alexametrics
23.7 C
Jayapura
Sunday, May 29, 2022

Malu Makan Tanpa Kerja, Garap Minuman Tak Sampai 2 Menit

Merasakan Semangat Charles Pahabol, Bocah SD yang Memilih Berdagang Untuk Satu Prinsip

Tak bisa dipungkiri jika banyak orang Papua yang suka berdagang. Kalaupun ada kebanyakan masih dalam skala kecil dan mengandalkan lapak-lapak yang mainstream. Ada kalimat motivasi yakni harus berani memulai dan tekuni untuk sebuah kesuksesan. Charles Pahabol memberi contoh. 

LAYANI PEMBELI: Charles Pahabol (12) ketika melayani pembeli yang membeli Jus Jeruknya yang dijual di pertigaan Jalan Genyem Sentani, Selasa (21/7) kemarin. Ia bercita-cita ingin jadi pengusaha. (FOTO: Gamel/Cepos)

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura 

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu demi satu  impian yang kerap ganggu tidurmu. Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal,” sebuah lirik lagu yang banyak dinyanyikan oleh kelompok masyarakat jalanan di era 90 an. Lagu yang diciptakan oleh Virgiawan Listanto atau yang akrab disapa Iwan Fals ini dirasa tepat untuk menceritakan tentang sosok Charles Pahabol. 

 Seorang bocah berusia 12 tahun yang dalam 3 tahun terakhir memilih berjualan jus jeruk untuk membantu ekonomi keluarga. Cerita ini bermula Selasa siang (21/7) kemarin dimana Cenderawasih Pos menyempatkan mampir di pertigaan Jl Genyem Sentani untuk mmbeli es buah. Lokasi yang di belakangnya menjadi milik TNI AU ini kini ramai dipadati Pedagang Kaki Lima. Nampaknya pemerintah telah mengijinkan untuk menggunakan lokasi yang berada persis di pinggir jalan itu untuk digunakan oleh PKL. 

 Tempatnya memang nyaman  dan tidak panas karena tertutup  bayangan dari pohon akasia. Lokasi ini ibarat pasar kecil yang berisi banyak cemilan dan makanan serta minuman ringan. Ada yang berjualan bakso, mie ayam, es buah, kepala muda bahkan ada juga yang jualan ikan dan daging. Dari hampir 100 pedagang ini sejatinya tak ada jualan yang terlalu wah, semua  layaknya seperti yang sering ditemui di pasar maupun pinggiran sekolah. Namun ada satu yang menarik perhatian yakni penjual atau pedagangnya. 

 Dari semua pedagang, ada satu pedagang yang bisa dibilang tak biasa. Tak biasa lantaran hanya ia satu – satunya pedagang asli Papua dengan usia yang juga sangat muda. Setelah dipanggil dan diajak ngobrol barulah ketahuan jika bocah ini bernama Charles Pahabol. Ia  kini berusia 12 tahun dan duduk di kelas VI Sekolah Dasar Kalam Kudus Sentani. Charles sendiri memilih berjualan jeruk peras. Sekilas tak ada yang menyangka jika motor yang berisi jeruk dalam bak ini adalah punyanya. Nantinya setelah ada pembeli barulah Charles terlihat bergegas menuju motor bebek berpayung tersebut. 

Baca Juga :  Conteh Siap Jalani Debutnya

 Ia nampak gesit meski memiliki postur tubuh padat berisi. Dari penampilannya ia lebih mirip anak sekolah yang mau pulang atau pergi les dimana ada sebuah tas berwarna hitam diselempangkan hingga ke paha atas kemudian menggunakan celana coklat selutut serta menggunakan sepatu. Tak lupa masker scuba warna warni terus menutupi hidungnya. Cenderawasih Pos sempat kaget ketika ada yang mau membeli jeruk ternyata justru bocah ini yang lari mengampiri. Ia terlihat cukup sibuk siang kemarin karena harus mondar mandir melayani pembeli dan sesekali duduk di bangku papan PKL lainnya. 

 Namun saat diajak ngobrol, Charles menjawab dengan gamblang dan terlihat bahwa ia anak yang cerdas. Ia menceritakan bahwa usaha jual jeruk perasnya ini sudah dilakukan sejak 2016 lalu. Motivasinya adalah membantu sang ayah yang juga berjualan jeruk peras. Namun tak jarang anak tertua dari 3 bersaudara ini harus dilepas berjualan sendiri jika sang ayah ada kegiatan lain.  Hanya saja meski tak didampingi sang ayah, Charles sangat menguasai bagaimana membuat jus jeruk dan melayani pembeli. Ia mampu membuat jus tanpa harus membuat pembeli menunggu lama. Ia juga nampak ramah dan tak banyak bicara. 

 Charles mengaku sudah terbiasa dengan pekerjaannya ini dan ia sendiri yang ingin membantu sang ayah dari wejangan prinsip sang ayah yang cukup tegas.  Ya bocah kelahiran Jayapura ini mengaku malu jika makan tanpa harus bekerja. Ia merasa apa yang dikatakan ayahnya benar dimana jika ingin maka harus berusaha. Harus menggunakan tangan dan pikiran untuk menghasilkan uang yang kemudian dipakai untuk makan. “Ayah saya bicara seperti itu, kalau mau makan harus kerja. Saya juga ingat ucapan yang berbunyi apa tidak malu hanya tahu makan tapi tidak bisa membantu, tidak bekerja dan saya pikir ini benar,” cerita Charles siang kemarin. 

Baca Juga :  Terkendala Cuaca, Nakes di Kiwirok Belum Dievakuasi

 Meski anak seusianya harusnya lebih banyak ngumpul dengan teman sebaya, memainkan apa yang sedang ramai dimainkan saat ini. Berkutat dengan Hp yang dipenuhi game online termasuk memikirkan tugas sekolah yang harus segera dikumpulkan. Namun disini Charles hanya terlihat sibuk menunggu pembeli dan mengecek kembali motor serta tumpukan jeruknya. Terkait itu, sekalipun ia juga bekerja, namun ia menyebut bahwa pendidikan tetap nomor satu. Mimpinya sebagai pengusaha harus bisa diwujudkan tanpa harus malu – malu. “Bapak selalu mengingatkan untuk tetap sekolah dan saja berjualan ini karena memang sedang tak ada jadwal sekolah. Kami belajar online dan itu sudah selesai,” bebernya. 

 Biasanya jam 08.00 WIT belajar online dilakukan dan setelah itu Charles memulai berjualan. Jeruk – jeruk ini dibeli dari pasar dengan harga sekitar Rp 200  ribu kemudian dimasukkan ke dalam karung dan dinaikkan ke motor. Ia berjualan setelah belajar online mulai pukul 09.00 WIT hingga pukul 17.00 WIT. “Jam 5 batas akhir karena kadang ada patroli,” tambahnya. Dari usahanya ini ia menyebut kadang dalam sehari ia bisa mendapat Rp 600 hingga Rp 800 ribu dan semua hasilnya diserahkan ke ayahnya. 

 “Kalau naik (ramai) itu biasanya dapat Rp 800 ribu tapi hari – hari biasa paling Rp 500 – Rp 600 ribu. Tapi kalau saat saya ada jadwal pelajaran biasanya bapak yang menjual dan saya sekolah. Bapak tidak mau  sekolah saya terganggu, tapi kalau saya pas ada waktu saya juga bantu,” ucapnya. Charles sendiri  mengaku tak malu meski harus berjualan dengan usianya yang masih muda. Ia juga menceritakan bahwa terkadang ia berpapasan dengan teman – teman sekolahnya dan ada juga yang membeli maupun hanya menemani ngobrol.

“Tidak, teman – teman saya tidak ada yang mengejek atau menganggu kalau saya jualan seperti ini. Teman – teman saya semua baik baik dan mereka tidak pernah mengejek,” imbuhnya. Charles sendiri bercita – cita ingin jadi pengusaha karena menurutnya jika mampu membuka lapangan pekerjaan maka ia bisa membantu saudara – saudaranya yang lain. “Ia itu cita – cita saya,” pungkasnya. (*)

Merasakan Semangat Charles Pahabol, Bocah SD yang Memilih Berdagang Untuk Satu Prinsip

Tak bisa dipungkiri jika banyak orang Papua yang suka berdagang. Kalaupun ada kebanyakan masih dalam skala kecil dan mengandalkan lapak-lapak yang mainstream. Ada kalimat motivasi yakni harus berani memulai dan tekuni untuk sebuah kesuksesan. Charles Pahabol memberi contoh. 

LAYANI PEMBELI: Charles Pahabol (12) ketika melayani pembeli yang membeli Jus Jeruknya yang dijual di pertigaan Jalan Genyem Sentani, Selasa (21/7) kemarin. Ia bercita-cita ingin jadi pengusaha. (FOTO: Gamel/Cepos)

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura 

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu demi satu  impian yang kerap ganggu tidurmu. Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal,” sebuah lirik lagu yang banyak dinyanyikan oleh kelompok masyarakat jalanan di era 90 an. Lagu yang diciptakan oleh Virgiawan Listanto atau yang akrab disapa Iwan Fals ini dirasa tepat untuk menceritakan tentang sosok Charles Pahabol. 

 Seorang bocah berusia 12 tahun yang dalam 3 tahun terakhir memilih berjualan jus jeruk untuk membantu ekonomi keluarga. Cerita ini bermula Selasa siang (21/7) kemarin dimana Cenderawasih Pos menyempatkan mampir di pertigaan Jl Genyem Sentani untuk mmbeli es buah. Lokasi yang di belakangnya menjadi milik TNI AU ini kini ramai dipadati Pedagang Kaki Lima. Nampaknya pemerintah telah mengijinkan untuk menggunakan lokasi yang berada persis di pinggir jalan itu untuk digunakan oleh PKL. 

 Tempatnya memang nyaman  dan tidak panas karena tertutup  bayangan dari pohon akasia. Lokasi ini ibarat pasar kecil yang berisi banyak cemilan dan makanan serta minuman ringan. Ada yang berjualan bakso, mie ayam, es buah, kepala muda bahkan ada juga yang jualan ikan dan daging. Dari hampir 100 pedagang ini sejatinya tak ada jualan yang terlalu wah, semua  layaknya seperti yang sering ditemui di pasar maupun pinggiran sekolah. Namun ada satu yang menarik perhatian yakni penjual atau pedagangnya. 

 Dari semua pedagang, ada satu pedagang yang bisa dibilang tak biasa. Tak biasa lantaran hanya ia satu – satunya pedagang asli Papua dengan usia yang juga sangat muda. Setelah dipanggil dan diajak ngobrol barulah ketahuan jika bocah ini bernama Charles Pahabol. Ia  kini berusia 12 tahun dan duduk di kelas VI Sekolah Dasar Kalam Kudus Sentani. Charles sendiri memilih berjualan jeruk peras. Sekilas tak ada yang menyangka jika motor yang berisi jeruk dalam bak ini adalah punyanya. Nantinya setelah ada pembeli barulah Charles terlihat bergegas menuju motor bebek berpayung tersebut. 

Baca Juga :  Aliran Sesat di Supiori Dibubarkan

 Ia nampak gesit meski memiliki postur tubuh padat berisi. Dari penampilannya ia lebih mirip anak sekolah yang mau pulang atau pergi les dimana ada sebuah tas berwarna hitam diselempangkan hingga ke paha atas kemudian menggunakan celana coklat selutut serta menggunakan sepatu. Tak lupa masker scuba warna warni terus menutupi hidungnya. Cenderawasih Pos sempat kaget ketika ada yang mau membeli jeruk ternyata justru bocah ini yang lari mengampiri. Ia terlihat cukup sibuk siang kemarin karena harus mondar mandir melayani pembeli dan sesekali duduk di bangku papan PKL lainnya. 

 Namun saat diajak ngobrol, Charles menjawab dengan gamblang dan terlihat bahwa ia anak yang cerdas. Ia menceritakan bahwa usaha jual jeruk perasnya ini sudah dilakukan sejak 2016 lalu. Motivasinya adalah membantu sang ayah yang juga berjualan jeruk peras. Namun tak jarang anak tertua dari 3 bersaudara ini harus dilepas berjualan sendiri jika sang ayah ada kegiatan lain.  Hanya saja meski tak didampingi sang ayah, Charles sangat menguasai bagaimana membuat jus jeruk dan melayani pembeli. Ia mampu membuat jus tanpa harus membuat pembeli menunggu lama. Ia juga nampak ramah dan tak banyak bicara. 

 Charles mengaku sudah terbiasa dengan pekerjaannya ini dan ia sendiri yang ingin membantu sang ayah dari wejangan prinsip sang ayah yang cukup tegas.  Ya bocah kelahiran Jayapura ini mengaku malu jika makan tanpa harus bekerja. Ia merasa apa yang dikatakan ayahnya benar dimana jika ingin maka harus berusaha. Harus menggunakan tangan dan pikiran untuk menghasilkan uang yang kemudian dipakai untuk makan. “Ayah saya bicara seperti itu, kalau mau makan harus kerja. Saya juga ingat ucapan yang berbunyi apa tidak malu hanya tahu makan tapi tidak bisa membantu, tidak bekerja dan saya pikir ini benar,” cerita Charles siang kemarin. 

Baca Juga :  Satu Anggota Polisi Terluka Nyaris Diamuk Massa

 Meski anak seusianya harusnya lebih banyak ngumpul dengan teman sebaya, memainkan apa yang sedang ramai dimainkan saat ini. Berkutat dengan Hp yang dipenuhi game online termasuk memikirkan tugas sekolah yang harus segera dikumpulkan. Namun disini Charles hanya terlihat sibuk menunggu pembeli dan mengecek kembali motor serta tumpukan jeruknya. Terkait itu, sekalipun ia juga bekerja, namun ia menyebut bahwa pendidikan tetap nomor satu. Mimpinya sebagai pengusaha harus bisa diwujudkan tanpa harus malu – malu. “Bapak selalu mengingatkan untuk tetap sekolah dan saja berjualan ini karena memang sedang tak ada jadwal sekolah. Kami belajar online dan itu sudah selesai,” bebernya. 

 Biasanya jam 08.00 WIT belajar online dilakukan dan setelah itu Charles memulai berjualan. Jeruk – jeruk ini dibeli dari pasar dengan harga sekitar Rp 200  ribu kemudian dimasukkan ke dalam karung dan dinaikkan ke motor. Ia berjualan setelah belajar online mulai pukul 09.00 WIT hingga pukul 17.00 WIT. “Jam 5 batas akhir karena kadang ada patroli,” tambahnya. Dari usahanya ini ia menyebut kadang dalam sehari ia bisa mendapat Rp 600 hingga Rp 800 ribu dan semua hasilnya diserahkan ke ayahnya. 

 “Kalau naik (ramai) itu biasanya dapat Rp 800 ribu tapi hari – hari biasa paling Rp 500 – Rp 600 ribu. Tapi kalau saat saya ada jadwal pelajaran biasanya bapak yang menjual dan saya sekolah. Bapak tidak mau  sekolah saya terganggu, tapi kalau saya pas ada waktu saya juga bantu,” ucapnya. Charles sendiri  mengaku tak malu meski harus berjualan dengan usianya yang masih muda. Ia juga menceritakan bahwa terkadang ia berpapasan dengan teman – teman sekolahnya dan ada juga yang membeli maupun hanya menemani ngobrol.

“Tidak, teman – teman saya tidak ada yang mengejek atau menganggu kalau saya jualan seperti ini. Teman – teman saya semua baik baik dan mereka tidak pernah mengejek,” imbuhnya. Charles sendiri bercita – cita ingin jadi pengusaha karena menurutnya jika mampu membuka lapangan pekerjaan maka ia bisa membantu saudara – saudaranya yang lain. “Ia itu cita – cita saya,” pungkasnya. (*)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/