Saturday, January 31, 2026
25.2 C
Jayapura

YPK Papua Siap Adopsi Pendidikan Berpola Asrama 

JAYAPURA-Badan Pengurus Yayasan Pendidikan Kristen (BP YPK) di Tanah Papua terus berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah melakukan studi tiru ke sejumlah sekolah unggulan di Jakarta, seperti SMAK Penabur Gading Serpong (Yayasan Penabur, Gading Serpong Jakarta), dan Sekolah Lentera Harapan Curug (Yayasan Pelita Harapan).

  Kegiatan yang berlangsung selama empat hari mulai 13-17 Januari 2025 tersebut dipimpin oleh Ketua Dewan Pengawas BP YPK, Kristhina Luluporo Mano. Studi ini bertujuan mengadopsi program-program unggulan, salah satunya pendidikan berpola asrama (boarding school), untuk diterapkan di sekolah-sekolah YPK di Tanah Papua.

   Menurut Kristina, pendidikan berpola asrama memiliki banyak manfaat. Dari sisi sosial, pola ini dapat meningkatkan kemandirian dan disiplin siswa. Selain itu, siswa akan belajar hidup bersama, berbagi, serta menghormati perbedaan.

Baca Juga :  Perdana Ke Supiori, Pj Gubernur Papua Ingin Rasakan Sensasi Ke Pulau Mapia

   “Pendidikan pola asrama atau boarding school ini mampu memberikan pendidikan holistik, yang mengedepankan intelektual, karakter, dan nilai-nilai Kristiani,” ujarnya Selasa (21/1).

  Dari segi akademis, lingkungan asrama dinilai dapat memaksimalkan waktu belajar siswa, sehingga berkontribusi pada peningkatan mutu pendidikan. Namun, penerapan pola pendidikan ini tidak dapat dilakukan secara instan. Kristina menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak, terutama Sinode GKI di Tanah Papua, sebagai pemilik dari yauasan tersebut.

   Sinode GKI diharapkan memberikan perhatian penuh dalam mendukung perubahan ini, apalagi setelah penyatuan tiga yayasan yakni Yayasan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) GKI I.S. Kijne, Universitas Ottow Geisler, dan YPK. “Pendidikan berpola asrama membutuhkan berbagai kesiapan, mulai dari sarana dan prasarana, penyediaan tenaga pendidik yang berkualitas, hingga kesejahteraan mereka,” jelasnya.

Baca Juga :  Kehadiran Transportasi Online Tidak Dapat Dibendung

JAYAPURA-Badan Pengurus Yayasan Pendidikan Kristen (BP YPK) di Tanah Papua terus berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah melakukan studi tiru ke sejumlah sekolah unggulan di Jakarta, seperti SMAK Penabur Gading Serpong (Yayasan Penabur, Gading Serpong Jakarta), dan Sekolah Lentera Harapan Curug (Yayasan Pelita Harapan).

  Kegiatan yang berlangsung selama empat hari mulai 13-17 Januari 2025 tersebut dipimpin oleh Ketua Dewan Pengawas BP YPK, Kristhina Luluporo Mano. Studi ini bertujuan mengadopsi program-program unggulan, salah satunya pendidikan berpola asrama (boarding school), untuk diterapkan di sekolah-sekolah YPK di Tanah Papua.

   Menurut Kristina, pendidikan berpola asrama memiliki banyak manfaat. Dari sisi sosial, pola ini dapat meningkatkan kemandirian dan disiplin siswa. Selain itu, siswa akan belajar hidup bersama, berbagi, serta menghormati perbedaan.

Baca Juga :  Cabor Angkat Besi Tambah Medali Emas Papua

   “Pendidikan pola asrama atau boarding school ini mampu memberikan pendidikan holistik, yang mengedepankan intelektual, karakter, dan nilai-nilai Kristiani,” ujarnya Selasa (21/1).

  Dari segi akademis, lingkungan asrama dinilai dapat memaksimalkan waktu belajar siswa, sehingga berkontribusi pada peningkatan mutu pendidikan. Namun, penerapan pola pendidikan ini tidak dapat dilakukan secara instan. Kristina menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak, terutama Sinode GKI di Tanah Papua, sebagai pemilik dari yauasan tersebut.

   Sinode GKI diharapkan memberikan perhatian penuh dalam mendukung perubahan ini, apalagi setelah penyatuan tiga yayasan yakni Yayasan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) GKI I.S. Kijne, Universitas Ottow Geisler, dan YPK. “Pendidikan berpola asrama membutuhkan berbagai kesiapan, mulai dari sarana dan prasarana, penyediaan tenaga pendidik yang berkualitas, hingga kesejahteraan mereka,” jelasnya.

Baca Juga :  UN Kembali Digelar Baru Sebatas Wacana?

Berita Terbaru

Artikel Lainnya