Namun lima bulan terakhir atau sejak Oktober 2025, tradisi itu hidup kembali. Dan dua bulan belakangan, popularitasnya melejit berkat medsos. Pesertanya bisa mencapai 150 orang, bahkan lebih. Agar tetap aman, panitia hanya menggelar kegiatan itu di hari Minggu. Pesertanya kian ramai selama bulan Ramadan. Mereka tak hanya berasal dari Pasuruan. Peserta datang juga dari berbagai kota: Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Probolinggo, Madiun, Kediri, bahkan Pati, Jawa Tengah. Mereka yang berasal dari luar kota itu, kerap datang lebih awal dan menginap di sekitar kawasan wisata Tretes.
Bagi sebagian orang, gledekan bukan sekadar permainan, melainkan pengalaman seru. Eko, 36, warga Surabaya, awalnya hanya menonton setelah melihat video viral. Kini, ia rutin ikut setiap Minggu bersama istri dan anaknya. Gledekan miliknya dirakit di bengkel las dengan biaya sekitar Rp 1,5 juta. Menggunakan rangka pipa besi, setir seperti motor, satu roda karet di depan, dan dua roda laker di belakang.
“Awalnya hanya melihat-lihat setelah viral di TikTok, kemudian tertarik dan mencoba ikut. Ternyata asyik, memacu adrenalin. Pertama saya saja yang ikut, selanjutnya anak ikut dan bonceng di depan,” ucapnya tersenyum. Menjelang matahari terbit, peserta dan penontonya makin ramai. Di sepanjang sisi jalan, penonton berjejer di luar aspal. Ada yang duduk di trotoar, berdiri atau merekam setiap momen dengan ponsel mereka.
Sorak sorai terdengar setiap kali satu gledekan melesat cepat melewati tikungan.Penonton tidak hanya warga sekitar, namun juga luar kota. Warga sekitar biasanya datang dengan jalan kaki dan mengendarai motor. Sedangkan warga luar naik motor, mobil pribadi, hingga pikap. “Sangat menghibur, juga seru. Jika melihatnya dari dekat, sekaligus biar tahu sendiri dan tidak penasaran,” ucap Della, salah seorang penonton, gadis asal Sidoarjo.