Denny juga menyebut adanya dugaan keterlibatan oknum dari internal yang memberikan data kepada penyebar informasi tersebut. “Ada oknum di dalam sekretariat DPRP yang memberikan data. Jadi ada yang dari dalam, ada yang dari luar. Semua nama sudah kita tahu,” ungkapnya. Lebih jauh, ia menyebut berdasarkan pengakuan yang diterimanya, masih ada rencana penyebaran flyer lanjutan untuk kembali menyerang dirinya.
“Tadi Elias bilang, satu dua hari ini ada lagi yang mau dinaikkan. Ya kita tidak bisa melarang. Risiko jabatan pasti ada yang suka dan tidak suka,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Saya berharap masyarakat jangan mudah percaya. Flyer itu keluar, orang langsung lihat muka saya, lihat angka Rp44 miliar, langsung berasumsi. Padahal uang itu bukan di DPR dan bukan dana cadangan seperti yang dituduhkan. Proses dan alurnya sudah dijelaskan,” jelasnya.
Ia menambahkan, laporan hukum telah berjalan melalui penasihat hukumnya dan akan terus dikoordinasikan.
“Sudah berjalan. Dari yang pertama itu sudah dilaporkan. Supaya jadi pelajaran juga untuk yang lain. Kalau belum tahu sesuatu, jangan asal bicara. Mulutmu harimaumu,” pungkasnya. (rel/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Denny juga menyebut adanya dugaan keterlibatan oknum dari internal yang memberikan data kepada penyebar informasi tersebut. “Ada oknum di dalam sekretariat DPRP yang memberikan data. Jadi ada yang dari dalam, ada yang dari luar. Semua nama sudah kita tahu,” ungkapnya. Lebih jauh, ia menyebut berdasarkan pengakuan yang diterimanya, masih ada rencana penyebaran flyer lanjutan untuk kembali menyerang dirinya.
“Tadi Elias bilang, satu dua hari ini ada lagi yang mau dinaikkan. Ya kita tidak bisa melarang. Risiko jabatan pasti ada yang suka dan tidak suka,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Saya berharap masyarakat jangan mudah percaya. Flyer itu keluar, orang langsung lihat muka saya, lihat angka Rp44 miliar, langsung berasumsi. Padahal uang itu bukan di DPR dan bukan dana cadangan seperti yang dituduhkan. Proses dan alurnya sudah dijelaskan,” jelasnya.
Ia menambahkan, laporan hukum telah berjalan melalui penasihat hukumnya dan akan terus dikoordinasikan.
“Sudah berjalan. Dari yang pertama itu sudah dilaporkan. Supaya jadi pelajaran juga untuk yang lain. Kalau belum tahu sesuatu, jangan asal bicara. Mulutmu harimaumu,” pungkasnya. (rel/ade)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q