Ia juga menyentuh langsung imbauan kepada para penggerak aksi dan tenaga pengajar agar tetap berpijak pada fakta tanpa mengatasnamakan seluruh entitas mahasiswa. “Saya mengimbau kepada seluruh dosen, termasuk Dokter Samdey Rumbino, serta seluruh kelompok mahasiswa retaker agar tidak menggiring opini yang memberikan kesan bahwa seluruh mahasiswa profesi atau retaker mendukung tindakan tersebut. Setiap pernyataan hendaknya didasarkan pada fakta dan tidak mengatasnamakan seluruh mahasiswa tanpa mandat atau persetujuan yang jelas,” tambahnya.
Menurut Kansiskoris, kritik terhadap kebijakan pimpinan merupakan hal yang lumrah dalam budaya demokrasi kampus, namun batas-batas kepatutan harus tetap dijaga. Secara tegas ia menjelaskan bahwa kritik terhadap kebijakan dan serangan terhadap pribadi harus dibedakan.
Jelasnya, kritik akademik adalah bagian dari demokrasi kampus, sedangkan intimidasi, provokasi, perusakan fasilitas, penghinaan, ataupun tindakan yang mengarah pada kekerasan bukanlah bentuk penyelesaian masalah akademik yang patut. Sebagai calon dokter, kita sedang dipersiapkan menjadi tenaga profesional yang dituntut memiliki integritas, pengendalian diri, dan menghormati aturan.
Di tengah polemik yang terjadi, Forum Koordinasi justru menilai bahwa kepemimpinan Dekan FK Uncen saat ini telah membawa sejumlah kemajuan dan terobosan nyata bagi mahasiswa, khususnya kelompok retaker dan pengembangan pendidikan kedokteran di Tanah Papua.
Kansiskoris membeberkan lima poin penting kebijakan dekan yang dinilai sangat berpihak pada penyelesaian kendala mahasiswa dan pembangunan kampus: diantaranya adalah: Pertama, Program Khusus (Progsus) Mahasiswa Masa Studi Panjang: Dekan FK Uncen dinilai aktif memberikan solusi bagi mahasiswa profesi (co-ass) angkatan lama melalui program khusus dan ujian komisi, sehingga mereka dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu dan memenuhi syarat mengikuti UKMPPD/UKNPDPD.
Kedua, Perjuangan Ujian Afirmasi ke Pusat: Pada tahun 2025, Dekan FK Uncen secara aktif memperjuangkan kebijakan ujian afirmasi plus bagi mahasiswa Papua ke Panitia Pusat. Usulan agar ujian digelar beberapa kali dalam setahun membuahkan hasil signifikan, di mana pada pelaksanaan November 2025 tercatat sebanyak 83 peserta retaker berhasil lulus.