Defisit APBN Rp240 Triliun, Pemerintah Perlu Waspada

Rahma juga mengingatkan potensi tekanan pada kuartal II-2026. Periode tersebut menjadi fase krusial bagi stabilitas ekonomi. Jika dorongan belanja besar di awal tahun tidak berlanjut, ekonomi berpotensi mengalami hard landing, yakni perlambatan tajam setelah sempat dipacu kuat pada kuartal I.

“Hard landing menggambarkan kondisi ketika ekonomi yang dipacu kencang pada kuartal I melalui belanja besar tiba-tiba melambat signifikan pada kuartal II karena kehabisan dorongan,” terangnya.

Sebelumnya, pemerintah melaporkan kinerja APBN hingga kuartal I 2026 mencatat defisit Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, kondisi tersebut masih dalam koridor normal karena desain APBN memang bersifat defisit. Pendapatan negara hingga akhir Maret tercatat Rp 574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen. Sementara itu, realisasi belanja negara meningkat lebih cepat menjadi Rp 815 triliun atau naik 31,4 persen.

Baca Juga :  129 Jurnalis Tewas Sepanjang 2025, Dua Per tiga Dibunuh saat Konflik

“Dengan demikian defisit APBN sebesar Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Jadi ketika ada defisit, masyarakat tidak perlu kaget karena anggaran kita memang didesain defisit,” ujar Purbaya.

Dia menambahkan, rata-rata belanja pemerintah pada kuartal I biasanya sekitar 17 persen dari APBN, sedangkan tahun ini realisasinya sudah mencapai 21,2 persen. “Ini memang percepatan belanja yang dirancang sejak awal agar memberikan kontribusi kuat pada pertumbuhan PDB,” pungkasnya. (mim/dio/jpg)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Rahma juga mengingatkan potensi tekanan pada kuartal II-2026. Periode tersebut menjadi fase krusial bagi stabilitas ekonomi. Jika dorongan belanja besar di awal tahun tidak berlanjut, ekonomi berpotensi mengalami hard landing, yakni perlambatan tajam setelah sempat dipacu kuat pada kuartal I.

“Hard landing menggambarkan kondisi ketika ekonomi yang dipacu kencang pada kuartal I melalui belanja besar tiba-tiba melambat signifikan pada kuartal II karena kehabisan dorongan,” terangnya.

Sebelumnya, pemerintah melaporkan kinerja APBN hingga kuartal I 2026 mencatat defisit Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, kondisi tersebut masih dalam koridor normal karena desain APBN memang bersifat defisit. Pendapatan negara hingga akhir Maret tercatat Rp 574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen. Sementara itu, realisasi belanja negara meningkat lebih cepat menjadi Rp 815 triliun atau naik 31,4 persen.

Baca Juga :  Dana Daerah Diingatkan Tak Boleh Mengendap

“Dengan demikian defisit APBN sebesar Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Jadi ketika ada defisit, masyarakat tidak perlu kaget karena anggaran kita memang didesain defisit,” ujar Purbaya.

Dia menambahkan, rata-rata belanja pemerintah pada kuartal I biasanya sekitar 17 persen dari APBN, sedangkan tahun ini realisasinya sudah mencapai 21,2 persen. “Ini memang percepatan belanja yang dirancang sejak awal agar memberikan kontribusi kuat pada pertumbuhan PDB,” pungkasnya. (mim/dio/jpg)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya