BMD menjelaskan bahwa terkait pembangunan gereja, panitia pembangunan telah tiga kali merevisi gambar gereja menyesuaikan dengan kebutuhan GPDI. Hingga akhirnya disepakati bahwa gedung gereja dibangun dua lantai dan nantinya bisa menampung sekitar 3000 orang.
Pertimbangannya adalah ketika sinode di tiga provinsi melakukan kegiatan di Jayapura maka tidak perlu lagi menyewa gedung atau menyewa hotel. Cukup menggunakan gereja yang sedang dibangun ini.
Lalu BMD juga membantah jika dikatakan pembangunan tersebut mangkrak mengingat pekerjaan masih akan dilanjutkan. Saat ini memang tak ada aktifitas karena belum memiliki anggaran yang cukup.
“Kalau dibilang mangkrak saya pikir tidak sebab semua sedang berjalan dan ketika belum memiliki anggaran tentu pekerjaan dihentikan sementara, jika uang sudah ada barulah dilanjutkan,” bebernya.
Boy merasa narasi yang diciptakan terkesan membunuh karakter mengingat yang disinggung hanya pembangunan gereja yang dilakukan.
Sementara ada banyak pembangunan gereja yang lain yang juga terhenti karena keterbatasan anggaran.
“Lihat saja gedung kantor klasis kota di depan DPRP kan berhenti juga lalu apakah itu bisa disebut mangkrak, nanti setelah gubernur bantu Rp 3 miliar barulah dikerjakan lagi. Jadi saya pikir tidak ada alasan untuk menyebut pembangunan gereja kami mangkrak apalagi dengan kondisi keuangan daerah yang masih minus kami juga tak mau memaksakan,” tambahnya.
Dari laporan yang sudah dimasukkan ke tim Cyber Polda Papua, BMD meminta agar para pelaku penyebar informasi bisa ditemukan dan dimintai keterangan. Ia merasa dirugikan karena narasi yang menyebut jika dirinya seolah-olah melakukan penyelenggan anggaran.
BMD menjelaskan bahwa terkait pembangunan gereja, panitia pembangunan telah tiga kali merevisi gambar gereja menyesuaikan dengan kebutuhan GPDI. Hingga akhirnya disepakati bahwa gedung gereja dibangun dua lantai dan nantinya bisa menampung sekitar 3000 orang.
Pertimbangannya adalah ketika sinode di tiga provinsi melakukan kegiatan di Jayapura maka tidak perlu lagi menyewa gedung atau menyewa hotel. Cukup menggunakan gereja yang sedang dibangun ini.
Lalu BMD juga membantah jika dikatakan pembangunan tersebut mangkrak mengingat pekerjaan masih akan dilanjutkan. Saat ini memang tak ada aktifitas karena belum memiliki anggaran yang cukup.
“Kalau dibilang mangkrak saya pikir tidak sebab semua sedang berjalan dan ketika belum memiliki anggaran tentu pekerjaan dihentikan sementara, jika uang sudah ada barulah dilanjutkan,” bebernya.
Boy merasa narasi yang diciptakan terkesan membunuh karakter mengingat yang disinggung hanya pembangunan gereja yang dilakukan.
Sementara ada banyak pembangunan gereja yang lain yang juga terhenti karena keterbatasan anggaran.
“Lihat saja gedung kantor klasis kota di depan DPRP kan berhenti juga lalu apakah itu bisa disebut mangkrak, nanti setelah gubernur bantu Rp 3 miliar barulah dikerjakan lagi. Jadi saya pikir tidak ada alasan untuk menyebut pembangunan gereja kami mangkrak apalagi dengan kondisi keuangan daerah yang masih minus kami juga tak mau memaksakan,” tambahnya.
Dari laporan yang sudah dimasukkan ke tim Cyber Polda Papua, BMD meminta agar para pelaku penyebar informasi bisa ditemukan dan dimintai keterangan. Ia merasa dirugikan karena narasi yang menyebut jika dirinya seolah-olah melakukan penyelenggan anggaran.