Siap-siap, Puncak Kemarau 2026 Tiba

Curah hujan kategori tinggi diprediksi mulai muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026. Kondisi cuaca kering berbanding lurus dengan peningkatan titik panas (hotspot). Hingga 29 Juli 2026, BMKG telah mendeteksi 5.019 titik panas di wilayah Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Kewaspadaan penuh diimbau menjelang puncak kemarau Agustus hingga September. Kawasan rawan yaitu Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.

Di Kalimantan Barat, sebaran partikulat asap karhutla sudah mulai terdeteksi lewat pantauan satelit. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut indeks bulanan Nino 3.4 pada akhir Juni mencapai 1,56. Angka tersebut menandakan intensitas El Nino sudah melewati ambang batas kategori kuat (>1,5). Di sisi lain, suhu permukaan laut Samudra Hindia tercatat -0,387, mengindikasikan peluang lahirnya IOD Positif.

Baca Juga :  BWS dan BMKG Beda Persepsi Soal Kemarau

“Namun, perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau. Meskipun El Niño terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya terfokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia,” jelas Ardhasena. Untuk memicu hujan di area rawan, penyemaian awan terus dipacu. Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menegaskan OMC tengah berjalan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah.

Pelaksanaan OMC didukung oleh Kementerian Kehutanan dan BNPB. Posko OMC juga dibuka di Pekanbaru untuk mengamankan wilayah Riau serta di Bandung sebagai upaya menanggulangi kekeringan di Jawa Barat.

“Penyemaian awan melalui OMC merupakan upaya komplementer untuk mengoptimalkan potensi hujan alami sebelum kekeringan parah terjadi. Namun, ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan OMC, pemadaman titik api secara langsung di darat menjadi tumpuan utama,” kata Seto.Sepanjang 2026, BMKG telah melakukan 17 kali OMC guna mitigasi karhutla di berbagai area rawan, termasuk Aceh, Riau, Jambi, Sumsel, Kepulauan Riau, Kalbar, Kalteng, hingga Kalsel. Operasi serupa juga difokuskan untuk mengisi cadangan air di waduk dan danau strategis.

Baca Juga :  Hujan Deras, Daerah Rawan Banjir Kembali Tergenang 

Curah hujan kategori tinggi diprediksi mulai muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026. Kondisi cuaca kering berbanding lurus dengan peningkatan titik panas (hotspot). Hingga 29 Juli 2026, BMKG telah mendeteksi 5.019 titik panas di wilayah Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Kewaspadaan penuh diimbau menjelang puncak kemarau Agustus hingga September. Kawasan rawan yaitu Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.

Di Kalimantan Barat, sebaran partikulat asap karhutla sudah mulai terdeteksi lewat pantauan satelit. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut indeks bulanan Nino 3.4 pada akhir Juni mencapai 1,56. Angka tersebut menandakan intensitas El Nino sudah melewati ambang batas kategori kuat (>1,5). Di sisi lain, suhu permukaan laut Samudra Hindia tercatat -0,387, mengindikasikan peluang lahirnya IOD Positif.

Baca Juga :  Rupiah Nyaris Tembus Rp 17 Ribu, Dua Masalah yang Jadi Penyebab

“Namun, perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau. Meskipun El Niño terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya terfokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia,” jelas Ardhasena. Untuk memicu hujan di area rawan, penyemaian awan terus dipacu. Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menegaskan OMC tengah berjalan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah.

Pelaksanaan OMC didukung oleh Kementerian Kehutanan dan BNPB. Posko OMC juga dibuka di Pekanbaru untuk mengamankan wilayah Riau serta di Bandung sebagai upaya menanggulangi kekeringan di Jawa Barat.

“Penyemaian awan melalui OMC merupakan upaya komplementer untuk mengoptimalkan potensi hujan alami sebelum kekeringan parah terjadi. Namun, ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan OMC, pemadaman titik api secara langsung di darat menjadi tumpuan utama,” kata Seto.Sepanjang 2026, BMKG telah melakukan 17 kali OMC guna mitigasi karhutla di berbagai area rawan, termasuk Aceh, Riau, Jambi, Sumsel, Kepulauan Riau, Kalbar, Kalteng, hingga Kalsel. Operasi serupa juga difokuskan untuk mengisi cadangan air di waduk dan danau strategis.

Baca Juga :  Di Balik Perubahan Cuaca Ada Peringatan untuk Manusia, Simak Penjelasannya

Berita Terbaru

Artikel Lainnya