Thursday, February 12, 2026
26 C
Jayapura

Harga Pangan dan Emas Picu Inflasi Papua Selatan di Tengah Deflasi Papua

JAYAPURA – Seluruh provinsi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua tercatat mengalami deflasi secara bulanan pada Januari 2026, kecuali Provinsi Papua Selatan yang mengalami inflasi sebesar 1,06 persen (month to month/mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Warsono mengatakan perkembangan tersebut merujuk pada rilis inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) Januari 2026. Inflasi di Papua Selatan dipicu oleh menipisnya stok pangan lokal pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru serta ketidakpastian cuaca.

Sementara itu, inflasi tahunan Januari 2026 secara agregat tetap tercatat meningkat. Kenaikan ini dipengaruhi oleh efek dasar yang rendah (low base effect) akibat diskon tarif listrik pada Januari 2025.

Baca Juga :  BI Prediksi Perputaran Uang di Pilkada dan Nataru Capai Rp 7,56 Triliun

“Selain itu, ketidakpastian global turut mendorong kenaikan harga emas. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi Januari 2026 terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” kata Warsono, Rabu (4/2).

Ia menambahkan, peningkatan harga juga sejalan dengan naiknya permintaan pada periode awal tahun yang tidak diimbangi oleh pasokan pangan lokal.

Adapun perkembangan Inflasi per Provinsi yaitu Provinsi Papua mencatat deflasi bulanan sebesar 0,36 persen (mtm), dengan inflasi tahunan 3,55 persen (year on year/yoy). Deflasi terutama disumbang oleh komoditas angkutan udara, buah pinang, tomat, sirih, dan cabai rawit. Sementara itu, inflasi didorong oleh kenaikan harga kangkung, emas perhiasan, ikan tuna, ikan kawalina, dan sigaret putih mesin.

Baca Juga :  Terbang Tiga Menit, Mesin Pesawat Kargo Meledak

JAYAPURA – Seluruh provinsi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua tercatat mengalami deflasi secara bulanan pada Januari 2026, kecuali Provinsi Papua Selatan yang mengalami inflasi sebesar 1,06 persen (month to month/mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Warsono mengatakan perkembangan tersebut merujuk pada rilis inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) Januari 2026. Inflasi di Papua Selatan dipicu oleh menipisnya stok pangan lokal pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru serta ketidakpastian cuaca.

Sementara itu, inflasi tahunan Januari 2026 secara agregat tetap tercatat meningkat. Kenaikan ini dipengaruhi oleh efek dasar yang rendah (low base effect) akibat diskon tarif listrik pada Januari 2025.

Baca Juga :  Papua Belum Terapkan BPJS Kesehatan Sebagai Syarat Urus SIM

“Selain itu, ketidakpastian global turut mendorong kenaikan harga emas. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi Januari 2026 terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” kata Warsono, Rabu (4/2).

Ia menambahkan, peningkatan harga juga sejalan dengan naiknya permintaan pada periode awal tahun yang tidak diimbangi oleh pasokan pangan lokal.

Adapun perkembangan Inflasi per Provinsi yaitu Provinsi Papua mencatat deflasi bulanan sebesar 0,36 persen (mtm), dengan inflasi tahunan 3,55 persen (year on year/yoy). Deflasi terutama disumbang oleh komoditas angkutan udara, buah pinang, tomat, sirih, dan cabai rawit. Sementara itu, inflasi didorong oleh kenaikan harga kangkung, emas perhiasan, ikan tuna, ikan kawalina, dan sigaret putih mesin.

Baca Juga :  Indosat Ooredoo Hutchison Bagikan Dividen Lebih Rp 2,7 Triliun

Berita Terbaru

Artikel Lainnya