Monday, March 2, 2026
26.9 C
Jayapura

Paket Kering MBG Bikin Elus Dada

JAYAPURA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tetap berjalan selama bulan Ramadan kembali menjadi sorotan. Jika sebelumnya yang disinggung adalah soal kondisi makanan yang belum stabil dimana ada yang keras, basi, berbau, kini berkaitan dengan kadar gizi. Itu juga tak lepas dari menu kering yang disajikan selama ramadan ini.

Kacang goreng atau kripik tempe dan sepotong roti menjadi topik yang dibahas. Ada juga yang menyertakan kurma 3 biji atau diganti dengan rambutan 3 biji termasuk jika selama ini diberikan susu kotak namun ada yang memberikan susu sachet. Artinya tidak bisa langsung dikonsumsi karena harus memasak air lebih dulu.

1-MBG Ramadan1
Beberapa menu MBG paket kering yang sempat diposting netizen merespon kualitas gizi, Kamis (26/2). (Foto: Jimi/Cepos)

Pembagian MBG juga tetap dilakukan meski terjadi perubahan jadwal. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen agar layanan pemenuhan gizi anak tidak terputus, meski menghadapi sejumlah tantangan teknis.

Pantauan Cenderawasih Pos, baru kali ini banyak masyarakat yang memposting menu MBG yang diterima anak-anak di sekolah. Publik menilai menu ini masih jauh dari kata bergizi. Menu makanan kering ini terdiri dari roti tawar, susu kemasan, kacang polong, wafer, biskuit, telur rebus, buah, keju, kolak patatas dan salad buah.

Merespon hal tersebut Ahli Gizi Poltekkes Jayapura Sri iriyanti mengatakan bahwa menu kering yang dibagikan ke siswa selama bulan Ramadan itu dinilai kurang memenuhi standar gizi terutama kandungan proteinnya. Disatu sisi Sri iriyanti menyampaikan bahwa untuk menentukan standar pemenuhan gizi maka, harus dilihat dari segi porsinya. Seberapa banyak dan sasarannya ke siapa, harus sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak-anak atau penerima manfaat MBG.

Baca Juga :  Prostitusi Online Jadi Penyumbang Pengidap HIV Aids di Jayapura

“Kalau diliat sekilas dari jenis menunya berupa kacang, roti, dan susu kemasan maka masih kurang memenuhi standar gizi terutama kandungan proteinnya,” kata Sri kepada Cenderawasih Pos, Kamis (26/2). Terkait dengan kolak petatas yang dibagikan oleh pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di beberapa sekolah di wilayah Abepura, Sri menyebut hanya mengandung karbohidrat.

Sementara terkait dengan salat buah yang dibagikan, Kepala Jurusan Gizi Poltekkes Jayapura itu berangap lebih baik dari kolak. Karena harus dimakan segera tidak bisa disimpan mengingat kualitas cepat rusak ketika disimpan lama tanpa mengunakan kulkas. “Nah kalo salat buah masih lebih bagus dari kolak. Tetapi harus dimakan segera, soalnya kalau disimpan sampe buka puasa sore kualitasnya udah gak bagus kecuali disimpan di kulkas,” pungkasnya.

Sebelumnya kepala SPPG distrik Abepura, Nurfitra mengatakan bahwa untuk menu MBG selama bulan puasa telah diatur oleh Badan Gizi Nasional (BGN) pusat di Jakarta yakni terdiri dari dua macam. Pertama, Paket makanan kering (snack) untuk sekolah yang mayorits brpuasae. Kemudian yang kedua paket makanan basah (ompreng) untuk sekolah yang mayortas muridnya tidak berpuasa. “Untk menu bulan puasa sesuai peraturan terbaru dari pusat, ada dua macam ada paket makanan kering atau snack dan paket makanan basah (ompreng)” pungkasnya.

Baca Juga :  Dana OPD Pemkot Masih Tersisa Ratusan Miliar 

Beberapa orang tua siswa ikut berkomentar. “Saya kaget saja anak saya cerita lalu membawa pulang menu MBG nya, masak sih dikasih kacang goreng atau kripik tempe begitu. Ini gizinya dimana?,” tanya Rosita. Ia menyampaikan untuk buah kadang digunakan jeruk maupun pisang. Namun ada juga buah anggur 4 biji dan untuk proteinnya akhirnya dibuat seperti abon ikan. “Yah terpaksa anak saya hanya bawa pulang dan tidak dimakan. Kami pikirnya kalau hanya ini tentu semua orang tua bisa menyiapkan,” imbuhnya.

Rosita berpendapat jika disajikan dalam bentuk menu makanan tentu akan lebih baik jika berbentuk uang Rp 15 ribu yang diberikan karena dipastikan orang tua bisa menyajikan lebih beragam. “Kalau menurut saya mending kasih mentahnya saja, uangnya saja biar kami yang belanja,” tutupnya. (jim/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

JAYAPURA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tetap berjalan selama bulan Ramadan kembali menjadi sorotan. Jika sebelumnya yang disinggung adalah soal kondisi makanan yang belum stabil dimana ada yang keras, basi, berbau, kini berkaitan dengan kadar gizi. Itu juga tak lepas dari menu kering yang disajikan selama ramadan ini.

Kacang goreng atau kripik tempe dan sepotong roti menjadi topik yang dibahas. Ada juga yang menyertakan kurma 3 biji atau diganti dengan rambutan 3 biji termasuk jika selama ini diberikan susu kotak namun ada yang memberikan susu sachet. Artinya tidak bisa langsung dikonsumsi karena harus memasak air lebih dulu.

1-MBG Ramadan1
Beberapa menu MBG paket kering yang sempat diposting netizen merespon kualitas gizi, Kamis (26/2). (Foto: Jimi/Cepos)

Pembagian MBG juga tetap dilakukan meski terjadi perubahan jadwal. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen agar layanan pemenuhan gizi anak tidak terputus, meski menghadapi sejumlah tantangan teknis.

Pantauan Cenderawasih Pos, baru kali ini banyak masyarakat yang memposting menu MBG yang diterima anak-anak di sekolah. Publik menilai menu ini masih jauh dari kata bergizi. Menu makanan kering ini terdiri dari roti tawar, susu kemasan, kacang polong, wafer, biskuit, telur rebus, buah, keju, kolak patatas dan salad buah.

Merespon hal tersebut Ahli Gizi Poltekkes Jayapura Sri iriyanti mengatakan bahwa menu kering yang dibagikan ke siswa selama bulan Ramadan itu dinilai kurang memenuhi standar gizi terutama kandungan proteinnya. Disatu sisi Sri iriyanti menyampaikan bahwa untuk menentukan standar pemenuhan gizi maka, harus dilihat dari segi porsinya. Seberapa banyak dan sasarannya ke siapa, harus sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak-anak atau penerima manfaat MBG.

Baca Juga :  Vaksin Sinovac Diakui WHO

“Kalau diliat sekilas dari jenis menunya berupa kacang, roti, dan susu kemasan maka masih kurang memenuhi standar gizi terutama kandungan proteinnya,” kata Sri kepada Cenderawasih Pos, Kamis (26/2). Terkait dengan kolak petatas yang dibagikan oleh pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di beberapa sekolah di wilayah Abepura, Sri menyebut hanya mengandung karbohidrat.

Sementara terkait dengan salat buah yang dibagikan, Kepala Jurusan Gizi Poltekkes Jayapura itu berangap lebih baik dari kolak. Karena harus dimakan segera tidak bisa disimpan mengingat kualitas cepat rusak ketika disimpan lama tanpa mengunakan kulkas. “Nah kalo salat buah masih lebih bagus dari kolak. Tetapi harus dimakan segera, soalnya kalau disimpan sampe buka puasa sore kualitasnya udah gak bagus kecuali disimpan di kulkas,” pungkasnya.

Sebelumnya kepala SPPG distrik Abepura, Nurfitra mengatakan bahwa untuk menu MBG selama bulan puasa telah diatur oleh Badan Gizi Nasional (BGN) pusat di Jakarta yakni terdiri dari dua macam. Pertama, Paket makanan kering (snack) untuk sekolah yang mayorits brpuasae. Kemudian yang kedua paket makanan basah (ompreng) untuk sekolah yang mayortas muridnya tidak berpuasa. “Untk menu bulan puasa sesuai peraturan terbaru dari pusat, ada dua macam ada paket makanan kering atau snack dan paket makanan basah (ompreng)” pungkasnya.

Baca Juga :  Lapak Pedagang di Pasar Sentral Hamadi Ditata Ulang

Beberapa orang tua siswa ikut berkomentar. “Saya kaget saja anak saya cerita lalu membawa pulang menu MBG nya, masak sih dikasih kacang goreng atau kripik tempe begitu. Ini gizinya dimana?,” tanya Rosita. Ia menyampaikan untuk buah kadang digunakan jeruk maupun pisang. Namun ada juga buah anggur 4 biji dan untuk proteinnya akhirnya dibuat seperti abon ikan. “Yah terpaksa anak saya hanya bawa pulang dan tidak dimakan. Kami pikirnya kalau hanya ini tentu semua orang tua bisa menyiapkan,” imbuhnya.

Rosita berpendapat jika disajikan dalam bentuk menu makanan tentu akan lebih baik jika berbentuk uang Rp 15 ribu yang diberikan karena dipastikan orang tua bisa menyajikan lebih beragam. “Kalau menurut saya mending kasih mentahnya saja, uangnya saja biar kami yang belanja,” tutupnya. (jim/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya