Potongan Karton Akhirnya Diganti Topi, Orang Tua Ikutan Terharu

Catatan Akhir MPLS Rumah Kedua Peserta Didik Baru di Kota Jayapura

Mulai pekan depan, siswa baru di Kota Jayapura dari berbagai jenjang ini dipastikan siap memasuki ruang kelas dengan semangat baru, siap memulai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) efektif demi menyongsong masa depan yang gemilang.

Laporan: Jimianus Karlodi_Jayapura

Sebuah ikatan kepercayaan resmi terjalin erat ketika ribuan orang tua secara simbolis menyerahkan masa depan anak-anak mereka kepada pihak sekolah pada penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) serentak di berbagai penjuru Jayapura, Jumat (10/7).

Berlangsung selama lima hari penuh sejak tanggal 6 Juli, pelaksanaan orientasi tahun ini tampil beda. Berdasarkan regulasi anyar Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 dan Kepmendikdasmen Nomor 198 Tahun 2026, wajah MPLS di Kota Jayapura sepenuhnya bertransformasi menjadi ruang transisi yang aman, edukatif, humanis, dan bebas dari unsur perundungan.

Transformasi ini terlihat nyata di SMP YPPK St. Paulus Abepura. Di bawah kepemimpinan Maria Noviyanti Widiastuti, S.Pd, rangkaian penutupan diwarnai dengan momen emosional pelepasat atribut peserta didik baru. Dalam prosesi tersebut, para guru secara langsung melepaskan papan nama karton/tanda peserta MPLS dan menggantinya dengan topi sekolah serta menyematkan bet secara resmi.

Momen ini menandai bahwa para siswa telah sah diterima sebagai bagian dari keluarga besar sekolah dan siap melangkah ke gerbang KBM efektif dengan penuh tanggung jawab. Kultur ramah anak di SMP YPPK St. Paulus Abepura dibangun lewat rutinitas harian yang konsisten selama lima hari. Setiap pagi, para guru menyambut siswa di pintu gerbang melalui agenda “Salam Sapa Murid Baru”. Sementara sore harinya, kegiatan selalu ditutup dengan refleksi mendalam dan doa bersama.

Pada hari pertama, siswa diperkenalkan dengan rangkaian materi internal mulai dari Senam Anak Indonesia Hebat, Wawasan Wiyata Mandala, karakterku kuat, pengenalan kurikulum, hingga ruang perjumpaan murid baru. Berada di lingkungan sekolah yang sejuk, para siswa tampak berbaris rapi di halaman sekolah mengenakan seragam putih-merah lengkap dengan atribut tanda pengenal kreatif mereka yang bersahaja.

Tidak tanggung-tanggung, demi memperkuat benteng mentalitas siswa, pihak SMP YPPK St. Paulus Abepura juga menggandeng berbagai narasumber luar sektor. Guna menampung seluruh peserta dengan representatif, pemberian materi ini diboyong ke Aula Duta Damai Padang Bulan.

Di dalam aula yang luas dan nyaman tersebut, ratusan siswa baru duduk dengan tertib di atas hamparan karpet hijau mendengarkan pembekalan krusial dari BNN Provinsi Papua, Mengenai pencegahan isu bahaya Napza. Tim Cyber Polda Papua, Mengedukasi bahaya Hoaks dan Cyber Bullying. Kemudian dari Tim Forpak, Menanamkan nilai luhur Pendidikan Anti-Korupsi, serta dari Puskesmas Emereuw, Sosialisasi mengenai edukasi gizi seimbang bagi remaja.

“St. Paulus adalah rumah kedua bagi mereka. Melalui MPLS ini, kami kuatkan fondasi kedisiplinan dan rasa persaudaraan antar-siswa tanpa membeda-bedakan. Selamat bergabung, mari kita belajar dengan gembira dan penuh tanggung jawab,” ungkap Noviyanti. Pada titik akhir penutupan inilah, para orang tua secara resmi menyerahkan anak-anak mereka kepada pihak sekolah untuk dibimbing.

Baca Juga :  Manfaatkan Momen di Berbagai Acara, Pendapatan Bisa Capai UMP

Nafas yang sama juga berembus di SMP Negeri 2 Jayapura. Melaksanakan upacara penutupan di halaman sekolah, Kepala Sekolah Dorthea Carolien Enok, S.Pd, berpesan agar para murid menjaga integritas rumah belajar mereka yang baru. Dorthea juga secara khusus meminta kepercayaan penuh dari para orang tua untuk melepas anak-anak mereka dibina di sekolah.

“Kepada orang tua, kami berpesan, selama anak-anak berada di sekolah, serahkan dan percayakan mereka seutuhnya kepada kami. Bersama-sama, kita akan membentuk mereka menjadi generasi emas SMPN 2 Jayapura,” tambahnya. Transformasi pelaksanaan MPLS tahun 2026 ini memicu respons positif dan rasa haru dari para orang tua murid yang hadir menyaksikan penutupan.

Yuliana (42), salah satu orang tua murid baru di SMP YPPK St. Paulus Abepura, mengaku sempat khawatir sebelum MPLS dimulai karena dibayangi cerita-cerita perundungan masa lalu. “Jujur, awalnya saya cemas. Tapi melihat anak saya pulang setiap hari dengan senyum, bercerita tentang materi dari polisi dan BNN, saya sangat lega. Hari ini, saat kami menyerahkan anak secara resmi di upacara penutupan, rasanya haru sekali. Kami percaya sekolah bisa menjadi rumah kedua yang aman bagi masa depan anak kami,” ungkap Yuliana dengan mata berkaca-kaca.

Hal senada diungkapkan oleh perwakilan orang tua murid di SMPN 2 Jayapura, yang mengapresiasi ketegasan sekolah dalam membentuk karakter tanpa kekerasan. “Pesan Ibu Kepsek Dorthea tadi sangat mengena. Sebagai orang tua, ketika kami menyerahkan anak ke sekolah, kami menaruh harapan besar. Kami siap mendukung penuh aturan sekolah agar anak-anak kami betul-betul siap menjadi generasi emas,” ungkapnya.

Hal senada diutarakan oleh Hendrik (45), perwakilan orang tua murid di SMPN 2 Jayapura. Menurutnya, ketegasan yang dibalut kasih sayang dari pihak sekolah adalah apa yang dibutuhkan generasi muda saat ini. “Pesan Ibu Kepala Sekolah sangat menyentuh. Kami titipkan anak-anak kami di sini. Kami siap mendukung penuh aturan sekolah agar anak-anak kami betul-betul siap menjadi generasi emas Papua yang berkarakter,” ujarnya.

Semangat serupa juga menjalar di sekolah-sekolah lain di Jayapura. Di SMAN 7 Jayapura contohnya. Penutupan ditandai dengan pelepasan atribut peserta dan penyematan bet sekolah. Kepala Sekolah mengingatkan pentingnya kemandirian kurikulum baru serta kesiapan digital untuk menjauhi kenakalan remaja.

Sementara di tingkat dasar, penutupan dikemas sangat ceria dan gembira. Seperti halnya terlihat di SD YPPK Gembala Baik Abepura wajah-wajah ceria dan tawa renyah anak-anak mewarnai halaman sekolah, pada Jumat (10/7). Setelah berlangsung selama lima hari penuh sejak 6 Juli lalu, kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi para peserta didik baru Tahun Ajaran 2026/2027 resmi ditutup.

Sesuai dengan semangat regulasi pendidikan terbaru yang menekankan lingkungan belajar aman, SD YPPK Gembala Baik sukses mentransformasi masa orientasi menjadi sebuah jembatan transisi yang menyenangkan bagi anak-anak yang baru lepas dari bangku Taman Kanak-Kanak (TK).

Baca Juga :  Nahor Nekwek: Lewat Pendidikan, Bisa Menjadi Orang Hebat

Kepala Sekolah SD YPPK Gembala Baik Abepura, Anastasia K.P. Sari, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa fokus utama dari seluruh rangkaian MPLS tahun ini adalah aspek psikologis anak. Pihak sekolah berkomitmen memastikan bahwa hari-hari pertama anak di sekolah dasar tidak menjadi pengalaman yang menakutkan, melainkan sebuah petualangan baru yang seru.

“Anak-anak kelas satu ini berada di fase transisi yang krusial. Mereka berpindah dari lingkungan TK yang dominan bermain, ke lingkungan SD yang belajarnya lebih terstruktur. Oleh karena itu, selama lima hari ini, kami menyajikan program yang ramah anak, edukatif, namun tetap diselingi permainan agar mereka merasa nyaman,” jelas Anastasia.

Dengan sabar kepala sekolah itu menjelaskan selama kegiatan, para siswa baru diajak mengenal kultur sekolah, para guru, kakak kelas, hingga fasilitas penunjang belajar melalui metode simulasi dan pendekatan yang humanis. Penutupan kegiatan pun ditandai dengan pelepasan simbolis atribut MPLS dan penyerahan siswa secara resmi dari orang tua kepada pihak sekolah.

Anastasia juga menggarisbawahi bahwa keberhasilan pendidikan di tingkat dasar sangat bergantung pada sinergi yang kuat antara sekolah dan rumah. Kehadiran orang tua dalam upacara penutupan menjadi bukti nyata kolaborasi tersebut. “Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan besar yang diberikan oleh para orang tua yang telah menitipkan putra-putrinya di SD YPPK Gembala Baik. Kami berharap, rasa nyaman yang terbangun selama MPLS ini membuat anak-anak selalu rindu untuk datang ke sekolah setiap pagi,” tambah Anastasia penuh harap.

Semangat menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif juga menggema di SMA Negeri Khusus Sains dan Bahasa Jayapura. Kepala Sekolah SMAN Khusus Sains dan Bahasa, Joko Yohanis, menyatakan bahwa pihaknya menjalankan prinsip MPLS yang searah, yaitu memastikan anak-anak merasa aman, dihargai, dan termotivasi untuk memulai pembelajaran tanpa rasa takut terhadap senioritas.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Sekolah SMK Negeri 8 Jayapura, Yoseph Calvin Srem, menegaskan bahwa institusi vokasi yang dipimpinnya turut menerapkan pendekatan MPLS Ramah Anak. Bagi sekolah kejuruan, iklim yang menyenangkan dan bebas kekerasan menjadi syarat mutlak agar siswa baru dapat fokus mengembangkan potensi, minat, serta keahlian praktis mereka secara optimal.

Melalui gerakan serentak MPLS Ramah Anak Tahun 2026 ini, sekolah-sekolah di wilayah Abepura dan Kota Jayapura menunjukkan komitmen nyata untuk melahirkan generasi baru Papua yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga tangguh secara moral, melek digital, bebas narkoba, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Dengan ditutupnya seluruh rangkaian MPLS pada Jumat, 10 Juli 2026, seluruh fase orientasi dinyatakan selesai. Mulai pekan depan, siswa baru di Kota Jayapura dari berbagai jenjang ini dipastikan siap memasuki ruang kelas dengan semangat baru, siap memulai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) efektif demi menyongsong masa depan yang gemilang. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Catatan Akhir MPLS Rumah Kedua Peserta Didik Baru di Kota Jayapura

Mulai pekan depan, siswa baru di Kota Jayapura dari berbagai jenjang ini dipastikan siap memasuki ruang kelas dengan semangat baru, siap memulai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) efektif demi menyongsong masa depan yang gemilang.

Laporan: Jimianus Karlodi_Jayapura

Sebuah ikatan kepercayaan resmi terjalin erat ketika ribuan orang tua secara simbolis menyerahkan masa depan anak-anak mereka kepada pihak sekolah pada penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) serentak di berbagai penjuru Jayapura, Jumat (10/7).

Berlangsung selama lima hari penuh sejak tanggal 6 Juli, pelaksanaan orientasi tahun ini tampil beda. Berdasarkan regulasi anyar Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 dan Kepmendikdasmen Nomor 198 Tahun 2026, wajah MPLS di Kota Jayapura sepenuhnya bertransformasi menjadi ruang transisi yang aman, edukatif, humanis, dan bebas dari unsur perundungan.

Transformasi ini terlihat nyata di SMP YPPK St. Paulus Abepura. Di bawah kepemimpinan Maria Noviyanti Widiastuti, S.Pd, rangkaian penutupan diwarnai dengan momen emosional pelepasat atribut peserta didik baru. Dalam prosesi tersebut, para guru secara langsung melepaskan papan nama karton/tanda peserta MPLS dan menggantinya dengan topi sekolah serta menyematkan bet secara resmi.

Momen ini menandai bahwa para siswa telah sah diterima sebagai bagian dari keluarga besar sekolah dan siap melangkah ke gerbang KBM efektif dengan penuh tanggung jawab. Kultur ramah anak di SMP YPPK St. Paulus Abepura dibangun lewat rutinitas harian yang konsisten selama lima hari. Setiap pagi, para guru menyambut siswa di pintu gerbang melalui agenda “Salam Sapa Murid Baru”. Sementara sore harinya, kegiatan selalu ditutup dengan refleksi mendalam dan doa bersama.

Pada hari pertama, siswa diperkenalkan dengan rangkaian materi internal mulai dari Senam Anak Indonesia Hebat, Wawasan Wiyata Mandala, karakterku kuat, pengenalan kurikulum, hingga ruang perjumpaan murid baru. Berada di lingkungan sekolah yang sejuk, para siswa tampak berbaris rapi di halaman sekolah mengenakan seragam putih-merah lengkap dengan atribut tanda pengenal kreatif mereka yang bersahaja.

Tidak tanggung-tanggung, demi memperkuat benteng mentalitas siswa, pihak SMP YPPK St. Paulus Abepura juga menggandeng berbagai narasumber luar sektor. Guna menampung seluruh peserta dengan representatif, pemberian materi ini diboyong ke Aula Duta Damai Padang Bulan.

Di dalam aula yang luas dan nyaman tersebut, ratusan siswa baru duduk dengan tertib di atas hamparan karpet hijau mendengarkan pembekalan krusial dari BNN Provinsi Papua, Mengenai pencegahan isu bahaya Napza. Tim Cyber Polda Papua, Mengedukasi bahaya Hoaks dan Cyber Bullying. Kemudian dari Tim Forpak, Menanamkan nilai luhur Pendidikan Anti-Korupsi, serta dari Puskesmas Emereuw, Sosialisasi mengenai edukasi gizi seimbang bagi remaja.

“St. Paulus adalah rumah kedua bagi mereka. Melalui MPLS ini, kami kuatkan fondasi kedisiplinan dan rasa persaudaraan antar-siswa tanpa membeda-bedakan. Selamat bergabung, mari kita belajar dengan gembira dan penuh tanggung jawab,” ungkap Noviyanti. Pada titik akhir penutupan inilah, para orang tua secara resmi menyerahkan anak-anak mereka kepada pihak sekolah untuk dibimbing.

Baca Juga :  Manfaatkan Momen di Berbagai Acara, Pendapatan Bisa Capai UMP

Nafas yang sama juga berembus di SMP Negeri 2 Jayapura. Melaksanakan upacara penutupan di halaman sekolah, Kepala Sekolah Dorthea Carolien Enok, S.Pd, berpesan agar para murid menjaga integritas rumah belajar mereka yang baru. Dorthea juga secara khusus meminta kepercayaan penuh dari para orang tua untuk melepas anak-anak mereka dibina di sekolah.

“Kepada orang tua, kami berpesan, selama anak-anak berada di sekolah, serahkan dan percayakan mereka seutuhnya kepada kami. Bersama-sama, kita akan membentuk mereka menjadi generasi emas SMPN 2 Jayapura,” tambahnya. Transformasi pelaksanaan MPLS tahun 2026 ini memicu respons positif dan rasa haru dari para orang tua murid yang hadir menyaksikan penutupan.

Yuliana (42), salah satu orang tua murid baru di SMP YPPK St. Paulus Abepura, mengaku sempat khawatir sebelum MPLS dimulai karena dibayangi cerita-cerita perundungan masa lalu. “Jujur, awalnya saya cemas. Tapi melihat anak saya pulang setiap hari dengan senyum, bercerita tentang materi dari polisi dan BNN, saya sangat lega. Hari ini, saat kami menyerahkan anak secara resmi di upacara penutupan, rasanya haru sekali. Kami percaya sekolah bisa menjadi rumah kedua yang aman bagi masa depan anak kami,” ungkap Yuliana dengan mata berkaca-kaca.

Hal senada diungkapkan oleh perwakilan orang tua murid di SMPN 2 Jayapura, yang mengapresiasi ketegasan sekolah dalam membentuk karakter tanpa kekerasan. “Pesan Ibu Kepsek Dorthea tadi sangat mengena. Sebagai orang tua, ketika kami menyerahkan anak ke sekolah, kami menaruh harapan besar. Kami siap mendukung penuh aturan sekolah agar anak-anak kami betul-betul siap menjadi generasi emas,” ungkapnya.

Hal senada diutarakan oleh Hendrik (45), perwakilan orang tua murid di SMPN 2 Jayapura. Menurutnya, ketegasan yang dibalut kasih sayang dari pihak sekolah adalah apa yang dibutuhkan generasi muda saat ini. “Pesan Ibu Kepala Sekolah sangat menyentuh. Kami titipkan anak-anak kami di sini. Kami siap mendukung penuh aturan sekolah agar anak-anak kami betul-betul siap menjadi generasi emas Papua yang berkarakter,” ujarnya.

Semangat serupa juga menjalar di sekolah-sekolah lain di Jayapura. Di SMAN 7 Jayapura contohnya. Penutupan ditandai dengan pelepasan atribut peserta dan penyematan bet sekolah. Kepala Sekolah mengingatkan pentingnya kemandirian kurikulum baru serta kesiapan digital untuk menjauhi kenakalan remaja.

Sementara di tingkat dasar, penutupan dikemas sangat ceria dan gembira. Seperti halnya terlihat di SD YPPK Gembala Baik Abepura wajah-wajah ceria dan tawa renyah anak-anak mewarnai halaman sekolah, pada Jumat (10/7). Setelah berlangsung selama lima hari penuh sejak 6 Juli lalu, kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi para peserta didik baru Tahun Ajaran 2026/2027 resmi ditutup.

Sesuai dengan semangat regulasi pendidikan terbaru yang menekankan lingkungan belajar aman, SD YPPK Gembala Baik sukses mentransformasi masa orientasi menjadi sebuah jembatan transisi yang menyenangkan bagi anak-anak yang baru lepas dari bangku Taman Kanak-Kanak (TK).

Baca Juga :  Kembali Tapak Tilas, Wagub Serahkan Bantuan Bus Sekolah

Kepala Sekolah SD YPPK Gembala Baik Abepura, Anastasia K.P. Sari, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa fokus utama dari seluruh rangkaian MPLS tahun ini adalah aspek psikologis anak. Pihak sekolah berkomitmen memastikan bahwa hari-hari pertama anak di sekolah dasar tidak menjadi pengalaman yang menakutkan, melainkan sebuah petualangan baru yang seru.

“Anak-anak kelas satu ini berada di fase transisi yang krusial. Mereka berpindah dari lingkungan TK yang dominan bermain, ke lingkungan SD yang belajarnya lebih terstruktur. Oleh karena itu, selama lima hari ini, kami menyajikan program yang ramah anak, edukatif, namun tetap diselingi permainan agar mereka merasa nyaman,” jelas Anastasia.

Dengan sabar kepala sekolah itu menjelaskan selama kegiatan, para siswa baru diajak mengenal kultur sekolah, para guru, kakak kelas, hingga fasilitas penunjang belajar melalui metode simulasi dan pendekatan yang humanis. Penutupan kegiatan pun ditandai dengan pelepasan simbolis atribut MPLS dan penyerahan siswa secara resmi dari orang tua kepada pihak sekolah.

Anastasia juga menggarisbawahi bahwa keberhasilan pendidikan di tingkat dasar sangat bergantung pada sinergi yang kuat antara sekolah dan rumah. Kehadiran orang tua dalam upacara penutupan menjadi bukti nyata kolaborasi tersebut. “Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan besar yang diberikan oleh para orang tua yang telah menitipkan putra-putrinya di SD YPPK Gembala Baik. Kami berharap, rasa nyaman yang terbangun selama MPLS ini membuat anak-anak selalu rindu untuk datang ke sekolah setiap pagi,” tambah Anastasia penuh harap.

Semangat menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif juga menggema di SMA Negeri Khusus Sains dan Bahasa Jayapura. Kepala Sekolah SMAN Khusus Sains dan Bahasa, Joko Yohanis, menyatakan bahwa pihaknya menjalankan prinsip MPLS yang searah, yaitu memastikan anak-anak merasa aman, dihargai, dan termotivasi untuk memulai pembelajaran tanpa rasa takut terhadap senioritas.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Sekolah SMK Negeri 8 Jayapura, Yoseph Calvin Srem, menegaskan bahwa institusi vokasi yang dipimpinnya turut menerapkan pendekatan MPLS Ramah Anak. Bagi sekolah kejuruan, iklim yang menyenangkan dan bebas kekerasan menjadi syarat mutlak agar siswa baru dapat fokus mengembangkan potensi, minat, serta keahlian praktis mereka secara optimal.

Melalui gerakan serentak MPLS Ramah Anak Tahun 2026 ini, sekolah-sekolah di wilayah Abepura dan Kota Jayapura menunjukkan komitmen nyata untuk melahirkan generasi baru Papua yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga tangguh secara moral, melek digital, bebas narkoba, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Dengan ditutupnya seluruh rangkaian MPLS pada Jumat, 10 Juli 2026, seluruh fase orientasi dinyatakan selesai. Mulai pekan depan, siswa baru di Kota Jayapura dari berbagai jenjang ini dipastikan siap memasuki ruang kelas dengan semangat baru, siap memulai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) efektif demi menyongsong masa depan yang gemilang. (*)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya