Wednesday, February 11, 2026
29.7 C
Jayapura

MBG Rawan Digugat

Ia menyebut hal lain yang patut dikiritisi. Kalimat awal diberikan kepada seluruh anak sekolah namun yang terjadi masih banyak sekali anak sekolah di daerah yang belum merasakan yang namanya MBG. Sehingga nilai keadilannya belum terpenuhi.

“Saya bilang ini niatnya baik namun prosesnya masih lemah. Kalau bicara sekolah ya harusnya smua sekolah. Tapi kan banyak sekali yang tidak tersentuh,” sambungnya.

Lalu catatan lainnya jangan ada diskresi presiden yang membuat program lain tereduksi. “Ini kita akui saja banyak program lain yang akhirnya dikorbankan karena dananya terserap semua di MBG. Ini akan menimbulkan resistensi kepada penerima manfaat maupun pegawai sendiri karena program di dinasnya tidak jalan. “Programnya bagus tapi masih ngawur,” cecar Frits.

“Prabowo harus dikasitau dan jangan justru tidak mau tahu dan akhirnya terjadi kejadian dimana seorang jurnalis diblacklist oleh desk protokoler presiden karena bertanya di luar jalur kepada presiden. Ini juga tidak benar, mengkekang kemerdekaan pers berarti, jangan mau diatur-atur,” tegasnya.

Hesty Kere menjelaskan bahwa program MBG memiliki banyak tahapan dan diawasi secara ketat. Dikatakan MBG sejatinya sangat dibutuhkan anak-anak sekolah mengingat pemerintah memiliki target Indonesia sehat dan cerdas.

Baca Juga :  Tak Hanya Prestasi Akademik, Tapi juga Kembangkan Ketrampilan Nonakademik

“Saya pikir dampaknya sangat banyak. Anak – anak kini bisa makan di sekolah dan mengurangi biaya uang jajan dari orang tua. Anak anak juga tau buah anggur itu yang seperti apa. Lalu dari MBG ini membuat uang jajan akan hemat sedangkan bagi mereka yang tak pernah jajan justru bisa makan,” beber Hesty.

Iapun memaparkan tentang pengalamannya dimana menu setiap waktu akan diganti. Lalu kecukupan gizinya harus selalu dicek. “Jadi dalam 1 ompreng itu kandungan gizinya harus seimbang san sesuai. Cuma saya setuju jangan yang masak aparat sebab banyak mama-mama Papua yang siap memasak,” imbuhnya.

“Jadi menurut saya MBG ini penting dan untuk Papua jangan aparat yang masak karena banyak mama Papua yang siap untuk menyiapkan. Dan kalau ditanya soal keracunan yang masih terjadi maka mau saya katakan bahwa ada banyak juga yang menolak program ini sehingga sengaja merusak citra MBG,” bebernya.

Hesty memaparkan bahwa dampak lainnya adalah membuka lapangan pekerjaan dan uang mengikuti beredar dipasaran. “Karyawan yang bekerja ada 60 karyawan. Setiap hari ada speedboat yang kami pakai untuk mengantarkan MBG. Lalu penjual sayur, penjual buah termasuk security 2 orang yang juga bisa digunakan untuk mendongkrak pendapatan,” tambahnya.

Baca Juga :  Lakukan Cabul, Seorang Pria Paruh Baya di Hamadi Diamuk Massa

Seain itu, saat ini pengawasan terkait MBG masih sangat ketat. “Sekarang tidak boleh menggunakan santan. Dapur juga was was karena setiap saat akan dilakukan sidak dan jika saat itu ditemukan sesuatu yang tidak layak ya siap-siap dditutup. Jadi ketat skali,” imbuhnya. Ditambahkan Imam Khoiri bahwa namanya program baru bisa dipastikan ada banyak yang kurang dan perlu diperbaiki.

Namun jangan justru karena belum matang akhirnya tidak ada perbaikan yang dilakukan. Imam menyampaikan bahwa di Jayapura ada 30 dapur dan ia sudah pernah mengecek salah satunya. Yang perlu dikawal adalah apakah pemenuhan gizi ini bisa dilakukan atau justru mandeg. “Lalu saya setuju bahwa harus tepat sasaran. Anak-anak di daerah tertinggal terpencil ini patut masuk dalam list prioritas,” tambahnya.

Dan menurutnya jika mengejar mutu dan kualitas maka porsi atau harga patut dinaikkan. “Kami melihat Pak Prabowo ingin memastikan agar anggaran yang sudah dimasukkan dalam program ini benar terserap ke masyarakat,” ungkapnya.

Ia memaparkan bahwa untuk aspek pengawasan ia sudah melihat langsung dan cukup ketat apalagi bila terjadi insiden maka harus siap-siap dievaluasi.

Ia menyebut hal lain yang patut dikiritisi. Kalimat awal diberikan kepada seluruh anak sekolah namun yang terjadi masih banyak sekali anak sekolah di daerah yang belum merasakan yang namanya MBG. Sehingga nilai keadilannya belum terpenuhi.

“Saya bilang ini niatnya baik namun prosesnya masih lemah. Kalau bicara sekolah ya harusnya smua sekolah. Tapi kan banyak sekali yang tidak tersentuh,” sambungnya.

Lalu catatan lainnya jangan ada diskresi presiden yang membuat program lain tereduksi. “Ini kita akui saja banyak program lain yang akhirnya dikorbankan karena dananya terserap semua di MBG. Ini akan menimbulkan resistensi kepada penerima manfaat maupun pegawai sendiri karena program di dinasnya tidak jalan. “Programnya bagus tapi masih ngawur,” cecar Frits.

“Prabowo harus dikasitau dan jangan justru tidak mau tahu dan akhirnya terjadi kejadian dimana seorang jurnalis diblacklist oleh desk protokoler presiden karena bertanya di luar jalur kepada presiden. Ini juga tidak benar, mengkekang kemerdekaan pers berarti, jangan mau diatur-atur,” tegasnya.

Hesty Kere menjelaskan bahwa program MBG memiliki banyak tahapan dan diawasi secara ketat. Dikatakan MBG sejatinya sangat dibutuhkan anak-anak sekolah mengingat pemerintah memiliki target Indonesia sehat dan cerdas.

Baca Juga :  Menginduk di SMA Favorit,  Tapi Masih Minim Informasi Kesiapan Sekolah

“Saya pikir dampaknya sangat banyak. Anak – anak kini bisa makan di sekolah dan mengurangi biaya uang jajan dari orang tua. Anak anak juga tau buah anggur itu yang seperti apa. Lalu dari MBG ini membuat uang jajan akan hemat sedangkan bagi mereka yang tak pernah jajan justru bisa makan,” beber Hesty.

Iapun memaparkan tentang pengalamannya dimana menu setiap waktu akan diganti. Lalu kecukupan gizinya harus selalu dicek. “Jadi dalam 1 ompreng itu kandungan gizinya harus seimbang san sesuai. Cuma saya setuju jangan yang masak aparat sebab banyak mama-mama Papua yang siap memasak,” imbuhnya.

“Jadi menurut saya MBG ini penting dan untuk Papua jangan aparat yang masak karena banyak mama Papua yang siap untuk menyiapkan. Dan kalau ditanya soal keracunan yang masih terjadi maka mau saya katakan bahwa ada banyak juga yang menolak program ini sehingga sengaja merusak citra MBG,” bebernya.

Hesty memaparkan bahwa dampak lainnya adalah membuka lapangan pekerjaan dan uang mengikuti beredar dipasaran. “Karyawan yang bekerja ada 60 karyawan. Setiap hari ada speedboat yang kami pakai untuk mengantarkan MBG. Lalu penjual sayur, penjual buah termasuk security 2 orang yang juga bisa digunakan untuk mendongkrak pendapatan,” tambahnya.

Baca Juga :  Wujudkan Generasi Tolikara Sehat dan Cerdas

Seain itu, saat ini pengawasan terkait MBG masih sangat ketat. “Sekarang tidak boleh menggunakan santan. Dapur juga was was karena setiap saat akan dilakukan sidak dan jika saat itu ditemukan sesuatu yang tidak layak ya siap-siap dditutup. Jadi ketat skali,” imbuhnya. Ditambahkan Imam Khoiri bahwa namanya program baru bisa dipastikan ada banyak yang kurang dan perlu diperbaiki.

Namun jangan justru karena belum matang akhirnya tidak ada perbaikan yang dilakukan. Imam menyampaikan bahwa di Jayapura ada 30 dapur dan ia sudah pernah mengecek salah satunya. Yang perlu dikawal adalah apakah pemenuhan gizi ini bisa dilakukan atau justru mandeg. “Lalu saya setuju bahwa harus tepat sasaran. Anak-anak di daerah tertinggal terpencil ini patut masuk dalam list prioritas,” tambahnya.

Dan menurutnya jika mengejar mutu dan kualitas maka porsi atau harga patut dinaikkan. “Kami melihat Pak Prabowo ingin memastikan agar anggaran yang sudah dimasukkan dalam program ini benar terserap ke masyarakat,” ungkapnya.

Ia memaparkan bahwa untuk aspek pengawasan ia sudah melihat langsung dan cukup ketat apalagi bila terjadi insiden maka harus siap-siap dievaluasi.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya