Monday, March 2, 2026
26.3 C
Jayapura

Tokoh Agama Sedih, Banyak Kekerasan di Tanah Perjanjian

JAYAPURA – Bentuk kekerasan yang terus berulang disejumlah daerah mendorong salah satu tokoh agama angkat bicara. Pastor Jhon Jonga yang kenyang makan garam mengabdi melakukan pelayanan kemanusiaan di daerah terisolir menanggapi situasi terkini. Ia mengaku sedih dan bingung mengapa situasi di Papua seperti semakin sulit mendapatkan ketenangan.

Padahal ia meyakini Papua adalah tanah injil, tanah perjanjian yang diberkati oleh Tuhan. Namun melihat banyaknya kejadian yang menelan korban jiwa, iapun tertegun. Merasa bahwa Papua tak lagi sama seperti yang dulu. Yang masih mencerminkan tindakan takut akan Tuhan. Setiap waktu selalu saja ada darah yang menetes.

“Sebagai tokoh agama, sebagai pastor saya merasa perlu berbicara. Memberikan nilai dalam ajaran yang saya imani bahwa tindakan kekerasan apalagi sampai mengambil nyawa orang lain yang tak tahu menahu adalah tindakan yang mengambil kewenangan Tuhan. Bukan tugas manusia untuk itu (membunuh),” beber Pastor saat ditemui di Jayapura, Jumat (27/2).

Baca Juga :  83 Kali Gempa Guncang Mamberamo Raya

Pastor Jhon mengaku tak menyangka terjadi perubahan yang sangat menyolok dari karakter manusia saat ini. Saat dulu ketika Papua masih gelap, kemudian datang injil, orang-orang sangat patuh dan takut melakukan perbuatan dosa.

Namun saat ini, tindakan untuk melakukan kekerasan terasa sangat ringan tanpa melihat siapa dan bagaimana. Pastor mengingatkan bahwa selama ini ia ikut memperjuangkan hak asasi manusia lewat pelayanan keagamaan.

Memberikan apa yang menjadi hak masyarakat untuk mendapatan pencerahan soal kebaikan injil. Masyarakat juga sama – sama menolak bentuk-bentuk kekerasan terutama kepada warga sipil sehingga tidak ada alasan jika saat ini justru melukai sesama warga sipil apalagi sampai membunuh umat yang tak tahu apa -apa. Membunuh umat yang tak berdosa.

Baca Juga :  Harus Dikelola untuk Serap Tenaga Kerja dan Dorong Pertumbuhan Ekononomi

“Saya setuju kita sama-sama menolak yang namanya pelanggaran HAM karena semua memiliki hak yang sama. Tapi jangan justru kita menjadi pelaku lagi kalau sudah sepakat, saya melihat kita terjebak disitu,” imbuhnya.

Pastor lihat dibeberapa kabupaten masih terjadi rentetan kasus kekerasan yang berujung kematian. Iapun mempertanyakan apakah tindakan ini bisa dibenarkan, mengambil kewenangan Tuhan untuk mencabut nyawa seseorang atau seharusnya mampu memilah tindakan apa yang perlu dilakukan.

“Apakah ini dipicu dari perkembangan di Papua yang mengabaikan hak-hak dasar atau semakin sulitnya hidup sehingga terpaksa dilakukan tindakan kekerasan. Kesannya saat ini masyarakat tidak lagi takut membunuh orang, sudah jauh dari era dulu-dulu ketika saya masih keluar masuk hutan,” kenangnya.

JAYAPURA – Bentuk kekerasan yang terus berulang disejumlah daerah mendorong salah satu tokoh agama angkat bicara. Pastor Jhon Jonga yang kenyang makan garam mengabdi melakukan pelayanan kemanusiaan di daerah terisolir menanggapi situasi terkini. Ia mengaku sedih dan bingung mengapa situasi di Papua seperti semakin sulit mendapatkan ketenangan.

Padahal ia meyakini Papua adalah tanah injil, tanah perjanjian yang diberkati oleh Tuhan. Namun melihat banyaknya kejadian yang menelan korban jiwa, iapun tertegun. Merasa bahwa Papua tak lagi sama seperti yang dulu. Yang masih mencerminkan tindakan takut akan Tuhan. Setiap waktu selalu saja ada darah yang menetes.

“Sebagai tokoh agama, sebagai pastor saya merasa perlu berbicara. Memberikan nilai dalam ajaran yang saya imani bahwa tindakan kekerasan apalagi sampai mengambil nyawa orang lain yang tak tahu menahu adalah tindakan yang mengambil kewenangan Tuhan. Bukan tugas manusia untuk itu (membunuh),” beber Pastor saat ditemui di Jayapura, Jumat (27/2).

Baca Juga :  NFRPB Minta Pemerintah Pusat Pikirkan Rakyat Non OAP

Pastor Jhon mengaku tak menyangka terjadi perubahan yang sangat menyolok dari karakter manusia saat ini. Saat dulu ketika Papua masih gelap, kemudian datang injil, orang-orang sangat patuh dan takut melakukan perbuatan dosa.

Namun saat ini, tindakan untuk melakukan kekerasan terasa sangat ringan tanpa melihat siapa dan bagaimana. Pastor mengingatkan bahwa selama ini ia ikut memperjuangkan hak asasi manusia lewat pelayanan keagamaan.

Memberikan apa yang menjadi hak masyarakat untuk mendapatan pencerahan soal kebaikan injil. Masyarakat juga sama – sama menolak bentuk-bentuk kekerasan terutama kepada warga sipil sehingga tidak ada alasan jika saat ini justru melukai sesama warga sipil apalagi sampai membunuh umat yang tak tahu apa -apa. Membunuh umat yang tak berdosa.

Baca Juga :  Jika Disepakati Gakkumdu, Dilanjutkan Proses Penyidikan

“Saya setuju kita sama-sama menolak yang namanya pelanggaran HAM karena semua memiliki hak yang sama. Tapi jangan justru kita menjadi pelaku lagi kalau sudah sepakat, saya melihat kita terjebak disitu,” imbuhnya.

Pastor lihat dibeberapa kabupaten masih terjadi rentetan kasus kekerasan yang berujung kematian. Iapun mempertanyakan apakah tindakan ini bisa dibenarkan, mengambil kewenangan Tuhan untuk mencabut nyawa seseorang atau seharusnya mampu memilah tindakan apa yang perlu dilakukan.

“Apakah ini dipicu dari perkembangan di Papua yang mengabaikan hak-hak dasar atau semakin sulitnya hidup sehingga terpaksa dilakukan tindakan kekerasan. Kesannya saat ini masyarakat tidak lagi takut membunuh orang, sudah jauh dari era dulu-dulu ketika saya masih keluar masuk hutan,” kenangnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya