Thursday, March 12, 2026
26.7 C
Jayapura

Kiprah Diplomasi Luar Negeri Warnai Tahun Pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran

JAYAPURA – Presiden RI Prabowo Subianto tampil menyampaikan pidato pada urutan ke-3 setelah Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, di sesi ke-80 debat Majelis Umum PBB (80th Session of General Assembly Debate), Markas Besar PBB, New York, AS, Selasa (23/9).

Pidato presiden yang berdurasi sekitar 20 menit itu secara tegas menyatakan posisi Indonesia yang membela Palestina, sekaligus mengutuk genosida Israel di Gaza. Gaya pidato dan aksentuasi pengucapan diksi serta gestur, merupakan salah satu daya tarik pidato Presiden Prabowo di forum tertinggi dunia yang mendapat apresiasi dari berbagai pihak.

Dino Patti Djalal, diplomat senior yang juga mantan Dubes RI untuk AS serta mantan Wamenlu era presiden ke-6, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Presiden Prabowo atas pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB.

Baca Juga :  Jelang Pembacaan Tuntutan HAN, Jaksa Hadirkan Saksi Verbalisan

“Pesan penting dari pidato Presiden Prabowo adalah Indonesia is back in multilateral diplomacy. Selama 11 tahun terakhir, sejak Presiden Joko Widodo tidak pernah hadir secara fisik di Sidang Majelis Umum PBB, ada persepsi bahwa Indonesia menjauh dari diplomasi multilateral. Pidato hari ini menghapus persepsi itu,” kata Dino dalam video yang dia unggah di akun Instagram pribadinya @dinopattidjalal, dikutip pada Rabu (24/9/2025).

Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu menyebut pidato Presiden Prabowo sebagai salah satu yang spesial untuk diingat sepanjang masa. Ia yakin pidato presiden di Sidang Umum PBB membawa kebanggaan publik.

“Ini adalah a speech to remember. Pidato yang akan diingat dan dipelajari mahasiswa hubungan internasional dan dunia akademisi Indonesia. Saya berikan dua jempol untuk Presiden Prabowo. Saya yakin seluruh bangsa Indonesia bangga dan terharu,” tandas Dino.

Baca Juga :  Dinkes Papua Masih Membuka Layanan Vaksinasi untuk Warga

JAYAPURA – Presiden RI Prabowo Subianto tampil menyampaikan pidato pada urutan ke-3 setelah Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, di sesi ke-80 debat Majelis Umum PBB (80th Session of General Assembly Debate), Markas Besar PBB, New York, AS, Selasa (23/9).

Pidato presiden yang berdurasi sekitar 20 menit itu secara tegas menyatakan posisi Indonesia yang membela Palestina, sekaligus mengutuk genosida Israel di Gaza. Gaya pidato dan aksentuasi pengucapan diksi serta gestur, merupakan salah satu daya tarik pidato Presiden Prabowo di forum tertinggi dunia yang mendapat apresiasi dari berbagai pihak.

Dino Patti Djalal, diplomat senior yang juga mantan Dubes RI untuk AS serta mantan Wamenlu era presiden ke-6, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Presiden Prabowo atas pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB.

Baca Juga :  Pansel DPRK Umumkan Hasil Seleksi Calon Anggota DPRK Kabupaten Jayapura

“Pesan penting dari pidato Presiden Prabowo adalah Indonesia is back in multilateral diplomacy. Selama 11 tahun terakhir, sejak Presiden Joko Widodo tidak pernah hadir secara fisik di Sidang Majelis Umum PBB, ada persepsi bahwa Indonesia menjauh dari diplomasi multilateral. Pidato hari ini menghapus persepsi itu,” kata Dino dalam video yang dia unggah di akun Instagram pribadinya @dinopattidjalal, dikutip pada Rabu (24/9/2025).

Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu menyebut pidato Presiden Prabowo sebagai salah satu yang spesial untuk diingat sepanjang masa. Ia yakin pidato presiden di Sidang Umum PBB membawa kebanggaan publik.

“Ini adalah a speech to remember. Pidato yang akan diingat dan dipelajari mahasiswa hubungan internasional dan dunia akademisi Indonesia. Saya berikan dua jempol untuk Presiden Prabowo. Saya yakin seluruh bangsa Indonesia bangga dan terharu,” tandas Dino.

Baca Juga :  Raih Penghargaan Terbaik Kedua Nasional   

Berita Terbaru

Artikel Lainnya