JAYAPURA – Euforia malam pergantian tahun nampaknya tak bisa dihindari. Meski telah ada imbauan dari pihak kepolisian maupun Wali Kota Jayapura untuk tidak menyalakan pesatan atau kembang api guna menunjukkan simpati terhadap korban di wilayah Sumatera dan Aceh namun “pesta” tetap dilakukan.
Pesta kembang api serta letusan petasan mewarnai malam pergantian tahun 2025 ke 2026 di Kota Jayapura dan sekitarnya. Berdasarkan pantauan Cenderawasih Pos dibeberapa tempat, saat waktu menunjukkan pukul 24:00 WIT lontaran kembang api warna-warni memenuhi angkasa di sejumlah titik di tengah kota.
Warga Jayapura tetap merayakan malam pergantian tahun dengan gayanya masing-masing. Ada yang sekedar berkumpul kemudian membakar ikan, ada yang konfoi sambil menggeber knalpot bersuara kaleng, ada yang memutar musik layaknya sound horeg termasuk ada yang pesta miras hingga tertidur di pinggiran jalan bahkan di selokan.
Tak hanya itu, dampak dari minuman keras juga membuat situasi pergantian tahun menjadi tidak nyaman. Terjadi bentrok antar warga di dua lokasi yakni di Dok IX Jayapura Utara dan di Polimak, Jayapura Selatan.
Di dua lokasi ini akses jalan sampai harus ditutup akibat saling serang. Yang di Polimak Polisi harus diturunkan lengkap dengan atribut PHHĀ dan melepas tembakan gas air mata.
Di Polimak juga sempat jatuh korban yang harus dilarikan ke rumah sakit akibat dibacok. Penyebabnya juga sepele, diduga karena Hp hilang dan terjadi ribut-ribut dan baku hantam.
Dan mirisnya, di malam pergantian tahun juga terjadi sebuah insiden yang tak mengenakkan di Kabupaten Sarmi. Seorang ayah dilaporkan menganiaya sang anak dan akhirnya tewas. Pelaku berinisial OJ dan korban merupakan anak kandungnya atas nama Toni Jober.
Kejadian ini terjadi sekira pukul 18.00 WIT di Kampung Nengke dimana diduga pelaku kesal karena korban jika mabuk selalu membuat keributan.
“Korban sering mabuk dan buat keributan,” ujar Vicky salah satu warga Sarmi kepada Cenderawasih Pos.
JAYAPURA – Euforia malam pergantian tahun nampaknya tak bisa dihindari. Meski telah ada imbauan dari pihak kepolisian maupun Wali Kota Jayapura untuk tidak menyalakan pesatan atau kembang api guna menunjukkan simpati terhadap korban di wilayah Sumatera dan Aceh namun “pesta” tetap dilakukan.
Pesta kembang api serta letusan petasan mewarnai malam pergantian tahun 2025 ke 2026 di Kota Jayapura dan sekitarnya. Berdasarkan pantauan Cenderawasih Pos dibeberapa tempat, saat waktu menunjukkan pukul 24:00 WIT lontaran kembang api warna-warni memenuhi angkasa di sejumlah titik di tengah kota.
Warga Jayapura tetap merayakan malam pergantian tahun dengan gayanya masing-masing. Ada yang sekedar berkumpul kemudian membakar ikan, ada yang konfoi sambil menggeber knalpot bersuara kaleng, ada yang memutar musik layaknya sound horeg termasuk ada yang pesta miras hingga tertidur di pinggiran jalan bahkan di selokan.
Tak hanya itu, dampak dari minuman keras juga membuat situasi pergantian tahun menjadi tidak nyaman. Terjadi bentrok antar warga di dua lokasi yakni di Dok IX Jayapura Utara dan di Polimak, Jayapura Selatan.
Di dua lokasi ini akses jalan sampai harus ditutup akibat saling serang. Yang di Polimak Polisi harus diturunkan lengkap dengan atribut PHHĀ dan melepas tembakan gas air mata.
Di Polimak juga sempat jatuh korban yang harus dilarikan ke rumah sakit akibat dibacok. Penyebabnya juga sepele, diduga karena Hp hilang dan terjadi ribut-ribut dan baku hantam.
Dan mirisnya, di malam pergantian tahun juga terjadi sebuah insiden yang tak mengenakkan di Kabupaten Sarmi. Seorang ayah dilaporkan menganiaya sang anak dan akhirnya tewas. Pelaku berinisial OJ dan korban merupakan anak kandungnya atas nama Toni Jober.
Kejadian ini terjadi sekira pukul 18.00 WIT di Kampung Nengke dimana diduga pelaku kesal karena korban jika mabuk selalu membuat keributan.
“Korban sering mabuk dan buat keributan,” ujar Vicky salah satu warga Sarmi kepada Cenderawasih Pos.