Sunday, February 8, 2026
26.3 C
Jayapura

277 Kasus Baru Kanker Ditemukan di RSUD Jayapura

Data Tahun 2025 Dengan Usia Produktif Paling Terdampak

JAYAPURA– Disaat kondisi managemen rumah sakit yang belum 100 pesen sehat, ternyata angka penderita kanker yang ditangani di RSUD Dok II terbilang tinggi. Pihak rumah sakit mencatat sebanyak 277 kasus baru kanker yang terdeteksi melalui layanan kemoterapi sepanjang tahun 2025. Data tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Berdasarkan catatan Unit Kemoterapi RSUD Jayapura, jenis kanker yang paling banyak ditemukan adalah kanker payudara sebanyak 95 kasus, diikuti kanker mulut 78 kasus, kanker serviks 31 kasus, kanker paru-paru 25 kasus, kanker rekti 18 kasus, limfoma non-Hodgkin 5 kasus, kanker kolon 4 kasus, kanker leher 2 kasus, kanker nasofaring (KNF) 1 kasus, serta kanker lainnya 18 kasus.

Kepala Unit Kemoterapi RSUD Jayapura, dr Jan Frits Siauta, SpB Subsp (K), Finacs menjelaskan, jumlah tersebut hanya berasal dari pasien yang menjalani pengobatan di RSUD Jayapura. Menurutnya, angka kejadian kanker di Papua diperkirakan lebih tinggi karena tidak semua pasien tercatat atau tertangani di rumah sakit rujukan tersebut. “Data ini hanya berasal dari RSUD Jayapura. Jumlah kasus di lapangan kemungkinan jauh lebih besar,” ucapnya kepada Cenderawasih Pos, Kamis (5/2).

Baca Juga :  Gaji Pekerja akan Dipotong Lagi untuk Program Pensiun Tambahan Wajib

Sebagai perbandingan, pada tahun 2020 RSUD Jayapura mencatat 40 kasus kanker mulut, 62 kanker payudara, 16 kanker saluran pencernaan, 13 kanker serviks, 10 kanker ovarium, 9 kanker paru-paru, 4 kanker leher, 1 KNF, 2 limfoma non-Hodgkin, serta 10 kanker lainnya. Menurut dr. Jan Frits, peningkatan kasus dari tahun ke tahun tidak hanya mencerminkan kenaikan angka kejadian, tetapi juga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, semakin terbukanya akses informasi kesehatan ke daerah-daerah, serta bertambahnya jumlah tenaga medis di Papua.

Ia juga menyoroti pergeseran karakteristik pasien kanker. Saat ini, sebagian besar penderita berada pada usia produktif. Bahkan, kanker payudara yang secara teori lebih sering terjadi pada usia di atas 50 tahun, di Papua justru banyak ditemukan pada pasien berusia di bawah 50 tahun.

Baca Juga :  Tiga Dokter Dirawat Akibat Disiram Bubur Panas oleh Pasien Mabuk

Terkait penyebab, dr. Jan menjelaskan bahwa kanker dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama lingkungan dan perubahan gaya hidup. Perubahan pola konsumsi, kebiasaan mengonsumsi makanan instan, kurangnya aktivitas fisik, serta paparan lingkungan yang tercemar dinilai turut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kanker.

Data Tahun 2025 Dengan Usia Produktif Paling Terdampak

JAYAPURA– Disaat kondisi managemen rumah sakit yang belum 100 pesen sehat, ternyata angka penderita kanker yang ditangani di RSUD Dok II terbilang tinggi. Pihak rumah sakit mencatat sebanyak 277 kasus baru kanker yang terdeteksi melalui layanan kemoterapi sepanjang tahun 2025. Data tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Berdasarkan catatan Unit Kemoterapi RSUD Jayapura, jenis kanker yang paling banyak ditemukan adalah kanker payudara sebanyak 95 kasus, diikuti kanker mulut 78 kasus, kanker serviks 31 kasus, kanker paru-paru 25 kasus, kanker rekti 18 kasus, limfoma non-Hodgkin 5 kasus, kanker kolon 4 kasus, kanker leher 2 kasus, kanker nasofaring (KNF) 1 kasus, serta kanker lainnya 18 kasus.

Kepala Unit Kemoterapi RSUD Jayapura, dr Jan Frits Siauta, SpB Subsp (K), Finacs menjelaskan, jumlah tersebut hanya berasal dari pasien yang menjalani pengobatan di RSUD Jayapura. Menurutnya, angka kejadian kanker di Papua diperkirakan lebih tinggi karena tidak semua pasien tercatat atau tertangani di rumah sakit rujukan tersebut. “Data ini hanya berasal dari RSUD Jayapura. Jumlah kasus di lapangan kemungkinan jauh lebih besar,” ucapnya kepada Cenderawasih Pos, Kamis (5/2).

Baca Juga :  Menanti Penyelesaian Sejumlah Masalah di Papua

Sebagai perbandingan, pada tahun 2020 RSUD Jayapura mencatat 40 kasus kanker mulut, 62 kanker payudara, 16 kanker saluran pencernaan, 13 kanker serviks, 10 kanker ovarium, 9 kanker paru-paru, 4 kanker leher, 1 KNF, 2 limfoma non-Hodgkin, serta 10 kanker lainnya. Menurut dr. Jan Frits, peningkatan kasus dari tahun ke tahun tidak hanya mencerminkan kenaikan angka kejadian, tetapi juga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, semakin terbukanya akses informasi kesehatan ke daerah-daerah, serta bertambahnya jumlah tenaga medis di Papua.

Ia juga menyoroti pergeseran karakteristik pasien kanker. Saat ini, sebagian besar penderita berada pada usia produktif. Bahkan, kanker payudara yang secara teori lebih sering terjadi pada usia di atas 50 tahun, di Papua justru banyak ditemukan pada pasien berusia di bawah 50 tahun.

Baca Juga :  456 Peserta Lomba Pondok Natal, Siap Perebutkan Hadiah Ratusan Juta Rupiah

Terkait penyebab, dr. Jan menjelaskan bahwa kanker dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama lingkungan dan perubahan gaya hidup. Perubahan pola konsumsi, kebiasaan mengonsumsi makanan instan, kurangnya aktivitas fisik, serta paparan lingkungan yang tercemar dinilai turut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kanker.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya