski ruang belajar mereka hanya berdinding papan dan beralaskan tanah. Di tengah semangat kecil itu, gedung sekolah yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu justru tampak seperti bangunan yang terlupakan oleh waktu.

Jumat (7/11) lalu, Bupati Jayapura Yunus Wonda datang berkunjung bersama rombongan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Di hadapan para murid dan guru, ia menyaksikan langsung kondisi sekolah yang jauh dari kata layak. Hanya ada tiga ruang kelas dengan dinding-dinding kayu yang mulai lapuk. satu ruangan digunakan untuk dua rombongan belajar, sementara ruang guru dan rumah dinas tak pernah ada.

Baca Juga :  Akan Gelar Konser Terbesar di Papua Selatan, Tidak Lagi Datangkan Artis Luar

“Sekolah ini seperti berada di pedalaman karena tidak tersentuh pembangunan, padahal letaknya masih di wilayah perkotaan,” ujar Bupati dengan nada prihatin.

Kunjungan itu menjadi momen penuh keheningan. Di bawah terik matahari siang, Bupati berdiri menatap dinding kayu yang mulai lapuk. Di tempat itu, para guru terus berjuang dengan segala keterbatasan. Demi memenuhi kebutuhan belajar-mengajar, mereka bahkan harus menjual hasil kebun seperti cabai rawit untuk membeli spidol, buku, dan perlengkapan lainnya.

“Sekolah ini hanya berjarak satu jam dari Sentani, tapi kondisinya seolah di ujung daerah. Ini sangat menyedihkan,” kata Yunus Wonda usai meninjau ruangan.

Ia pun langsung menghubungi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura agar segera mengambil langkah cepat. Bupati menegaskan, pendidikan di Kabupaten Jayapura tidak boleh tertinggal hanya karena bangunan sekolah tidak layak.

Baca Juga :  Sejak 1982 Tiga Kali Ganti Nama, Tak Lagi Muda Namun Tetap Miliki Kharisma

“Kondisi seperti ini membuat kita malu. Masa sekolah bertahun-tahun dibiarkan seperti ini, padahal ini hasil swadaya orang tua murid,” tegasnya.

Bupati juga meminta agar sekolah itu segera dimasukkan dalam program pembangunan tahun mendatang, termasuk penambahan ruang kelas dan fasilitas guru.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya