Satu kelompok warga yang terlibat bentrok saat berkumpul, Rabu (27/11). Bentrok yang terjadi antar dua kelompok warga mengakibatkan satu orang tewas. (Foto: Kapolres Puncak/Pendam XVII Cenderawasih)
Sementara empat orang lainnya mengalami luka berat dan ringan. Dua korban luka berat akibat terkena panah telah dirujuk ke RS Mimika. Sedangkan jenazah Kimiyer Tabuni telah dipulangkan ke Kampung Wandepogak, Distrik Irimulia, Puncak Jaya.
Aparat TNI ketika mengamankan para murid SD saat terjadi bentrok (Foto: Kapolres Puncak/Pendam XVII Cenderawasih)
AKBP Achmad Fauzan menegaskan bahwa insiden ini masih berkaitan dengan tensi politik sisa Pilkada sebelumnya, di mana kedua kubu belum sepenuhnya berdamai. Proses perdamaian adat yang belum tuntas menjadi salah satu pemicu kelompok masih terbelah.
“Kelompok-kelompok itu kan masih kental, belum bisa membaur sepenuhnya karena proses adat belum selesai. Pembayaran denda adat juga belum tuntas,” jelasnya.
Menurut Kapolres, sebelumnya kedua kubu telah menjalani prosesi adat potong tali kah dan potong busur sebagai simbol perdamaian, namun masih terdapat rangkaian perdamaian adat yang belum dilaksanakan sehingga ketegangan antar kubu tetap bertahan. “Memang persoalan akibat beda pilihan politik di Puncak ini masih sangat kental,” tambahnya.
Tidak ada warga yang ditahan terkait insiden tersebut. Aparat menilai situasi pertikaian massal antar kelompok warga menyulitkan upaya penegakan hukum secara langsung.
“Kita tidak bisa mengambil langkah penahanan karena kalau sudah konflik begitu, menahan seseorang juga sulit. Namun pada intinya aparat keamanan sudah turun melakukan pengamanan untuk menjaga situasi tetap kondusif,” ujarnya.
Sementara empat orang lainnya mengalami luka berat dan ringan. Dua korban luka berat akibat terkena panah telah dirujuk ke RS Mimika. Sedangkan jenazah Kimiyer Tabuni telah dipulangkan ke Kampung Wandepogak, Distrik Irimulia, Puncak Jaya.
Aparat TNI ketika mengamankan para murid SD saat terjadi bentrok (Foto: Kapolres Puncak/Pendam XVII Cenderawasih)
AKBP Achmad Fauzan menegaskan bahwa insiden ini masih berkaitan dengan tensi politik sisa Pilkada sebelumnya, di mana kedua kubu belum sepenuhnya berdamai. Proses perdamaian adat yang belum tuntas menjadi salah satu pemicu kelompok masih terbelah.
“Kelompok-kelompok itu kan masih kental, belum bisa membaur sepenuhnya karena proses adat belum selesai. Pembayaran denda adat juga belum tuntas,” jelasnya.
Menurut Kapolres, sebelumnya kedua kubu telah menjalani prosesi adat potong tali kah dan potong busur sebagai simbol perdamaian, namun masih terdapat rangkaian perdamaian adat yang belum dilaksanakan sehingga ketegangan antar kubu tetap bertahan. “Memang persoalan akibat beda pilihan politik di Puncak ini masih sangat kental,” tambahnya.
Tidak ada warga yang ditahan terkait insiden tersebut. Aparat menilai situasi pertikaian massal antar kelompok warga menyulitkan upaya penegakan hukum secara langsung.
“Kita tidak bisa mengambil langkah penahanan karena kalau sudah konflik begitu, menahan seseorang juga sulit. Namun pada intinya aparat keamanan sudah turun melakukan pengamanan untuk menjaga situasi tetap kondusif,” ujarnya.