Ironi, Remaja Zaman Sekarang Lebih Banyak Duduk daripada Bergerak

JAKARTA – Setelah sekolah, tas dilempar ke tempat tidur dan sesi layar dimulai. Main game, scroll media sosial, nonton series, video call teman aktivitas yang penuh tapi semuanya dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring. Inilah gambaran keseharian jutaan remaja Indonesia, dan dokter mulai menyebutnya sebagai “gaya hidup sedentari” yang menyimpan risiko besar dalam jangka panjang.

Gaya hidup sedentari merujuk pada pola hidup dengan sangat sedikit aktivitas fisik sepanjang hari. Kemajuan teknologi membawa banyak manfaat, tapi juga secara diam-diam menciptakan generasi yang lebih banyak duduk dari generasi manapun sebelumnya. Bagi remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan, minimnya gerak fisik berdampak langsung pada penurunan kekuatan otot, stamina jantung, dan kemampuan kognitif secara bersamaan.

Baca Juga :  Tak Rekemondasikan Wilayah 3T Terapkan Gasing

Remaja yang jarang bergerak lebih rentan mengalami kelebihan berat badan sejak usia muda. Kondisi ini bukan sekadar masalah penampilan obesitas pada masa remaja terbukti cenderung menetap hingga dewasa dan meningkatkan risiko diabetes, hipertensi, serta penyakit jantung di kemudian hari.Berapa Banyak Gerak yang Dibutuhkan Remaja Setiap Hari?

Rekomendasi medis menyarankan remaja untuk melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang setidaknya 60 menit setiap hari. Ini tidak harus selalu olahraga terstruktur seperti futsal atau renang bersepeda ke sekolah, bermain di luar, atau bahkan berjalan kaki lebih sering sudah termasuk hitungan.

Kuncinya adalah konsistensi bergerak setiap hari, bukan intensitas tinggi sesekali yang justru sering berujung pada kelelahan dan berhenti total. Mengganti perjalanan pendek dengan berjalan kaki atau naik sepeda adalah langkah termudah yang bisa langsung dimulai. Mengatur timer untuk berdiri dan meregangkan tubuh setiap jam saat belajar di rumah juga membantu memecah kebiasaan duduk terlalu lama.

Baca Juga :  CKG Beri Dampak Positif pada Psikologi Anak

Mencari aktivitas fisik yang menyenangkan apakah itu dance, berenang, atau hiking bersama teman membuat olahraga terasa seperti hiburan, bukan beban. Tubuh yang bergerak adalah tubuh yang sehat dan kebiasaan aktif yang dibangun di masa remaja adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan seseorang kepada dirinya di masa depan. (*/Jawa Pos)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

JAKARTA – Setelah sekolah, tas dilempar ke tempat tidur dan sesi layar dimulai. Main game, scroll media sosial, nonton series, video call teman aktivitas yang penuh tapi semuanya dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring. Inilah gambaran keseharian jutaan remaja Indonesia, dan dokter mulai menyebutnya sebagai “gaya hidup sedentari” yang menyimpan risiko besar dalam jangka panjang.

Gaya hidup sedentari merujuk pada pola hidup dengan sangat sedikit aktivitas fisik sepanjang hari. Kemajuan teknologi membawa banyak manfaat, tapi juga secara diam-diam menciptakan generasi yang lebih banyak duduk dari generasi manapun sebelumnya. Bagi remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan, minimnya gerak fisik berdampak langsung pada penurunan kekuatan otot, stamina jantung, dan kemampuan kognitif secara bersamaan.

Baca Juga :  CKG Beri Dampak Positif pada Psikologi Anak

Remaja yang jarang bergerak lebih rentan mengalami kelebihan berat badan sejak usia muda. Kondisi ini bukan sekadar masalah penampilan obesitas pada masa remaja terbukti cenderung menetap hingga dewasa dan meningkatkan risiko diabetes, hipertensi, serta penyakit jantung di kemudian hari.Berapa Banyak Gerak yang Dibutuhkan Remaja Setiap Hari?

Rekomendasi medis menyarankan remaja untuk melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang setidaknya 60 menit setiap hari. Ini tidak harus selalu olahraga terstruktur seperti futsal atau renang bersepeda ke sekolah, bermain di luar, atau bahkan berjalan kaki lebih sering sudah termasuk hitungan.

Kuncinya adalah konsistensi bergerak setiap hari, bukan intensitas tinggi sesekali yang justru sering berujung pada kelelahan dan berhenti total. Mengganti perjalanan pendek dengan berjalan kaki atau naik sepeda adalah langkah termudah yang bisa langsung dimulai. Mengatur timer untuk berdiri dan meregangkan tubuh setiap jam saat belajar di rumah juga membantu memecah kebiasaan duduk terlalu lama.

Baca Juga :  Jokowi Geram Masih Ada Belanja Produk Impor

Mencari aktivitas fisik yang menyenangkan apakah itu dance, berenang, atau hiking bersama teman membuat olahraga terasa seperti hiburan, bukan beban. Tubuh yang bergerak adalah tubuh yang sehat dan kebiasaan aktif yang dibangun di masa remaja adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan seseorang kepada dirinya di masa depan. (*/Jawa Pos)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya