Air Danau Naik, Bukan Berarti Pendidikan Berhenti

Melihat Aktivitas Pendidikan Ditengah Naiknya Air Danau Sentani.

Pendidikan harus tetap berjalan,karena hanya pendidikan yang dapat merubah dunia, angin kencang,gelombang bahkan hujan tak menjadi kendala.

Laporan:Yohana_SENTANI

Pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIT, angin berhembus cukup kencang di tepian Danau Sentani. Ombak kecil berkejaran, membawa serta sampah yang perlahan masuk ke halaman rumah warga di Kampung Ifale.

Di tengah kecemasan para orang tua yang terus memantau air danau yang belum juga surut, terdengar suara yang berbeda, tawa riang anak-anak yang memecah suasana.
Anak-anak itu berlarian kecil di genangan air, bermain tanpa beban. Mereka adalah murid-murid dari PAUD Mawar Ifale, yang baru saja menyelesaikan kegiatan belajar mereka hari itu.

Baca Juga :  Bupati MA Segera Lakukan Rotasi Pejabat

Bagi mereka, air yang meluap bukan ancaman, melainkan permainan. Namun bagi para guru, itu adalah tantangan yang harus dihadapi setiap hari.

Di kampung yang menjadi salah satu dari puluhan kampung di sekitar Danau Sentani itu, kehidupan tetap berjalan. Air boleh naik, tapi semangat tidak ikut tenggelam.

Ketua PAUD Mawar Ifale, Agustina Monim, adalah salah satu sosok yang tak pernah menyerah pada keadaan. Setiap pagi, ia mendayung perahu kecilnya menyusuri danau. Satu per satu anak-anak dijemput dari kampung seberang, dibawa menuju tempat belajar.

Perahu dayung itu hanya mampu menampung sekitar 10 hingga 15 anak. Di tengah angin kencang, gelombang air, bahkan hujan yang kerap turun tiba-tiba, perjalanan itu bukan tanpa risiko. Namun bagi Agustina, pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda.

Baca Juga :  Ada 21 Komoditas yang Bisa Dihilirisasi, Namun Belum Dimaksimalkan

Melihat Aktivitas Pendidikan Ditengah Naiknya Air Danau Sentani.

Pendidikan harus tetap berjalan,karena hanya pendidikan yang dapat merubah dunia, angin kencang,gelombang bahkan hujan tak menjadi kendala.

Laporan:Yohana_SENTANI

Pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIT, angin berhembus cukup kencang di tepian Danau Sentani. Ombak kecil berkejaran, membawa serta sampah yang perlahan masuk ke halaman rumah warga di Kampung Ifale.

Di tengah kecemasan para orang tua yang terus memantau air danau yang belum juga surut, terdengar suara yang berbeda, tawa riang anak-anak yang memecah suasana.
Anak-anak itu berlarian kecil di genangan air, bermain tanpa beban. Mereka adalah murid-murid dari PAUD Mawar Ifale, yang baru saja menyelesaikan kegiatan belajar mereka hari itu.

Baca Juga :  Lima Tahun Menunggu, 774 CPNS dan P3K Ikut Prajabatan

Bagi mereka, air yang meluap bukan ancaman, melainkan permainan. Namun bagi para guru, itu adalah tantangan yang harus dihadapi setiap hari.

Di kampung yang menjadi salah satu dari puluhan kampung di sekitar Danau Sentani itu, kehidupan tetap berjalan. Air boleh naik, tapi semangat tidak ikut tenggelam.

Ketua PAUD Mawar Ifale, Agustina Monim, adalah salah satu sosok yang tak pernah menyerah pada keadaan. Setiap pagi, ia mendayung perahu kecilnya menyusuri danau. Satu per satu anak-anak dijemput dari kampung seberang, dibawa menuju tempat belajar.

Perahu dayung itu hanya mampu menampung sekitar 10 hingga 15 anak. Di tengah angin kencang, gelombang air, bahkan hujan yang kerap turun tiba-tiba, perjalanan itu bukan tanpa risiko. Namun bagi Agustina, pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda.

Baca Juga :  Bupati MA Segera Lakukan Rotasi Pejabat

Berita Terbaru

Artikel Lainnya