Masyarakat  Kemtuk Tolak  Investasi Sawit di  Lembah Grime

SENTANI -Sejumlah tokoh  Masyarakat Adat Kemtuk di Lembah Grime Nawa Kabupaten Jayapura secara tegas menolak segala bentuk investasi perkebunan kelapa sawit di  tanah adat mereka Lembah Grime Nawa.

Pernyataan sikap masyarakat adat Kemtuk tersebut disampaikan oleh tokoh -tokoh masyarakat adat Kemtuk yang berlangsung di Kampung Yanim,  Distrik Kemtuk,  Kabupaten Jayapura.

” Kami masyarakat adat Kemtuk menolak segala bentuk investasi di atas tanah adat kami. Terutama di Lembah Grime Nawa.” tegas Yahya Bayeni Ondoafi Braso, dalam keterangan pers yang diterima media ini, Jumat  (8/7).

Mereka juga meminta pemerintah pusat untuk segera mengembalikan kedaulatan Tanah Adat Mereka di Lembah Grime Nawa kepada masyarakat adat,  karena masyarakat adat hidup dari sumber daya alam yang ada di atas tanah adat mereka.

Baca Juga :  Wakapolres Jayapura Paparkan Data Kamtibmas 2025, Curanmor Masih Dominan

” Pemerintah harus kembalikan kedaulatan atas tanah adat kami. Kami sendiri yang mau mengelola ” ujarnya.

Tokoh Perempuan Kemtuk Costantina Waisiman mengatakan,  perempuan adat Kemtuk bersama masyarakat adat akan mempertahankan tanah adat mereka. Jika tidak ada tanah atau dusun,  anak- anak yang mereka lahirkan tidak memiliki tempat hidup jika tanah dan hutan di rampas oleh investor.

  “Kalau tidak ada tanah, anak- anak kami mau hidup dimana , kami perempuan tidak akan tinggal diam, karena kami perempuan sudah melahirkan anak untuk tinggal di atas tanah ini ” ungkap Costantina Waisima.

Costantina Waisima juga mempertegas pernyataan sikapnya , bahwa apa yang disampaikan di saksikan oleh Tuhan dan leluhur mereka.(roy/ary)

Baca Juga :  Dianiaya Ayah Angkat, Bocah 10 Tahun Tewas

SENTANI -Sejumlah tokoh  Masyarakat Adat Kemtuk di Lembah Grime Nawa Kabupaten Jayapura secara tegas menolak segala bentuk investasi perkebunan kelapa sawit di  tanah adat mereka Lembah Grime Nawa.

Pernyataan sikap masyarakat adat Kemtuk tersebut disampaikan oleh tokoh -tokoh masyarakat adat Kemtuk yang berlangsung di Kampung Yanim,  Distrik Kemtuk,  Kabupaten Jayapura.

” Kami masyarakat adat Kemtuk menolak segala bentuk investasi di atas tanah adat kami. Terutama di Lembah Grime Nawa.” tegas Yahya Bayeni Ondoafi Braso, dalam keterangan pers yang diterima media ini, Jumat  (8/7).

Mereka juga meminta pemerintah pusat untuk segera mengembalikan kedaulatan Tanah Adat Mereka di Lembah Grime Nawa kepada masyarakat adat,  karena masyarakat adat hidup dari sumber daya alam yang ada di atas tanah adat mereka.

Baca Juga :  Bupati Jayapura, Serahkan Bantuan Perikanan Tangkap

” Pemerintah harus kembalikan kedaulatan atas tanah adat kami. Kami sendiri yang mau mengelola ” ujarnya.

Tokoh Perempuan Kemtuk Costantina Waisiman mengatakan,  perempuan adat Kemtuk bersama masyarakat adat akan mempertahankan tanah adat mereka. Jika tidak ada tanah atau dusun,  anak- anak yang mereka lahirkan tidak memiliki tempat hidup jika tanah dan hutan di rampas oleh investor.

  “Kalau tidak ada tanah, anak- anak kami mau hidup dimana , kami perempuan tidak akan tinggal diam, karena kami perempuan sudah melahirkan anak untuk tinggal di atas tanah ini ” ungkap Costantina Waisima.

Costantina Waisima juga mempertegas pernyataan sikapnya , bahwa apa yang disampaikan di saksikan oleh Tuhan dan leluhur mereka.(roy/ary)

Baca Juga :  Persoalan Banjir di Jalan Sentani Kewenangan BWS

Berita Terbaru

Artikel Lainnya