Saturday, January 17, 2026
25.2 C
Jayapura

Kegagalan Komunikasi, Ketika Sistem tidak Berbicara dan Nyawa yang Menjawab

Menurutnya Empati adalah inti pelayanan kesehatan. Namun dalam peristiwa yang terjadi bagi Ibu Irene, empati itu seakan tak hadir. Penolakan berulang mencerminkan bobroknya prosedur pelayanan medis di Kota Jayapura dan luka hati yang dalam.

“Ibu Irene tidak hanya mati karena komplikasi kehamilan. Ia mati karena tidak ada yang berkata dengan hati, “Bu, kami siap bantu. Masuk dulu. Kami lihat dulu,” tulis dokter.

Ucapnya pelayanan tanpa empati adalah pelayanan yang kehilangan jiwa. Ia (Alma Irena) meninggal bukan karena Tuhan tidak menyertai, tetapi karena kemanusiaan tidak hadir pada waktunya.

Mewakili POGI Papua dr.Apter mengatakan bahwa pihaknya berdiri bersama keluarga, menghadapi luka ini bersama. Sebutnya sebagai garda terdepan kesehatan ibu dan anak, POGI tidak boleh diam. Dengan adanya peristiwa ini berharap kedepannya pelayanan kesehatan disetiap rumah sakit yang beralaskan empati. Bukan hanya standar prosedur, tetapi hati yang mendengar dan tangan yang menolong.

Baca Juga :  Demo Maxim Tak Pengaruhi Grab dan Gojek

Kemudian memperbaiki jalur komunikasi emergensi agar setiap ibu Papua mendapatkan akses cepat tanpa birokrasi yang membunuh. Selain itu mendampingi keluarga dalam trauma dan duka. Serta menjadi menjadi jembatan rekonsiliasi dan pemulihan dengan keluarga yang duka.

“Mereka bukan hanya kehilangan istri dan ibu mereka kehilangan kepercayaan terhadap sistem. POGI hadir bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk memperbaiki, memulihkan, dan melindungi kehidupan ke depan,” sebutnya.

Lebih lanjut ketua POGI Papua mengatakan jika pelayanan hanya mengutamakan, formulir, administrasi, kapasitas, dan kebijakan, maka kita telah kehilangan panggilan yang suci. Pelayanan sejati menurutnya dimulai dari rasa peduli, bukan dari lembaran prosedur. Dunia kesehatan harus mengingat, nyawa tidak menunggu formulir, keluarga tidak menunggu administrasi, ibu hamil tidak menunggu rapat internal.

Baca Juga :  Pemerintah Pusat Disebut Terlibat Dalam Pelanggaran HAM

“Kita harus hadir saat itu juga karena setiap detik adalah kesempatan menyelamatkan. Kematian Ibu Irene Sokoy adalah luka bagi Papua. Luka bagi pelayanan medis dan luka bagi bangsa,” ujarnya.

Karena itu dia berharap belajar dari peristiwa tersebut ke depannya harus melahirkan pembaruan pelayanan seperti; komunikasi yang cepat dan hidup, empati yang nyata dalam tindakan, respons yang mengutamakan nyawa dan hati pelayanan yang kembali kepada kemanusiaan.

“POGI berkomitmen memperjuangkan agar tidak ada lagi ibu yang meninggal dalam perjalanan mencari pertolongan. Kiranya pelayanan kita semakin dipenuhi kasih, empati, dan tanggung jawab,” pungkasnya. (jim/rel/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Menurutnya Empati adalah inti pelayanan kesehatan. Namun dalam peristiwa yang terjadi bagi Ibu Irene, empati itu seakan tak hadir. Penolakan berulang mencerminkan bobroknya prosedur pelayanan medis di Kota Jayapura dan luka hati yang dalam.

“Ibu Irene tidak hanya mati karena komplikasi kehamilan. Ia mati karena tidak ada yang berkata dengan hati, “Bu, kami siap bantu. Masuk dulu. Kami lihat dulu,” tulis dokter.

Ucapnya pelayanan tanpa empati adalah pelayanan yang kehilangan jiwa. Ia (Alma Irena) meninggal bukan karena Tuhan tidak menyertai, tetapi karena kemanusiaan tidak hadir pada waktunya.

Mewakili POGI Papua dr.Apter mengatakan bahwa pihaknya berdiri bersama keluarga, menghadapi luka ini bersama. Sebutnya sebagai garda terdepan kesehatan ibu dan anak, POGI tidak boleh diam. Dengan adanya peristiwa ini berharap kedepannya pelayanan kesehatan disetiap rumah sakit yang beralaskan empati. Bukan hanya standar prosedur, tetapi hati yang mendengar dan tangan yang menolong.

Baca Juga :  Wali Kota Paparkan Arah Pembangunan dan Potensi Wilayah

Kemudian memperbaiki jalur komunikasi emergensi agar setiap ibu Papua mendapatkan akses cepat tanpa birokrasi yang membunuh. Selain itu mendampingi keluarga dalam trauma dan duka. Serta menjadi menjadi jembatan rekonsiliasi dan pemulihan dengan keluarga yang duka.

“Mereka bukan hanya kehilangan istri dan ibu mereka kehilangan kepercayaan terhadap sistem. POGI hadir bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk memperbaiki, memulihkan, dan melindungi kehidupan ke depan,” sebutnya.

Lebih lanjut ketua POGI Papua mengatakan jika pelayanan hanya mengutamakan, formulir, administrasi, kapasitas, dan kebijakan, maka kita telah kehilangan panggilan yang suci. Pelayanan sejati menurutnya dimulai dari rasa peduli, bukan dari lembaran prosedur. Dunia kesehatan harus mengingat, nyawa tidak menunggu formulir, keluarga tidak menunggu administrasi, ibu hamil tidak menunggu rapat internal.

Baca Juga :  Antisipasi Perdagangan Orang, Wakapolda Datangi Batas Negara 

“Kita harus hadir saat itu juga karena setiap detik adalah kesempatan menyelamatkan. Kematian Ibu Irene Sokoy adalah luka bagi Papua. Luka bagi pelayanan medis dan luka bagi bangsa,” ujarnya.

Karena itu dia berharap belajar dari peristiwa tersebut ke depannya harus melahirkan pembaruan pelayanan seperti; komunikasi yang cepat dan hidup, empati yang nyata dalam tindakan, respons yang mengutamakan nyawa dan hati pelayanan yang kembali kepada kemanusiaan.

“POGI berkomitmen memperjuangkan agar tidak ada lagi ibu yang meninggal dalam perjalanan mencari pertolongan. Kiranya pelayanan kita semakin dipenuhi kasih, empati, dan tanggung jawab,” pungkasnya. (jim/rel/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Berita Terbaru

Artikel Lainnya