“Sekarang saya ambil di jalan, tetapi kalau di rumah warga saya minta dulu,” ujarnya.
Di kawasan pemakaman Buper Waena itu, selain diisi oleh warga yang kesehariannya menjual bunga tabur makam juga mereka yang berprofesi sebagai penggali kubur dan pembuat batu nisan. Biasanya untuk jasa penggalian kubur itu dibandrol dengan harga Rp 3 jutaan , sudah sekaligus dengan batu nisannya termasuk papan kayu untuk pengecoran.
“Istilahnya mereka tinggal terima bersih, kita sudah siapkan termasuk batu nisannya,” jelasnya.
Pasca penutupan akses jalan masuk ke kawasan pemakaman Kristen dan Muslim di Buper Waena itu, kunjungan masyarakat sudah mulai berkurang drastis. Yang datang ke sana biasanya mereka yang ingin melakukan ziarah di makam keluarga.
Namun tidak sedikit juga yang harus pulang sebelum sampai ke tempat pemakaman karena tidak kuat untuk berjalan kaki terutama mereka yang sudah usia lanjut. Sebelum dipalang kendaraan roda empat maupun roda dua langsung bisa parkir di kawasan pemakaman umum.
“Sekarang selalu ada orang datang, tetapi tidak banyak. Kalau orang tua biasanya mereka tidak sanggup jalan, mereka pulang kembali,”katanya.
Dia menuturkan dalam sehari jasa gali kubur lebih dari dua liang lahat, terkadang sampai tiga liang. Satu kali menggali biasanya mereka turun dengan kekuatan penuh, antara lima sampai enam orang. Meski pekerjaan itu tidak mudah, namun dirinya mengaku sangat menikmati pekerjaan itu. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos