Pj Bupati Puncak: Kondisi Sebenarnya Tidak Seheboh di Luar

JAYAPURA – Ratusan warga yang berasal dari beberapa kampung di Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah dikabarkan mengungsi. Alasannya lantaran teror yang dilakukan oleh Kelompok kriminal bersenjata (KKB), yang diduga terjadi pada Jumat (10/11).

Menanggapi hal itu, Pj Bupati Puncak, Darwin Tobing mengatakan, kejadian tersebut berawal dari aksi pembakaran satu ruang kelas (SMPN-red). Lalu dilanjutkan dengan pembakaran satu honai.

“Indikasinya dilakukan oleh pihak ketiga, lalu kemudian direaksi oleh Satgas yang ada di Distrik Gome. Sebenarnya keadannya bisa langsung dikendalikan, kita lagi mencari motifnya,” ucap Darwin kepada wartawan, Selasa (14/11).

Lanjut Bupati, akibat kejadian tersebut, menyebabkan masyarakat yang diperkirakan sekitar 200 orang meminta perlindungan di Pos Satgas 300 yang ada Distrik Gome untuk pengamanan.

Baca Juga :  Limbong Bakar Semangat Kontingen, Sebut Nama Almarhum Lisa

“Mereka meminta perlindungan, karena menurut  informasi warga tersebut diintimidasi sehingga memilih keluar,” kata Bupati.

Bupati juga menegaskan bahwa kondisi yang sebenarnya tidak seheboh dengan apa yang beredar di luar. Sebab, warga di sana (Gome-red) tetap beraktivitas seperti biasa.

“Kondisi sebenarnya tidak seheboh yang ada di luar sini, keadaan masyarakat di sana kondusif. Saya juga turun ke sini (Jayapura-red) karena ada acara ini (Hakordia-red),” tegasnya.

Terkait dengan kejadian di Gome, Bupati mengaku Selasa (14/11). Pihaknya telah memerintahkan staf ahli untuk membawa bantuan makanan dan kebutuhan lainnya yang dibutuhkan masyarakat.

“Saya sudah memerintahkan staf ahli untuk membawa bantuan makanan dan kebutuhan lainnya sebagaimana keperluan masyarakat,” ucapnya.

Baca Juga :  Pasca Diluncurkan, Mimika Mulai Terapkan Plat Nomor Berkode PT

JAYAPURA – Ratusan warga yang berasal dari beberapa kampung di Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah dikabarkan mengungsi. Alasannya lantaran teror yang dilakukan oleh Kelompok kriminal bersenjata (KKB), yang diduga terjadi pada Jumat (10/11).

Menanggapi hal itu, Pj Bupati Puncak, Darwin Tobing mengatakan, kejadian tersebut berawal dari aksi pembakaran satu ruang kelas (SMPN-red). Lalu dilanjutkan dengan pembakaran satu honai.

“Indikasinya dilakukan oleh pihak ketiga, lalu kemudian direaksi oleh Satgas yang ada di Distrik Gome. Sebenarnya keadannya bisa langsung dikendalikan, kita lagi mencari motifnya,” ucap Darwin kepada wartawan, Selasa (14/11).

Lanjut Bupati, akibat kejadian tersebut, menyebabkan masyarakat yang diperkirakan sekitar 200 orang meminta perlindungan di Pos Satgas 300 yang ada Distrik Gome untuk pengamanan.

Baca Juga :  Medan yang Sulit Jadi Kendala Penyelamatan Pilot

“Mereka meminta perlindungan, karena menurut  informasi warga tersebut diintimidasi sehingga memilih keluar,” kata Bupati.

Bupati juga menegaskan bahwa kondisi yang sebenarnya tidak seheboh dengan apa yang beredar di luar. Sebab, warga di sana (Gome-red) tetap beraktivitas seperti biasa.

“Kondisi sebenarnya tidak seheboh yang ada di luar sini, keadaan masyarakat di sana kondusif. Saya juga turun ke sini (Jayapura-red) karena ada acara ini (Hakordia-red),” tegasnya.

Terkait dengan kejadian di Gome, Bupati mengaku Selasa (14/11). Pihaknya telah memerintahkan staf ahli untuk membawa bantuan makanan dan kebutuhan lainnya yang dibutuhkan masyarakat.

“Saya sudah memerintahkan staf ahli untuk membawa bantuan makanan dan kebutuhan lainnya sebagaimana keperluan masyarakat,” ucapnya.

Baca Juga :  Antisipasi Penyanderaan, Satgas Operasi Damai Cahrtez Perketatkan Penjagaan

Berita Terbaru

Artikel Lainnya