Martinus turut mengingatkan ancaman penurunan suhu ekstrem di wilayah dataran tinggi Papua yang dapat berdampak terhadap tanaman hortikultura. Ia menyebut fenomena embun beku atau embun upas sebagai salah satu kondisi yang perlu diwaspadai petani.
Fenomena tersebut, menurutnya, dapat menyebabkan kerusakan pada daun tanaman, termasuk daun ubi dan sayuran, sehingga berpotensi menurunkan hasil produksi pertanian. Namun, tingkat kejadian dan dampak embun beku di setiap wilayah perlu dipastikan melalui pengamatan lapangan serta kajian pertanian.
Ia menjelaskan, sayuran hortikultura seperti sawi, kubis, dan daun ubi juga memiliki kerentanan terhadap kekurangan air. Apabila kekeringan berlangsung dalam waktu lama, produksi sayuran dapat menurun dan berpotensi memengaruhi ketersediaan pangan segar di pasar lokal Moanemani.
“Tanpa adanya hujan, tanaman sayuran mengalami penurunan produksi drastis hanya dalam rentang beberapa minggu kemarau, sehingga dapat memicu kelangkaan sayuran segar di pasar lokal Moanemani,” jelas Martinus.
“Ketika kebun rusak akibat El Niño, warga langsung kehilangan sumber makanan utama harian tanpa adanya pasokan pengganti yang siap pakai di tingkat lokal,” katanya.
Berdasarkan rekapitulasi data yang disampaikan Martinus, kerusakan lahan pertanian tercatat tersebar di 79 kampung pada 10 distrik di Kabupaten Dogiyai. Total luas lahan yang dilaporkan terdampak mencapai 2.467 hektare, dengan jumlah masyarakat terdampak sebanyak 90.040 jiwa.
Martinus turut mengingatkan ancaman penurunan suhu ekstrem di wilayah dataran tinggi Papua yang dapat berdampak terhadap tanaman hortikultura. Ia menyebut fenomena embun beku atau embun upas sebagai salah satu kondisi yang perlu diwaspadai petani.
Fenomena tersebut, menurutnya, dapat menyebabkan kerusakan pada daun tanaman, termasuk daun ubi dan sayuran, sehingga berpotensi menurunkan hasil produksi pertanian. Namun, tingkat kejadian dan dampak embun beku di setiap wilayah perlu dipastikan melalui pengamatan lapangan serta kajian pertanian.
Ia menjelaskan, sayuran hortikultura seperti sawi, kubis, dan daun ubi juga memiliki kerentanan terhadap kekurangan air. Apabila kekeringan berlangsung dalam waktu lama, produksi sayuran dapat menurun dan berpotensi memengaruhi ketersediaan pangan segar di pasar lokal Moanemani.
“Tanpa adanya hujan, tanaman sayuran mengalami penurunan produksi drastis hanya dalam rentang beberapa minggu kemarau, sehingga dapat memicu kelangkaan sayuran segar di pasar lokal Moanemani,” jelas Martinus.
“Ketika kebun rusak akibat El Niño, warga langsung kehilangan sumber makanan utama harian tanpa adanya pasokan pengganti yang siap pakai di tingkat lokal,” katanya.
Berdasarkan rekapitulasi data yang disampaikan Martinus, kerusakan lahan pertanian tercatat tersebar di 79 kampung pada 10 distrik di Kabupaten Dogiyai. Total luas lahan yang dilaporkan terdampak mencapai 2.467 hektare, dengan jumlah masyarakat terdampak sebanyak 90.040 jiwa.