Wednesday, January 21, 2026
26 C
Jayapura

Transformasi Digital Kesehatan Berbasis AI Bisa Tekan Biaya Inflasi Medis

JAKARTA- Transformasi digital kesehatan berbasis kecerdasan buatan (AI) dinilai menjadi salah satu kunci untuk menekan laju inflasi biaya medis Indonesia yang terus meningkat dan telah mencapai hampir 20 persen pada 2025. Founder dan CEO Medix Global, Sigal Atzmon, mengatakan, penerapan AI yang terarah dan bertanggung jawab diyakini mampu meningkatkan efisiensi layanan kesehatan sekaligus mengurangi pemborosan biaya medis yang selama ini membebani masyarakat dan industri asuransi.

Dengan posisi sebagai ekonomi terbesar di kawasan dan anggota G20, ia menyebut bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan sistem kesehatan yang berkelanjutan. Meski secara nominal berada di peringkat ke-17 dunia, daya beli masyarakat Indonesia bahkan melampaui sejumlah negara maju seperti Inggris dan Prancis.

Namun, di balik capaian ekonomi tersebut, sistem kesehatan nasional masih menghadapi tantangan serius akibat inflasi biaya medis yang terus menanjak. Kondisi ini berisiko menghambat akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang layak, sekaligus menekan keberlanjutan industri asuransi.

“Medix memandang situasi ini sebagai tantangan sekaligus peluang untuk menghadirkan inovasi, terutama melalui pemanfaatan AI, penguatan kapabilitas penyedia layanan kesehatan lokal, serta dukungan kebijakan regulator,” ujar Sigal kepada wartawan, Jumat (16/1). Ia menegaskan bahwa perkembangan AI dan digitalisasi di sektor kesehatan Indonesia telah menunjukkan dampak nyata.

Berbagai inisiatif dari pemerintah dan sektor swasta terus digulirkan untuk meningkatkan kualitas diagnosis, pengelolaan penyakit kronis, efisiensi administrasi, hingga perluasan akses layanan kesehatan. Reformasi regulasi melalui UU Cipta Kerja serta perluasan cakupan BPJS juga mendorong kolaborasi yang semakin erat antara sektor publik dan swasta.

Baca Juga :  Rata-rata Pendapatan RSUD Jayapura Rp 6,5 Miliar/Bulan

Meski demikian, tantangan struktural masih membayangi, mulai dari ketimpangan akses layanan kesehatan, keterbatasan tenaga kesehatan, kurangnya transparansi dan standarisasi data, hingga tingginya biaya perawatan. Dalam konteks ini, penerapan AI yang tepat sasaran dinilai mampu membantu mengurangi berbagai hambatan tersebut.

Berdasarkan sejumlah sumber, inflasi biaya medis di Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 19,8 persen, jauh melampaui rata-rata kenaikan di negara Asia lainnya yang berada di kisaran 13,2 persen. Kondisi ini mendorong perusahaan asuransi kesehatan menyesuaikan harga produk, bahkan memicu kenaikan premi hingga 100 persen pada beberapa produk tertentu.

Sebagai respons, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkenalkan regulasi baru, termasuk penerapan skema co-pay bagi pemegang polis serta kewajiban pembentukan dewan penasihat kesehatan di setiap perusahaan asuransi. Kebijakan ini bertujuan memperkuat tata kelola dan pengawasan industri asuransi kesehatan di tengah kompleksitas ekosistem layanan kesehatan.

Sigal menegaskan komitmen perusahaannya terhadap pengembangan layanan kesehatan digital di Indonesia. Ia menambahkan bahwa fokus Medix tidak hanya pada peningkatan hasil kesehatan, tetapi juga pada pengendalian inflasi biaya medis dan keberlanjutan sistem kesehatan.

“Dari perspektif ini, AI membuka peluang yang sangat besar. Saat ini kami bekerja sama dengan berbagai mitra untuk mengimplementasikan solusi inovatif yang benar-benar memberikan dampak nyata bagi pasien, penyedia layanan, dan ekosistem kesehatan secara keseluruhan,” kata Sigal.

Menurut Sigal, Medix telah memanfaatkan AI dan analitik data yang dikombinasikan dengan pendekatan human-centered untuk menghadirkan layanan kesehatan virtual yang personal, mulai dari navigasi perawatan, pencegahan, dukungan kesehatan mental, hingga akses ke keahlian medis global. Selain itu, Medix juga menelaah penggunaan AI berbasis large language model sebagai clinical decision support untuk membantu tenaga medis meminimalkan bias dan kesalahan dalam pengambilan keputusan klinis.

Baca Juga :  Perbaikan Layanan dan Cepat Tanggap Harus Dilakukan

“Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tenaga medis yang didukung solusi AI cenderung melakukan lebih sedikit kesalahan, baik dalam proses diagnosis maupun rekomendasi pengobatan,” jelasnya.Lebih lanjut, Medix mengembangkan perangkat berbasis AI untuk mendukung berbagai bidang medis, mulai dari radiologi dan patologi, analisis data genetik, validasi pedoman medis, hingga penyaringan uji klinis global.

“Perangkat ini bukan hanya melengkapi tim medis kami, tetapi juga memberdayakan mereka untuk menghasilkan keputusan terbaik bagi pasien,” ucap Sigal. Sementara itu, Chief Business Officer Medix Global, Jonathan Sternberg, menekankan pentingnya kualitas dan transparansi dalam layanan kesehatan.

“Solusi berbasis AI dan data mampu mentransformasi seluruh rantai nilai layanan kesehatan dan asuransi. Kita perlu beralih dari sekadar mengejar tren inflasi biaya medis menuju pemberdayaan masyarakat agar dapat mengelola kesehatannya secara personal, transparan, dan berkelanjutan,” katanya.

Jonathan juga menyoroti bahwa banyak pasien di Indonesia sebenarnya dapat memperoleh layanan berkualitas dengan biaya lebih rendah di dalam negeri, namun masih terkendala kepercayaan dan akses. “Salah satu misi Medix adalah mendukung lanskap layanan kesehatan lokal dan mengurangi kebutuhan berobat ke luar negeri,” pungkasnya.

JAKARTA- Transformasi digital kesehatan berbasis kecerdasan buatan (AI) dinilai menjadi salah satu kunci untuk menekan laju inflasi biaya medis Indonesia yang terus meningkat dan telah mencapai hampir 20 persen pada 2025. Founder dan CEO Medix Global, Sigal Atzmon, mengatakan, penerapan AI yang terarah dan bertanggung jawab diyakini mampu meningkatkan efisiensi layanan kesehatan sekaligus mengurangi pemborosan biaya medis yang selama ini membebani masyarakat dan industri asuransi.

Dengan posisi sebagai ekonomi terbesar di kawasan dan anggota G20, ia menyebut bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan sistem kesehatan yang berkelanjutan. Meski secara nominal berada di peringkat ke-17 dunia, daya beli masyarakat Indonesia bahkan melampaui sejumlah negara maju seperti Inggris dan Prancis.

Namun, di balik capaian ekonomi tersebut, sistem kesehatan nasional masih menghadapi tantangan serius akibat inflasi biaya medis yang terus menanjak. Kondisi ini berisiko menghambat akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang layak, sekaligus menekan keberlanjutan industri asuransi.

“Medix memandang situasi ini sebagai tantangan sekaligus peluang untuk menghadirkan inovasi, terutama melalui pemanfaatan AI, penguatan kapabilitas penyedia layanan kesehatan lokal, serta dukungan kebijakan regulator,” ujar Sigal kepada wartawan, Jumat (16/1). Ia menegaskan bahwa perkembangan AI dan digitalisasi di sektor kesehatan Indonesia telah menunjukkan dampak nyata.

Berbagai inisiatif dari pemerintah dan sektor swasta terus digulirkan untuk meningkatkan kualitas diagnosis, pengelolaan penyakit kronis, efisiensi administrasi, hingga perluasan akses layanan kesehatan. Reformasi regulasi melalui UU Cipta Kerja serta perluasan cakupan BPJS juga mendorong kolaborasi yang semakin erat antara sektor publik dan swasta.

Baca Juga :  Waspada Masuknya Superflu

Meski demikian, tantangan struktural masih membayangi, mulai dari ketimpangan akses layanan kesehatan, keterbatasan tenaga kesehatan, kurangnya transparansi dan standarisasi data, hingga tingginya biaya perawatan. Dalam konteks ini, penerapan AI yang tepat sasaran dinilai mampu membantu mengurangi berbagai hambatan tersebut.

Berdasarkan sejumlah sumber, inflasi biaya medis di Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 19,8 persen, jauh melampaui rata-rata kenaikan di negara Asia lainnya yang berada di kisaran 13,2 persen. Kondisi ini mendorong perusahaan asuransi kesehatan menyesuaikan harga produk, bahkan memicu kenaikan premi hingga 100 persen pada beberapa produk tertentu.

Sebagai respons, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkenalkan regulasi baru, termasuk penerapan skema co-pay bagi pemegang polis serta kewajiban pembentukan dewan penasihat kesehatan di setiap perusahaan asuransi. Kebijakan ini bertujuan memperkuat tata kelola dan pengawasan industri asuransi kesehatan di tengah kompleksitas ekosistem layanan kesehatan.

Sigal menegaskan komitmen perusahaannya terhadap pengembangan layanan kesehatan digital di Indonesia. Ia menambahkan bahwa fokus Medix tidak hanya pada peningkatan hasil kesehatan, tetapi juga pada pengendalian inflasi biaya medis dan keberlanjutan sistem kesehatan.

“Dari perspektif ini, AI membuka peluang yang sangat besar. Saat ini kami bekerja sama dengan berbagai mitra untuk mengimplementasikan solusi inovatif yang benar-benar memberikan dampak nyata bagi pasien, penyedia layanan, dan ekosistem kesehatan secara keseluruhan,” kata Sigal.

Menurut Sigal, Medix telah memanfaatkan AI dan analitik data yang dikombinasikan dengan pendekatan human-centered untuk menghadirkan layanan kesehatan virtual yang personal, mulai dari navigasi perawatan, pencegahan, dukungan kesehatan mental, hingga akses ke keahlian medis global. Selain itu, Medix juga menelaah penggunaan AI berbasis large language model sebagai clinical decision support untuk membantu tenaga medis meminimalkan bias dan kesalahan dalam pengambilan keputusan klinis.

Baca Juga :  Perbaikan Layanan dan Cepat Tanggap Harus Dilakukan

“Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tenaga medis yang didukung solusi AI cenderung melakukan lebih sedikit kesalahan, baik dalam proses diagnosis maupun rekomendasi pengobatan,” jelasnya.Lebih lanjut, Medix mengembangkan perangkat berbasis AI untuk mendukung berbagai bidang medis, mulai dari radiologi dan patologi, analisis data genetik, validasi pedoman medis, hingga penyaringan uji klinis global.

“Perangkat ini bukan hanya melengkapi tim medis kami, tetapi juga memberdayakan mereka untuk menghasilkan keputusan terbaik bagi pasien,” ucap Sigal. Sementara itu, Chief Business Officer Medix Global, Jonathan Sternberg, menekankan pentingnya kualitas dan transparansi dalam layanan kesehatan.

“Solusi berbasis AI dan data mampu mentransformasi seluruh rantai nilai layanan kesehatan dan asuransi. Kita perlu beralih dari sekadar mengejar tren inflasi biaya medis menuju pemberdayaan masyarakat agar dapat mengelola kesehatannya secara personal, transparan, dan berkelanjutan,” katanya.

Jonathan juga menyoroti bahwa banyak pasien di Indonesia sebenarnya dapat memperoleh layanan berkualitas dengan biaya lebih rendah di dalam negeri, namun masih terkendala kepercayaan dan akses. “Salah satu misi Medix adalah mendukung lanskap layanan kesehatan lokal dan mengurangi kebutuhan berobat ke luar negeri,” pungkasnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya