Pastor Jhon menyebut bahwa saat ini ia melihat orang tak lagi memiliki rasa takut untuk melakukan kekerasan, pembunuhan dan menimbulkan ketakutan, kekhawatiran yang akhirnya masyarakat sendiri merasa tak ada tempat aman lagi di tanah ini.
“Saya dulu masih sering keluar masuk daerah terisolir, daerah yang katanya rawan tapi semua aman -aman saja. Masyarakat menerima kami dengan baik, membantu mengangkat barang kami, memberikan tempat tinggal dalam melakukan pelayanan kerohanian. Tapi sekarang petugas kemanusiaan juga ikut menjadi korban. Petugas medis, guru dan pelayan kemanusiaan lainnya juga dikejar, dilukai bahkan ada yang meninggal hingga tak sedikit yang trauma. Saya sedih kenapa sekarang seperti ini. Apakah kita semakin jauh dari ajaran Tuhan,” tanyanya.
Pastor Jhon berpendapat perlu suatu penelitian bagaimana tingkat kekerasan di Papua dan kenapa sampai terjadi. Dari penyebab itu perlu dirumuskan cara penanganannya seperti apa. Bagaimana mengajak masyarakat untuk menjauhi tindakan kekerasan kepada sesama.
“Atau bisa juga karena kinerja pemimpin daerah apakah bupati, camat masih jauh dari harapan masyarakat sehingga masyarakat merasa hidup mereka belum ada perubahan dari kebijakan daerah,” tambah Pastor Jhon.
Kalau memang hal itu benar adanya artinya yang perlu diprotes atau dikritik adalah pemerintahnya, bukan justru menjadikan sesama warga sipil sebagai target sebab belum tentu warga sipil mengetahui persoalan yang dirasakan.
“Saat ini teman-teman muslim sedang masuk masa puasa dan orang Kristen juga jelang masa paskah dimana setiap individu maupun komunitas perlu merenung jika melakukan kesalahan-kesalahan maka ini adalah waktu untuk berfikir dan mengevaluasi diri. Menjauh dari perbuatan kekerasan.Jangan terlalu terkukung dengan perasaan balas dendam sebab kekerasan dibalas kekerasan maka akan terus melahirkan kekerasan dan akhirnya menjadi siklus,” beber Pastor Jhon.
Pastor Jhon menyebut bahwa saat ini ia melihat orang tak lagi memiliki rasa takut untuk melakukan kekerasan, pembunuhan dan menimbulkan ketakutan, kekhawatiran yang akhirnya masyarakat sendiri merasa tak ada tempat aman lagi di tanah ini.
“Saya dulu masih sering keluar masuk daerah terisolir, daerah yang katanya rawan tapi semua aman -aman saja. Masyarakat menerima kami dengan baik, membantu mengangkat barang kami, memberikan tempat tinggal dalam melakukan pelayanan kerohanian. Tapi sekarang petugas kemanusiaan juga ikut menjadi korban. Petugas medis, guru dan pelayan kemanusiaan lainnya juga dikejar, dilukai bahkan ada yang meninggal hingga tak sedikit yang trauma. Saya sedih kenapa sekarang seperti ini. Apakah kita semakin jauh dari ajaran Tuhan,” tanyanya.
Pastor Jhon berpendapat perlu suatu penelitian bagaimana tingkat kekerasan di Papua dan kenapa sampai terjadi. Dari penyebab itu perlu dirumuskan cara penanganannya seperti apa. Bagaimana mengajak masyarakat untuk menjauhi tindakan kekerasan kepada sesama.
“Atau bisa juga karena kinerja pemimpin daerah apakah bupati, camat masih jauh dari harapan masyarakat sehingga masyarakat merasa hidup mereka belum ada perubahan dari kebijakan daerah,” tambah Pastor Jhon.
Kalau memang hal itu benar adanya artinya yang perlu diprotes atau dikritik adalah pemerintahnya, bukan justru menjadikan sesama warga sipil sebagai target sebab belum tentu warga sipil mengetahui persoalan yang dirasakan.
“Saat ini teman-teman muslim sedang masuk masa puasa dan orang Kristen juga jelang masa paskah dimana setiap individu maupun komunitas perlu merenung jika melakukan kesalahan-kesalahan maka ini adalah waktu untuk berfikir dan mengevaluasi diri. Menjauh dari perbuatan kekerasan.Jangan terlalu terkukung dengan perasaan balas dendam sebab kekerasan dibalas kekerasan maka akan terus melahirkan kekerasan dan akhirnya menjadi siklus,” beber Pastor Jhon.