alexametrics
29.7 C
Jayapura
Monday, May 23, 2022

Awalnya Dinyatakan Tipes, Kuncinya Jaga Pikiran dan Hati

SEMBUH: Andi Rahmad Najib salah satu pasien Corono yang dinyatakan sembuh, saat memberika keterangan   kepada  wartawan  di  kediamannya di Merauke, Sabtu  (4/4). ( FOTO: Sulo/Cepos) 

Kisah H. Andi Rahmad Najib, Pasien Corona yang Dinyatakan Sembuh

Setelah menjalani perawatan di RSUD Merauke, H. Andi Rahmad yang selama ini disebut pasien 01, akhirnya dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang. Bagaimana kisahnya ? 

Laporan: Yulius Sulo, Merauke

Cenderawasih Pos bersama beberapa rekan wartawan di Kabupaten Merauke, memenuhi undangan H. Amdi Rahmad Najib, salah satu pasien Corona yang dinyatakan sembuh, Sabtu (4/4).

Tiba di rumahnya di Jalan  Paulus Nafii, Kelurahan  Maro, Merauke, sekira pukul 13.30 WIT, Cenderawasih Pos bersama rekan wartawan lain, langsung mencuci tangan sebelum masuk ke halaman samping rumah.

Di samping rumah, terlihat tuan rumah Andi Rahmat  Najib sudah  menunggu   kedatangan  para wartawan. “Pertama-tama saya bersyukur kepada  Allah SWT karena kehendak-Nya maka saya disembuhkan. Diberi penyakit dan dijinakkan. Saya juga berterima kasih kepada  orang tua dan mertua saya serta orang-orang  spesial yang ada di luar sana. Istri dan anak saya  serta  komunitas  saya, masyarakat tanpa riba  serta masyarakat semuanya,” ucap Andi Rahmat mengawali perbincangan dengan awak media.

  Andi Rahmat kemudian  menjelaskan kronologi  dari perjalanannya  dari Bogor, Jawa Barat hingga dirinya harus dirawat di rumah sakit  dan dinyatakan sebagai pasien Corona.  

Andi Rahmat mengatakan, saat tiba di Merauke dan akan melanjutkan perjalanan ke Kepi, Kabupaten Mappi, dirinya saat itu sudah mulai merasakan tidak enak badan.   

Sore harinya saat sampai di Kepi, Andi Rahmat melakukan karantina mandiri. Namun karena sakit yang dirasakan tak kunjung membaik, dirinya memutuskan memeriksa kesehatan di RSUD yang ada di Kepi. 

“Saya melakukan pemeriksaan darah dan dikatakan tipus.  Tapi  selama 2  hari tidak ada  perubahan,” bebernya. Karena tidak ada perubahan, maka iapun minta untuk segera dirujuk ke Merauke. 

Sampai di Merauke, dirinya   melakukan  pemeriksaan ke IGD RSUD Merauke  namun setelah diperiksa  sepertinya tidak ada apa-apa.  “Kemudian   saya disuruh  pulang dan malamnya saya ke  dokter spesialis penyakit dalam.   Di sana, saya diberikan  obat.  Tapi saya lihat  selama dua hari,   panasnya naik turun.   Saya bilang ke dokter,  bagaimana kalau saya diopname saja dulu.   Kemudian   saya dibawa ke rumah sakit sekira pukul 09.00-10.000   tapi belum dilayani dan pukul 12.00 malam baru saya dapat kamar,” bebernya. Setelah dua hari dirawat kemudian diperiksa  dan dirontgen.

Baca Juga :  Ancaman Permanen, Penyelesaiannya Harus Permanen

“Malam pada tanggal 13 Maret, saya lihat teman saya di Bogor  meninggal di Solo. Kemudian  saya  minta ke teman untuk  sampaikan ke dokter yang tangani saya dari awal  kalau saya mau bicara tapi tidak   boleh ada orang,” tuturnya. 

Keesokan harinya, Andi berbicara dengan dokter dan menyampaikan bahwa ada temannya yang ikut kegiatan  di Bogor meninggal  dan hal ini sempat heboh di kalangan komunitasnya. 

Untuk itu, dirinya meminta agar dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam hingga akhirnya Andi ditangani secara serius.

 Andi Rahmat mengaku   jika sejak awal   sampai dirinya  keluar dari rumah sakit karena  dinyatakan sembuh,  sangat diperhatikan  oleh  tenaga medis dan perawat. “Dari awal saya sangat diperhatikan. Saya salut  dengan tim medis  dan perawat yang ada di sini karena sangat memperhatikan saya.  Karena baik  dari segi medis  maupun psikis sangat memperhatikan saya. Itu  yang membuat saya   merasa  lebih tenang. Tapi waktu itu, saya sudah katakan kepada dokter   bahwa apapun hasilnya  nanti saya sudah siap.   Karena  saya sudah tahu bahwa mungkin ini sudah kehendak Allah.  Mungkin karena itu saya  kuat di dalam,” bebernya. 

Andi Rahmat juga mengaku bahwa bullyan  terhadap dirinya dan keluarganya   tidak kalah dahsyat diterima. Namun   ia mengaku   tidak terlalu ambil   pusing. Sebab,  jika  bully tersebut  diambil  hati maka   akan membuat diri cepat drop. “Kuncinya di sini dari sisi psikis.  Kalau psikis kita kuat  maka kita  bisa bertahan. Tapi, kalau psikis kita tidak   tahan maka kita akan drop. Karena saya  lihat omongan dan bully yang ada di luar  itu cukup sadis. Tapi, saya  kuatkan keluarga  baik yang ada di Merauke maupun  yang ada di Kepi  untuk tidak  terlalu ambil pusing. Karena  kalau itu   diambil  hati,  kita  akan drop dan itu bahaya,” ujarnya.    

Baca Juga :  Kebangkitan Seni dan Budaya Harus Dimulai dari Merauke

 Andi Rahmat kembali  menengaskan bahwa  petugas kesehatan  yang ada di Merauke  sangat andalan  dan  selama  berada di rumah sakit dirinya sangat diperhatikan.  “Setiap hari, saya tiga kali diberi makan dan buah, ditawarkan  jamu.  Dari segi    psikis, kita sudah nyaman.  Saya     juga  dibelikan spencer  khusus sehingga saya bisa  minum air hangat setiap saat,” jelasnya. 

Sedangkan      obat yang diberikan, selain obat anti virus  yang diminumnya sekitar  7 hari, juga ada obat batuk. Dirinya juga diberikan paracetamol namun  Andi  Rahmat mengaku paracetamol yang hanya diminum saat  demam. “Tapi, 15 hari  belakangan  saya tidak minum   paracetamol lagi karena   tidak demam,” tandasnya. 

Dalam perawatan, Andi juga mengaku mendapat vitamin  dan obat lainnya.  

Soal virus Corona atau Covid-19 yang menyerangnya, Andi mengaku  kemungkinan  dirinya bukan terjangkit saat mengikuti pertemuan di Bogor. Tetapi kemungkinan saat berada di Bandara Juanda, Surabaya atau Sultan Hasanuddin, Makassar saat balik ke Papua.

Sebab, dirinya saat  pulang dari Jakarta, dirinya singgah  dan bermalam di    rumah   adiknya  di Surabaya. “Kami    berjabat tangan dan sempat  berpelukan. Tapi  alhamdullillah,  adik saya   negatif.  Jadi kemungkinan   virus ini kena saya saat di Bandara Juanda Surabaya   atau Sultan Hasanuddin Makassar  ketika  balik ke Merauke,” tutupnya. ***  

SEMBUH: Andi Rahmad Najib salah satu pasien Corono yang dinyatakan sembuh, saat memberika keterangan   kepada  wartawan  di  kediamannya di Merauke, Sabtu  (4/4). ( FOTO: Sulo/Cepos) 

Kisah H. Andi Rahmad Najib, Pasien Corona yang Dinyatakan Sembuh

Setelah menjalani perawatan di RSUD Merauke, H. Andi Rahmad yang selama ini disebut pasien 01, akhirnya dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang. Bagaimana kisahnya ? 

Laporan: Yulius Sulo, Merauke

Cenderawasih Pos bersama beberapa rekan wartawan di Kabupaten Merauke, memenuhi undangan H. Amdi Rahmad Najib, salah satu pasien Corona yang dinyatakan sembuh, Sabtu (4/4).

Tiba di rumahnya di Jalan  Paulus Nafii, Kelurahan  Maro, Merauke, sekira pukul 13.30 WIT, Cenderawasih Pos bersama rekan wartawan lain, langsung mencuci tangan sebelum masuk ke halaman samping rumah.

Di samping rumah, terlihat tuan rumah Andi Rahmat  Najib sudah  menunggu   kedatangan  para wartawan. “Pertama-tama saya bersyukur kepada  Allah SWT karena kehendak-Nya maka saya disembuhkan. Diberi penyakit dan dijinakkan. Saya juga berterima kasih kepada  orang tua dan mertua saya serta orang-orang  spesial yang ada di luar sana. Istri dan anak saya  serta  komunitas  saya, masyarakat tanpa riba  serta masyarakat semuanya,” ucap Andi Rahmat mengawali perbincangan dengan awak media.

  Andi Rahmat kemudian  menjelaskan kronologi  dari perjalanannya  dari Bogor, Jawa Barat hingga dirinya harus dirawat di rumah sakit  dan dinyatakan sebagai pasien Corona.  

Andi Rahmat mengatakan, saat tiba di Merauke dan akan melanjutkan perjalanan ke Kepi, Kabupaten Mappi, dirinya saat itu sudah mulai merasakan tidak enak badan.   

Sore harinya saat sampai di Kepi, Andi Rahmat melakukan karantina mandiri. Namun karena sakit yang dirasakan tak kunjung membaik, dirinya memutuskan memeriksa kesehatan di RSUD yang ada di Kepi. 

“Saya melakukan pemeriksaan darah dan dikatakan tipus.  Tapi  selama 2  hari tidak ada  perubahan,” bebernya. Karena tidak ada perubahan, maka iapun minta untuk segera dirujuk ke Merauke. 

Sampai di Merauke, dirinya   melakukan  pemeriksaan ke IGD RSUD Merauke  namun setelah diperiksa  sepertinya tidak ada apa-apa.  “Kemudian   saya disuruh  pulang dan malamnya saya ke  dokter spesialis penyakit dalam.   Di sana, saya diberikan  obat.  Tapi saya lihat  selama dua hari,   panasnya naik turun.   Saya bilang ke dokter,  bagaimana kalau saya diopname saja dulu.   Kemudian   saya dibawa ke rumah sakit sekira pukul 09.00-10.000   tapi belum dilayani dan pukul 12.00 malam baru saya dapat kamar,” bebernya. Setelah dua hari dirawat kemudian diperiksa  dan dirontgen.

Baca Juga :  Serang Kantor Distrik, Empat Warga Asmat Tewas Tertembak

“Malam pada tanggal 13 Maret, saya lihat teman saya di Bogor  meninggal di Solo. Kemudian  saya  minta ke teman untuk  sampaikan ke dokter yang tangani saya dari awal  kalau saya mau bicara tapi tidak   boleh ada orang,” tuturnya. 

Keesokan harinya, Andi berbicara dengan dokter dan menyampaikan bahwa ada temannya yang ikut kegiatan  di Bogor meninggal  dan hal ini sempat heboh di kalangan komunitasnya. 

Untuk itu, dirinya meminta agar dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam hingga akhirnya Andi ditangani secara serius.

 Andi Rahmat mengaku   jika sejak awal   sampai dirinya  keluar dari rumah sakit karena  dinyatakan sembuh,  sangat diperhatikan  oleh  tenaga medis dan perawat. “Dari awal saya sangat diperhatikan. Saya salut  dengan tim medis  dan perawat yang ada di sini karena sangat memperhatikan saya.  Karena baik  dari segi medis  maupun psikis sangat memperhatikan saya. Itu  yang membuat saya   merasa  lebih tenang. Tapi waktu itu, saya sudah katakan kepada dokter   bahwa apapun hasilnya  nanti saya sudah siap.   Karena  saya sudah tahu bahwa mungkin ini sudah kehendak Allah.  Mungkin karena itu saya  kuat di dalam,” bebernya. 

Andi Rahmat juga mengaku bahwa bullyan  terhadap dirinya dan keluarganya   tidak kalah dahsyat diterima. Namun   ia mengaku   tidak terlalu ambil   pusing. Sebab,  jika  bully tersebut  diambil  hati maka   akan membuat diri cepat drop. “Kuncinya di sini dari sisi psikis.  Kalau psikis kita kuat  maka kita  bisa bertahan. Tapi, kalau psikis kita tidak   tahan maka kita akan drop. Karena saya  lihat omongan dan bully yang ada di luar  itu cukup sadis. Tapi, saya  kuatkan keluarga  baik yang ada di Merauke maupun  yang ada di Kepi  untuk tidak  terlalu ambil pusing. Karena  kalau itu   diambil  hati,  kita  akan drop dan itu bahaya,” ujarnya.    

Baca Juga :  Tembus Empat Besar

 Andi Rahmat kembali  menengaskan bahwa  petugas kesehatan  yang ada di Merauke  sangat andalan  dan  selama  berada di rumah sakit dirinya sangat diperhatikan.  “Setiap hari, saya tiga kali diberi makan dan buah, ditawarkan  jamu.  Dari segi    psikis, kita sudah nyaman.  Saya     juga  dibelikan spencer  khusus sehingga saya bisa  minum air hangat setiap saat,” jelasnya. 

Sedangkan      obat yang diberikan, selain obat anti virus  yang diminumnya sekitar  7 hari, juga ada obat batuk. Dirinya juga diberikan paracetamol namun  Andi  Rahmat mengaku paracetamol yang hanya diminum saat  demam. “Tapi, 15 hari  belakangan  saya tidak minum   paracetamol lagi karena   tidak demam,” tandasnya. 

Dalam perawatan, Andi juga mengaku mendapat vitamin  dan obat lainnya.  

Soal virus Corona atau Covid-19 yang menyerangnya, Andi mengaku  kemungkinan  dirinya bukan terjangkit saat mengikuti pertemuan di Bogor. Tetapi kemungkinan saat berada di Bandara Juanda, Surabaya atau Sultan Hasanuddin, Makassar saat balik ke Papua.

Sebab, dirinya saat  pulang dari Jakarta, dirinya singgah  dan bermalam di    rumah   adiknya  di Surabaya. “Kami    berjabat tangan dan sempat  berpelukan. Tapi  alhamdullillah,  adik saya   negatif.  Jadi kemungkinan   virus ini kena saya saat di Bandara Juanda Surabaya   atau Sultan Hasanuddin Makassar  ketika  balik ke Merauke,” tutupnya. ***  

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/