MIMIKA – Suasana khidmat menyelimuti halaman Perguruan Muhammadiyah, Jalan Bhayangkara, Distrik Mimika Baru, pada Jumat (20/3) pagi.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustad Andika Setyo Budi dalam khotbahnya menekankan bahwa Idul fitri bukan sekadar perayaan rutin, melainkan momentum pembuktian atas keteguhan iman.
Dalam pesan sentralnya, Ustad Andika membedah makna “kemenangan” yang diraih umat Muslim setelah sebulan penuh menempa diri dalam madrasah Ramadan.
Yang pertama adalah keberhasilan membersihkan jiwa dari penyakit hati seperti syirik, dengki, dan kesombongan. Pribadi yang menang adalah mereka yang mampu membentengi diri dari kemaksiatan.
Kedua, bahwa lahirnya kepekaan sosial dan empati yang tinggi. Melalui rasa lapar dan dahaga di bulan puasa, umat diajak peduli terhadap kesulitan sesama dan menjadi pribadi yang rendah hati. Dan yang ketiga yaitu terbentuknya muslim yang cerdas dan visioner. Mampu membaca tantangan zaman dan menjadi solusi (pemberi manfaat) bagi lingkungan sekitarnya.
MIMIKA – Suasana khidmat menyelimuti halaman Perguruan Muhammadiyah, Jalan Bhayangkara, Distrik Mimika Baru, pada Jumat (20/3) pagi.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustad Andika Setyo Budi dalam khotbahnya menekankan bahwa Idul fitri bukan sekadar perayaan rutin, melainkan momentum pembuktian atas keteguhan iman.
Dalam pesan sentralnya, Ustad Andika membedah makna “kemenangan” yang diraih umat Muslim setelah sebulan penuh menempa diri dalam madrasah Ramadan.
Yang pertama adalah keberhasilan membersihkan jiwa dari penyakit hati seperti syirik, dengki, dan kesombongan. Pribadi yang menang adalah mereka yang mampu membentengi diri dari kemaksiatan.
Kedua, bahwa lahirnya kepekaan sosial dan empati yang tinggi. Melalui rasa lapar dan dahaga di bulan puasa, umat diajak peduli terhadap kesulitan sesama dan menjadi pribadi yang rendah hati. Dan yang ketiga yaitu terbentuknya muslim yang cerdas dan visioner. Mampu membaca tantangan zaman dan menjadi solusi (pemberi manfaat) bagi lingkungan sekitarnya.