El Nino Diprediksi Jadi yang Terkuat Abad Ini

BMKG Peringatkan Kemarau Kering hingga Awal 2027

JAKARTA – Ancaman fenomena El Nino kembali membayangi Indonesia. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memprediksi El Nino segera terbentuk di Samudra Pasifik dan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah pengamatan modern. Di saat bersamaan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan musim kemarau 2026 bakal berlangsung lebih kering dari kondisi normal dan bisa bertahan hingga awal 2027.

Kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai dampak serius, mulai kekeringan, krisis air bersih, gagal panen, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga gangguan pasokan pangan. Para ilmuwan bahkan mengingatkan bahwa perubahan iklim global dapat memperparah dampak El Nino dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Baca Juga :  Nabire Raih IGA 2021 Kategori Daerah Tertinggal Terinovatif

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, hasil pemantauan hingga akhir Mei 2026 menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur telah mencapai positif 1 derajat Celsius dan bertahan di atas ambang netral selama lima dasarian berturut-turut.

“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan segera aktif dan terus bertahan hingga awal tahun 2027,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (10/6).

Berdasarkan hasil pemodelan iklim terbaru, peluang El Nino berkembang menjadi kategori moderat mencapai 98 persen. Bahkan peluang meningkat menjadi kategori kuat mencapai 62 persen. Tak hanya itu, BMKG juga memantau potensi terbentuknya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia pada periode Juli hingga November 2026. Kombinasi El Nino dan IOD positif diperkirakan memperkuat kondisi kering di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga :  BMKG Minta Pemerintah Siapkan Mitigasi Antisipasi Gagal Panen

BMKG Peringatkan Kemarau Kering hingga Awal 2027

JAKARTA – Ancaman fenomena El Nino kembali membayangi Indonesia. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memprediksi El Nino segera terbentuk di Samudra Pasifik dan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah pengamatan modern. Di saat bersamaan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan musim kemarau 2026 bakal berlangsung lebih kering dari kondisi normal dan bisa bertahan hingga awal 2027.

Kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai dampak serius, mulai kekeringan, krisis air bersih, gagal panen, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga gangguan pasokan pangan. Para ilmuwan bahkan mengingatkan bahwa perubahan iklim global dapat memperparah dampak El Nino dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Baca Juga :  Viral ‘Penjarahan’ di Sibolga, Kepala BNPB Angkat Suara

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, hasil pemantauan hingga akhir Mei 2026 menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur telah mencapai positif 1 derajat Celsius dan bertahan di atas ambang netral selama lima dasarian berturut-turut.

“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan segera aktif dan terus bertahan hingga awal tahun 2027,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (10/6).

Berdasarkan hasil pemodelan iklim terbaru, peluang El Nino berkembang menjadi kategori moderat mencapai 98 persen. Bahkan peluang meningkat menjadi kategori kuat mencapai 62 persen. Tak hanya itu, BMKG juga memantau potensi terbentuknya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia pada periode Juli hingga November 2026. Kombinasi El Nino dan IOD positif diperkirakan memperkuat kondisi kering di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga :  BBMKG Berikan Peringatan Waspada Dampak Gempa Bumi

Berita Terbaru

Artikel Lainnya